kontan.co.id
banner langganan top
| : WIB | INDIKATOR |
  • EMAS 2.599.000   -4.000   -0,15%
  • USD/IDR 17.947   -95,00   -0,53%
  • IDX 6.351   31,53   0,50%
  • KOMPAS100 835   3,22   0,39%
  • LQ45 634   -1,22   -0,19%
  • ISSI 220   1,96   0,90%
  • IDX30 356   -1,18   -0,33%
  • IDXHIDIV20 435   -3,83   -0,87%
  • IDX80 95   0,21   0,22%
  • IDXV30 120   -0,51   -0,42%
  • IDXQ30 113   -0,52   -0,45%

Emiten Produsen Baja Raih Kinerja Keuangan Positif, Simak Prospek di Semester II-2026


Rabu, 05 Agustus 2026 / 18:54 WIB
Emiten Produsen Baja Raih Kinerja Keuangan Positif, Simak Prospek di Semester II-2026
ILUSTRASI. Ekspor baja KRAS (Dok/KRAS)


Reporter: Dimas Andi | Editor: Ignatia Maria Sri Sayekti

KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Emiten-emiten produsen baja mampu membukukan kinerja keuangan yang menawan sepanjang semester I-2026. Namun, sejumlah tantangan masih mengintai emiten sektor tersebut pada sisa tahun ini.

Salah satu contohnya adalah PT Krakatau Steel Tbk (KRAS) yang mampu mencatat kenaikan pendapatan usaha 35,1% year on year (yoy) menjadi US$ 622,74 juta atau setara Rp 11,15 triliun. KRAS juga memperoleh keuntungan atas penyelesaian kewajiban dipercepat dengan keringanan (haircut) atas utang restrukturisasi senilai US$ 27,19 juta.

Emiten ini pun meraih pendapatan atas divestasi entitas asosiasi dan aset keuangan senilai US$ 14,23 juta sebagai bagian dari strategi optimalisasi portofolio investasi dan aset perusahaan. Alhasil, perusahaan mengantongi laba bersih US$ 10,94 juta pada semester I-2026, berbalik dari rugi bersih US$ 105,38 juta pada periode sebelumnya.

Memasuki paruh kedua tahun 2026, dengan fundamental operasional dan struktur pendanaan yang terus diperkuat, KRAS akan terus berfokus pada peningkatan kinerja operasional, penguatan struktur keuangan, optimalisasi aset, serta pengembangan bisnis untuk menciptakan pertumbuhan yang berkelanjutan dan memberikan nilai tambah bagi seluruh pemangku kepentingan. 

“Upaya ini tentu dilakukan dengan tetap memperhatikan tata kelola perusahaan yang baik dan penerapan manajemen risiko yang berkelanjutan di perusahaan,” tulis Plt. Corporate Secretary Krakatau Steel Rachman Hidayat dalam keterbukaan informasi, dikutip Rabu (5/8/2026).

Setali tiga uang, PT Gunung Raja Paksi Tbk (GGRP) mampu mencatatkan kenaikan penjualan bersih 29,95% yoy menjadi US$ 109,78 juta pada semester I-2026. GGRP juga sanggup meraih laba bersih yang dapat diatribusikan kepada pemilik entitas induk sebesar US$ 1,84 juta pada semester I-2026, berbanding terbalik dengan rugi bersih senilai US$ 20,98 juta yang diderita pada semester I-2025.

Baca Juga: Investasi Baja Turun 22%, Cermati Prospek dan Rekomendasi Saham Emiten Baja

PT Steel Pipe Industry of Indonesia Tbk (ISSP) turut membukukan kenaikan pendapatan 8,5% yoy menjadi Rp 2,84 triliun pada semester I-2026. Laba bersih emiten penghasil pipa baja ini juga naik 12,7% yoy menjadi Rp 240,5 miliar.

Ada pula PT Saranacentral Bajatama Tbk (BAJA) yang mengalami peningkatan penjualan bersih 85,74% yoy menjadi Rp 634,54 miliar pada semester I-2026. BAJA juga mampu membalikkan posisi rugi bersih senilai Rp 16,53 miliar pada semester I-2025 menjadi laba bersih Rp 21,33 miliar pada semester I-2026.

Senior Market Analyst Mirae Asset Sekuritas Nafan Aji Gusta mengatakan, ada sejumlah faktor yang secara bersamaan mampu mendorong perbaikan kinerja emiten baja. Pertama, permintaan domestik mulai menunjukkan pemulihan, terutama dari proyek-proyek infrastruktur strategis, kawasan industri, manufaktur, hingga hilirisasi mineral.

Kedua, stabilisasi harga bahan baku seperti iron ore, scrap, maupun batubara kokas membuat tekanan terhadap biaya produksi mulai berkurang. Ketiga, efisiensi operasional turut menjadi faktor yang dominan, mengingat banyak emiten melakukan optimalisasi utilisasi pabrik, perbaikan bauran produk ke segmen bernilai tambah lebih tinggi, hingga pengendalian biaya dan restrukturisasi keuangan.

“Khusus bagi KRAS, perbaikan struktur keuangan dan meningkatnya utilisasi fasilitas produksi mulai berdampak positif terhadap profitabilitas,” ujar dia, Rabu (5/8/2026).

Walau begitu, Nafan melihat bahwa perbaikan kinerja tersebut belum sepenuhnya mencerminkan pemulihan struktural industri baja nasional. Hal yang terjadi saat ini lebih tepat disebut sebagai fase normalisasi. Di atas kertas, fundamental industri memang membaik, namun sektor ini masih menghadapi tantangan seperti kelebihan pasokan global, persaingan harga, dan tingginya impor produk baja tertentu.

Dari situ, prospek kinerja emiten-emiten baja pada semester II-2026 diperkirakan masih cukup positif, meski laju pertumbuhannya kemungkinan tidak sekencang semester I-2026. Permintaan dari sektor infrastruktur, kawasan industri, energi, manufaktur, dan proyek hilirisasi diperkirakan masih menjadi penopang utama konsumsi baja domestik.

“Jika realisasi belanja pemerintah dan investasi swasta tetap berjalan sesuai target, maka utilisasi kapasitas pabrik baja berpotensi terus meningkat,” jelas dia.

Kepala Riset Korea Investment & Sekuritas Indonesia (KISI) Muhammad Wafi menimpali, kinerja positif emiten-emiten produsen baja dapat berlanjut pada paruh kedua tahun ini jika harga Hot Rolled Coil (HRC) masih menanjak dan harga gas tetap rendah. Namun, jangan berharap ada lonjakan sebesar periode semester I-2026, apalagi masih terdapat tantangan seperti banjir impor produk baja asal China yang belum sepenuhnya terkendali dan risiko perlambatan dari sektor konstruksi seiring tingginya suku bunga acuan Bank Indonesia (BI).

Baca Juga: Prospek Emiten Baja Masih Bersinar di Semester II 2026, Ini Saham Paling Favorit

“Sentimen positif tambahan adalah akselerasi realisasi APBN di semester II-2026 dan program hilirisasi yang membutuhkan baja sebagai material konstruksi,” kata dia, Rabu (5/8/2026).

Untuk itu, emiten-emiten baja perlu memaksimalkan periode tersedianya gas dengan harga rendah untuk efisiensi produksi yang lebih lanjut sekaligus memperkuat segmen produk baja bernilai tambah tinggi yang punya margin lebih tebal. Emiten juga bisa memperkuat penjualan ekspor, namun upaya ini mesti dilakukan secara selektif dengan menyasar ke pasar yang belum terdampak oleh dumping produk China.

Tak kalah penting, emiten baja harus berkoordinasi dengan pemerintah untuk mendorong kebijakan Bea Masuk Anti-Dumping (BMAD) anti dumping terhadap produk baja.

Berkaca dari situ, Wafi menilai, KRAS masih menjadi unggulan di sektor baja terutama dengan skenario harga HRC tinggi dan gas industri rendah, namun investor tetap harus mencermati kondisi neraca keuangannya. ISSP dipandang relatif lebih defensif karena fokus pada baja konstruksi dengan skala yang bisa dikelola. Sebaliknya, GGRP dan BAJA cenderung lebih spekulatif dan likuiditas tipis.

“Sektor ini masih berisiko jebakan value jika katalis eksternal berbalik atau dumping produk impor tidak terkendali,” terangnya.

Di lain pihak, Nafan menyebut, emiten baja perlu menjaga struktur permodalan dan arus kas, sehingga dapat lebih tahan banting menghadapi siklus industri. Di samping itu, emiten patut memperluas kerja sama dengan sektor hilirisasi, otomotif, konstruksi, energi, serta manufaktur sebagai pelanggan utama.

Lantas, Nafan merekomendasikan add saham KRAS dengan target harga di level Rp 270 per saham. Adapun saham GGRP, ISSP, dan BAJA disarankan wait and see.

Baca Juga: Simak Prospek Kinerja Emiten Baja pada Tahun 2026

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News




TERBARU
KONTAN DIGITAL PREMIUM ACCESS
Kontan Academy
[Intensive Workshop] Business Dashboard, From Excel to Power BI Effective Warehouse Management

[X]
×