kontan.co.id
banner langganan top
| : WIB | INDIKATOR |
  • EMAS 2.623.000   7.000   0,27%
  • USD/IDR 18.085   -26,00   -0,14%
  • IDX 6.226   39,77   0,64%
  • KOMPAS100 817   5,76   0,71%
  • LQ45 622   2,74   0,44%
  • ISSI 215   1,48   0,69%
  • IDX30 350   1,20   0,34%
  • IDXHIDIV20 431   1,14   0,26%
  • IDX80 93   0,54   0,59%
  • IDXV30 118   0,59   0,50%
  • IDXQ30 112   0,21   0,19%

Permintaan Emas Global pada Semester I-2026 Meningkat 2% Capai 2.522 Ton


Jumat, 31 Juli 2026 / 09:20 WIB
Permintaan Emas Global pada Semester I-2026 Meningkat 2% Capai 2.522 Ton
ILUSTRASI. Harga emas Antam turun (ANTARA FOTO/Rivan Awal Lingga)


Reporter: Vendy Yhulia Susanto | Editor: Avanty Nurdiana

KONTAN.CO.ID – JAKARTA. World Gold Council (WGC) mencatat total permintaan emas global pada kuartal II-2026 relatif tidak berubah dibandingkan tahun sebelumnya, yaitu sebesar 1.269 ton.

Hal ini seiring dengan harga emas yang melandai sejak rekor pada awal 2026. Secara kumulatif, permintaan emas sepanjang semester I - 2026 meningkat 2% secara tahunan menjadi sekitar 2.522 ton dengan nilai mencapai US$ 380 miliar.

Louise Street, Senior Markets Analyst World Gold Council mengatakan, tren kenaikan harga emas di awal tahun mulai melandai pada kuartal kedua dan memasuki fase konsolidasi usai terkoreksi dari rekor tertinggi. Meski demikian, pasar tetap disokong oleh fundamental yang kuat, menegaskan peran emas sebagai instrumen diversifikasi dan aset penyimpan nilai. 

Baca Juga: IHSG Menguat pada Perdagangan Jumat (31/7) Pagi, DEWA, CUAN, BUMI Top Gainers LQ45

Walau arus modal ke ETF emas meredup akibat koreksi harga, aksi beli konsisten dari bank sentral serta meningkatnya investasi di luar bursa resmi tetap mampu mendorong total permintaan emas tumbuh 2% yoy sepanjang semester I - 2026. 

“Memasuki semester II - 2026, investasi diperkirakan menjadi pendorong utama permintaan emas, meski komposisinya berpotensi bergeser. Aktivitas di luar bursa resmi dan minat investor Asia diprediksi makin dominan,” ujar Louise dalam keterangan resmi, Jumat (31/7/2026).

Sementara itu, Louise melihat ETF emas di pasar Barat akan lebih dipengaruhi oleh imbal hasil riil, ekspektasi kebijakan moneter AS, serta pergerakan dolar AS. Bank sentral diperkirakan tetap aktif membeli emas, meski dengan laju yang sedikit melambat dibandingkan dengan empat tahun terakhir. Di sisi lain, tingginya harga emas akan terus menekan volume permintaan perhiasan. 

“Namun, konsumen cenderung menahan kepemilikan mereka alih-alih menjualnya, sehingga pasokan dari daur ulang diprediksi tidak akan melonjak signifikan,” terang Louise. 

World Gold Council mencatat investasi pada ETF emas, emas batangan, dan koin turun menjadi 262 ton pada kuartal kedua karena turunnya harga emas meredam tingginya tren permintaan pada awal tahun. Penurunan tersebut terutama dipicu oleh arus dana keluar (outflow) sebesar 45 ton dari ETF emas fisik. Meski demikian, permintaan ETF sepanjang semester pertama mencatatkan arus masuk bersih sebesar 18 ton. 

Sementara itu, investasi emas batangan dan koin relatif stabil dengan penurunan hanya 3% secara tahunan. Secara kumulatif, permintaan emas batangan dan koin pada semester I - 2026 masih 21% lebih tinggi dibandingkan dengan periode yang sama tahun sebelumnya. Hal ini didukung oleh kinerja yang sangat kuat pada kuartal pertama. Di sisi lain, investasi dari Asia mendorong permintaan di luar bursa resmi (OTC), dengan kenaikan positif mencapai 327 ton pada kuartal kedua dan 571 ton sepanjang semester I - 2026.

Dari sisi perhiasan, harga emas yang tetap tinggi terus menekan permintaan pada kuartal II – 2026. Akibatnya, permintaan perhiasaan global turun hingga 17% yoy menjadi 278,2 ton karena konsumen cenderung mengurangi pembelian dan beralih ke perhiasan yang lebih ringan. Tren penurunan ini juga terjadi di Indonesia. Permintaan perhiasan tercatat turun 10%yoy, melanjutkan tren penurunan selama 13 kuartal berturut-turut. 

Baca Juga: Sumber Tani Agung (STAA) Catat Produksi TBS 478.244 Ton per Semester I 2026

Kondisi ekonomi yang tidak menentu mendorong masyarakat memilih perhiasan dengan kadar emas lebih rendah, sebuah fenomena yang juga marak terjadi di beberapa negara ASEAN lainnya. Hal ini membuat total volume permintaan sepanjang semester pertama ikut merosot. Meski begitu, nilai pasar perhiasan global justru menunjukkan ketahanan, dengan nilai permintaan pada semester pertama meningkat 22% yoy hingga mencapai US$86 miliar.

Total pasokan emas pada kuartal II - 2026 tercatat stabil dibandingkan dengan periode yang sama tahun lalu di angka 1.269 ton. Hal ini didorong oleh dinamika yang berlawanan antara produksi tambang dan daur ulang. Produksi tambang diperkirakan naik 2% yoy menjadi 966 ton berkat tambahan pasokan dari Kanada dan Chile. Sebaliknya, pasokan dari hasil daur ulang justru merosot 6% yoy di tengah harga emas yang masih tinggi.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News




TERBARU
KONTAN DIGITAL PREMIUM ACCESS
Kontan Academy
Legacy Data-Driven Forecasting: Prediksi Penjualan Lebih Akurat, Keputusan Bisnis Lebih Tepat

[X]
×