kontan.co.id
banner langganan top
| : WIB | INDIKATOR |
  • EMAS 2.605.000   -25.000   -0,95%
  • USD/IDR 17.939   104,00   0,58%
  • IDX 6.299   -76,31   -1,20%
  • KOMPAS100 819   -14,09   -1,69%
  • LQ45 623   -9,92   -1,57%
  • ISSI 219   -2,18   -0,99%
  • IDX30 345   -5,37   -1,53%
  • IDXHIDIV20 429   -4,96   -1,14%
  • IDX80 93   -1,50   -1,58%
  • IDXV30 117   -1,48   -1,24%
  • IDXQ30 111   -1,66   -1,48%

Rupiah Kembali Tertekan, Mendekati Rp 18.000 per Dolar AS


Kamis, 24 September 2026 / 16:11 WIB
Rupiah Kembali Tertekan, Mendekati Rp 18.000 per Dolar AS
ILUSTRASI. Nilai tukar mata uang Garuda kembali tertekan dan mendekati level psikologis Rp 18.000 per dolar AS. (AFP/BAY ISMOYO)


Reporter: Vatrischa Putri Nur | Editor: Handoyo

KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Tekanan terhadap nilai tukar rupiah kembali meningkat. Mata uang Garuda bergerak mendekati level psikologis Rp 18.000 per dolar AS di tengah penguatan dolar AS dan kenaikan imbal hasil obligasi Amerika Serikat (AS).

Melansir Bloomberg, rupiah di pasar spot ditutup melemah 0,55% secara harian ke level Rp 17.916 per dolar AS pada Kamis (24/9/2026).

Sejalan dengan itu, kurs rupiah JISDOR (Jakarta Interbank Spot Dollar Rate) juga melemah 0,53% menjadi Rp 17.898 per dolar AS.

Chief Analyst Doo Financial Futures Lukman Leong mengatakan, pelemahan rupiah pada perdagangan Kamis dipengaruhi oleh sejumlah sentimen eksternal.

Selain kenaikan imbal hasil obligasi AS dan indeks dolar AS (DXY), harga minyak mentah dunia yang kembali meningkat turut memberikan tekanan terhadap rupiah. Saat ini, DXY bertengger di level 101,14 atau menguat 0,88% dalam sepekan. Sementara itu, yield US Treasury (UST) 10Y telah menyentuh 5,14%.

Baca Juga: US Treasury 10 Tahun Tembus 5,14%, Yield SBN Justru Turun ke 7,09% Spread Kian Sempit

"Penguatan dolar AS juga masih berlanjut karena pasar mengantisipasi pernyataan bernada hawkish dari sejumlah pejabat The Federal Reserve (The Fed) yang dijadwalkan menyampaikan pidato pada Kamis," ujar Lukman kepada Kontan, Kamis (24/9/2026).

Dari dalam negeri, keputusan Bank Indonesia (BI) mempertahankan suku bunga acuan di level 5,75% pada Rapat Dewan Gubernur (RDG) September dinilai turut membatasi ruang penguatan rupiah.

Namun, Lukman berpandangan dampak keputusan tersebut terhadap rupiah relatif terbatas karena pasar telah mengantisipasinya.

"Penahanan suku bunga oleh BI memang tidak mendukung rupiah, namun juga tidak terlalu berdampak karena sudah diantisipasi dan priced in," jelasnya.

Rupiah Berpotensi Melemah Lagi

Untuk perdagangan Jumat (25/9/2026), Lukman melihat rupiah masih berpotensi melanjutkan pelemahan. Tekanan terutama diperkirakan berasal dari sentimen eksternal, khususnya pergerakan dolar AS dan yield obligasi AS.

Baca Juga: DXY Tembus Level 101, Rupiah dan Sejumlah Mata Uang Asia Tertekan

Meski demikian, ruang pelemahan rupiah berpotensi tertahan apabila BI kembali melakukan intervensi di pasar valuta asing.

Lukman bilang bahwa BI dapat melakukan intervensi secara langsung di pasar spot dengan menjual dolar AS dan membeli rupiah. Intervensi Domestic Non-Deliverable Forward (DNDF) di pasar domestik dan Non-Deliverable Forward (NDF) di offshore market.

Selain itu, BI juga dapat menggunakan instrumen moneter seperti Sekuritas Rupiah Bank Indonesia (SRBI) dan Surat Berharga Negara (SBN) untuk menjaga daya tarik aset rupiah serta mendorong masuknya dana asing.

Untuk perdagangan Jumat, Lukman memproyeksikan rupiah berada dalam rentang Rp 17.850-Rp 18.000 per dolar AS.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News




TERBARU
HUTKONTAN30
Kontan Academy
CFO Lens Winning Sales Proposal

[X]
×