Reporter: Vatrischa Putri Nur | Editor: Yudho Winarto
KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Prospek PT Cisarua Mountain Dairy Tbk (CMRY) pada paruh kedua 2026 dinilai masih positif.
Pertumbuhan volume segmen dairy, inovasi produk, perluasan distribusi, dan ekspansi ekspor diperkirakan menjadi penopang kinerja perseroan.
CMRY mencatatkan kinerja positif sepanjang semester I-2026. Laba bersih perseroan mencapai Rp 1,2 triliun, tumbuh 17,88% secara tahunan (year on year/YoY) dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya sebesar Rp 993,87 miliar.
Dari sisi pendapatan, CMRY membukukan omzet Rp 6,50 triliun pada semester I-2026. Realisasi tersebut meningkat 25,49% YoY dibandingkan pendapatan pada periode yang sama tahun lalu.
Baca Juga: Satu Visi Putra (VISI) Siapkan Private Placement 307,5 Juta Saham
Equity Research Analyst Kiwoom Sekuritas Indonesia Abdul Azis Setyo Wibowo mengatakan, pertumbuhan segmen dairy masih menjadi salah satu penopang utama kinerja CMRY.
Segmen tersebut mencatatkan pertumbuhan dua digit selama empat kuartal berturut-turut. Pada semester I-2026, pendapatan segmen dairy tumbuh 54% YoY menjadi Rp 2,77 triliun.
"Prospek 2H26 kami melihat CMRY masih positif, didukung pertumbuhan volume dairy, inovasi produk, perluasan distribusi, dan ekspor," ujar Azis kepada Kontan, Jumat (21/8/2026).
Margin CMRY Masih Tertekan
Meski prospek pertumbuhan masih positif, CMRY masih menghadapi tekanan dari kenaikan biaya bahan baku dan pelemahan nilai tukar rupiah. Kondisi tersebut berpotensi menahan margin perseroan sehingga pemulihan profitabilitas diperkirakan berlangsung secara bertahap.
Baca Juga: Rupiah Diprediksi Bergerak Terbatas, Investor Cermati Data Inflasi AS
Gross profit margin (GPM) CMRY pada semester I-2026 tercatat turun menjadi 43,3%. Penurunan tersebut terutama dipengaruhi kenaikan harga skimmed milk powder yang mencapai 17,6% YoY serta penguatan dolar AS terhadap rupiah.
Menurut Azis, sejumlah katalis dapat menopang kinerja CMRY ke depan. Pertumbuhan konsumsi, inovasi produk, ekspansi distribusi dan ekspor, serta potensi normalisasi harga bahan baku menjadi faktor yang perlu dicermati investor.
Namun, terdapat pula sejumlah risiko yang dapat menekan kinerja perseroan. Risiko tersebut antara lain kenaikan harga susu dan komoditas, pelemahan rupiah, daya beli masyarakat, serta persaingan yang semakin ketat di industri fast-moving consumer goods (FMCG).
Selain itu, ekspansi kapasitas produksi dan peluncuran produk baru dinilai dapat menjadi katalis fundamental bagi CMRY.
Langkah tersebut berpotensi memperkuat pertumbuhan volume sekaligus membuka ruang bagi perseroan untuk memperluas pasar.
Dengan mempertimbangkan prospek pertumbuhan dan berbagai risiko tersebut, Kiwoom Sekuritas Indonesia merekomendasikan trading buy untuk saham CMRY.
Azis menetapkan target harga CMRY di level Rp 4.900 per saham.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News














