Reporter: Muhammad Fatih | Editor: Noverius Laoli
KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Pergerakan nilai tukar rupiah berisiko tinggi menembus batas psikologis Rp 18.000 per dolar Amerika Serikat (AS) hingga akhir 2026 seiring menguatnya tekanan eksternal dan keterbatasan arus modal masuk di pasar domestik.
Mengutip data Bloomberg pada Rabu (30/9/2026) , rupiah di pasar spot berada di posisi Rp 17.894 per dolar AS atau menguat 0,48% (87 poin), sedangkan kurs referensi Jakarta Interbank Spot Dollar Rate (JISDOR) Bank Indonesia mencatat rupiah menguat 0,67% ke level Rp 17.877 per dolar AS dibandingkan hari sebelumnya yang sebesar Rp 17.998 per dolar AS.
Ekonom Universitas Andalas Syafruddin Karimi menilai risiko rupiah menyentuh level psikologis Rp 18.000 per dolar AS tergolong tinggi karena posisi rupiah di kisaran Rp 17.900-an saat ini hanya berjarak sekitar 0,6% dari batas tersebut.
Baca Juga: BI Rate Ditahan, Rupiah Spot Menguat 0,37% ke Rp 17.818 per Dolar AS pada Rabu (23/9)
Menurutnya, tekanan terhadap mata uang Garuda datang dari berbagai lini eksternal, mulai dari indeks dolar AS (DXY) yang berada di level 101,4 per 29 September, yield US Treasury tenor 10 tahun yang bertahan di atas 5%, tingginya harga energi, hingga konflik Timur Tengah yang memicu tingginya permintaan atas aset dolar AS.
Dari sisi domestik, penopang valuta asing masih relatif terbatas. Bank Indonesia (BI) mencatat surplus neraca perdagangan periode Juli hanya sebesar US$ 0,12 miliar, sementara aliran modal asing di pasar portofolio triwulan III hingga 21 September baru mencapai US$ 0,4 miliar.
Posisi cadangan devisa sebesar US$ 146,5 miliar dapat menjadi bantalan, tetapi belum cukup menghapus seluruh tekanan pasar.
"Karena itu, Rp18.000 lebih tepat dipandang sebagai level yang mungkin disentuh daripada batas yang mustahil ditembus," kata Syafruddin kepada Kontan, Rabu (20/9/2026).
Syafruddin menjelaskan bahwa guna memitigasi gejolak tersebut, pasar membutuhkan intervensi BI yang konsisten dan terukur melalui kombinasi instrumen secara bersamaan.
Baca Juga: HSBC Proyeksikan Rupiah Akan Ada di Kisaran Rp 18.000 per Dolar AS hingga Akhir 2026
Bank Indonesia perlu memprioritaskan penguatan intervensi non-deliverable forward (NDF) di pasar offshore serta pasar spot dan DNDF di pasar domestik demi menjaga likuiditas valas, seperti halnya keputusan yang ditegaskan BI saat mempertahankan BI-Rate di level 5,75% pada 23 September lalu.
Selain itu, daya tarik aset rupiah perlu dijaga melalui struktur suku bunga SRBI dan insentif biaya hedging yang kompetitif.
"Kenaikan BI-Rate sebaiknya menjadi lapis terakhir jika tekanan kurs mulai mengganggu ekspektasi inflasi dan stabilitas portofolio," ujar Syafruddin.
Mengenai arah pergerakan kurs hingga akhir 2026, Syafruddin memproyeksikan rupiah masih akan bergerak volatil dengan bias melemah.
Dalam skenario dasar (base case), rupiah diperkirakan berada dalam kisaran Rp 17.700 hingga Rp 18.100 per dolar AS, dengan peluang menguat ke rentang Rp 17.500 hingga Rp 17.700 apabila DXY dan harga energi melandai serta arus modal ke SBN dan SRBI membaik.
Baca Juga: Rupiah Tembus Rp 18.000 Per Dolar AS, BI: Imbas Pengetatan Kebijakan AS
Namun, dalam skenario stres (stress case), ruang pelemahan di atas Rp 18.100 per dolar AS dapat terbuka jika ekspektasi kenaikan suku bunga The Fed bertahan dan ketegangan geopolitik kian memperbesar biaya impor energi.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News














