kontan.co.id
banner langganan top
| : WIB | INDIKATOR |
  • EMAS 2.670.000   0   0,00%
  • USD/IDR 17.981   -32,00   -0,18%
  • IDX 5.876   131,22   2,28%
  • KOMPAS100 765   20,79   2,79%
  • LQ45 582   16,29   2,88%
  • ISSI 204   4,37   2,19%
  • IDX30 329   8,59   2,68%
  • IDXHIDIV20 406   11,61   2,94%
  • IDX80 87   2,30   2,72%
  • IDXV30 110   2,89   2,69%
  • IDXQ30 106   3,06   2,97%

Blue Chip Tertekan, Analis Sebut Peluang Rebound Semester II 2026, Cek Pilihan Saham!


Senin, 06 Juli 2026 / 04:20 WIB
Blue Chip Tertekan, Analis Sebut Peluang Rebound Semester II 2026, Cek Pilihan Saham!
ILUSTRASI. Blue Chip Tertekan, Analis Sebut Peluang Rebound Semester II 2026, Cek Pilihan Saham!


Reporter: Yuliana Hema | Editor: Adi Wikanto

KONTAN.CO.ID  – JAKARTA. Pergerakan harga saham blue chip di Bursa Efek Indonesia (BEI) sepanjang semester I 2026 masih tertekan. Meski demikian, sejumlah analis menilai peluang pemulihan pada semester II 2026 tetap terbuka, terutama apabila arus dana asing kembali masuk dan kondisi makroekonomi mulai membaik.

Saham blue chip adalah saham lapis satu yang telah berpengalaman di pasar modal dan memiliki fundamental keuangan yang kuat. Saham blue chip biasanya memiliki kapitalisasi pasar terbesar dan likuiditas tinggi.

Di BEI, saham blue chip biasanya menjadi anggota indeks mayor seperti LQ45. Pergerakan indeks saham unggulan LQ45 masih berada dalam tekanan sepanjang tahun berjalan

Berdasarkan data perdagangan hingga Jumat (3/7/2026), indeks LQ45 terkoreksi 31,28% secara year to date (YtD). Penurunan tersebut hampir sejalan dengan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) yang melemah 32,05% pada periode yang sama.

Tekanan terhadap LQ45 tidak terlepas dari aksi jual investor asing yang masih berlanjut pada saham-saham berkapitalisasi besar. Sepanjang 2026, investor asing tercatat membukukan jual bersih (net sell) sebesar Rp74,42 triliun di seluruh pasar reguler.

Tonton: Korupsi MBG Seret Polisi dan TNI Aktif, Peneliti UGM: Potensi Abuse of Power Sangat Tinggi!

LQ45 Tetap Menjadi Acuan Memilih Saham Blue Chip

Head of Research Kiwoom Sekuritas, Liza Camelia Suryanata, mengatakan indeks LQ45 masih relevan dijadikan acuan awal dalam memilih saham, terutama bagi investor yang mengutamakan likuiditas tinggi dan kualitas fundamental emiten.

Namun menurutnya, investor tidak cukup hanya mengandalkan status saham sebagai anggota LQ45. Seleksi tetap perlu dilakukan dengan mempertimbangkan fundamental perusahaan, valuasi, tata kelola, tingkat free float, hingga sensitivitas terhadap pergerakan nilai tukar rupiah dan suku bunga.

"LQ45 tetap relevan sebagai acuan awal, tetapi bukan satu-satunya filter investasi. Kami mengutamakan saham likuid dengan fundamental kuat dan menghindari value trap," ujar Liza kepada Kontan, Jumat (3/7).

Indeks LQ45 sendiri merupakan kumpulan saham dengan kapitalisasi pasar besar dan tingkat likuiditas tinggi di Bursa Efek Indonesia (BEI). Karena didominasi saham blue chip, pergerakan indeks ini kerap menjadi indikator utama minat investor institusi, termasuk investor asing.

Baca Juga: Rupiah Berpeluang Menguat Terbatas, Tapi Sentimen Domestik Masih Membayangi

Faktor yang Berpotensi Mendorong Rebound LQ45

Liza menilai peluang pemulihan LQ45 pada semester II 2026 masih cukup terbuka, meski penguatannya diperkirakan berlangsung secara selektif.

Sejumlah katalis yang perlu dicermati antara lain stabilisasi nilai tukar rupiah, kembalinya arus dana asing (foreign flow), arah kebijakan suku bunga, hingga perkembangan status Indonesia dalam indeks MSCI.

Dalam skenario dasar Kiwoom Sekuritas, IHSG berpotensi bergerak menuju kisaran 7.250 hingga 7.700 pada akhir 2026 apabila kondisi rupiah lebih stabil dan aliran dana asing kembali positif.

"Rebound kemungkinan hanya terjadi pada saham yang likuid, valuasinya sudah murah, dan earnings masih jelas. Strategi kami tetap akumulasi bertahap atau buy on weakness, bukan mengejar harga secara agresif," jelasnya.

Sektor Perbankan dan Komoditas Berpotensi Memimpin

Menurut Liza, sektor perbankan diperkirakan menjadi motor utama pemulihan apabila kepercayaan investor asing terhadap pasar Indonesia kembali meningkat.

Selain perbankan, sektor logam dan komoditas juga menarik untuk diperhatikan, khususnya emiten yang bergerak di bisnis emas, nikel, dan energi. Prospeknya semakin baik apabila harga komoditas global bertahan tinggi dan pelemahan rupiah masih berlanjut.

Di sisi lain, sektor consumer defensif serta kesehatan diperkirakan mampu menjaga kinerja lebih stabil apabila konsumsi domestik belum sepenuhnya pulih.

Investor juga dapat memperhatikan emiten yang memiliki katalis spesifik, seperti program pembelian kembali saham (buyback), perbaikan laba, maupun aksi korporasi yang berpotensi meningkatkan nilai perusahaan.

Tonton: Kemenkop Gandeng Agrinas, Kelola Sawit Lewat Koperasi Jadi Sorotan

Saham LQ45 Masih Menarik Dikoleksi Bertahap

Investment Advisor Phintraco Sekuritas, Alrich Paskalis, memiliki pandangan serupa. Menurutnya, koreksi tajam pada saham-saham LQ45 lebih banyak dipengaruhi oleh sentimen makro dan penyesuaian valuasi dibandingkan memburuknya fundamental perusahaan.

Secara historis, kata Alrich, pemulihan IHSG hampir selalu diawali oleh penguatan saham-saham blue chip yang menjadi konstituen utama LQ45.

Ketika arus dana asing kembali masuk ke pasar modal Indonesia, saham-saham seperti BBCA, BBRI, BMRI, TLKM, ASII hingga ICBP biasanya menjadi pilihan utama investor institusi.

Ia memperkirakan momentum rebound pada semester kedua akan didukung oleh musim rilis laporan keuangan emiten, valuasi saham blue chip yang semakin menarik, potensi kembalinya foreign flow, serta berbagai reformasi di pasar modal.

Meski demikian, Alrich mengingatkan investor agar tidak melakukan pembelian secara agresif sekaligus.

"Investor sebaiknya melakukan akumulasi bertahap pada saham-saham blue chip dengan fundamental kuat dan valuasi yang sudah berada di bawah rata-rata historis," ujarnya.

Tonton: Hashim Bongkar Dugaan Penyimpangan Program Prabowo, Siapa yang Bermain?

Rekomendasi Saham LQ45 Semester II 2026

Kiwoom Sekuritas merekomendasikan enam saham LQ45 yang layak dicermati pada semester II 2026 karena didukung fundamental yang masih solid, yaitu:

- ANTM
- INCO
- BBRI
- BBNI
- JPFA
- KLBF

Menurut Liza, ANTM, INCO, dan JPFA lebih sesuai bagi investor yang memiliki toleransi risiko lebih tinggi dan ingin memanfaatkan potensi recovery harga.

Sementara itu, BBRI, BBNI, dan KLBF dinilai lebih cocok menjadi portofolio inti karena memiliki fundamental yang relatif kuat, likuiditas tinggi, serta prospek bisnis yang masih menarik di tengah ketidakpastian pasar.



 

Indonesia Incar Rudal BrahMos! India: Pembahasannya Sudah Sangat Maju

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News


Tag


TERBARU

[X]
×