Reporter: Pulina Nityakanti | Editor: Herlina Kartika Dewi
KONTAN.CO.ID - JAKARTA. PT Sumber Tani Agung Resources Tbk (STAA) mencatatkan produksi tandan buah segar (TBS) sebanyak 478.244 ton per semester I 2026, turun 7,2% secara tahunan alias year on year (YoY).
Hal ini mencerminkan penurunan produksi tanaman selama periode tersebut, karena tren musiman dan kondisi cuaca buruk di sebagian besar wilayah Indonesia.
“Produksi TBS inti menurun 8,1% YoY, sementara produksi TBS plasma meningkat 2,1% YoY,” ujar manajemen STAA dalam Investor Buletin, Jumat (31/7/2026).
Hasil panen TBS juga menurun dari tahun ke tahun, dengan hasil panen nukleus sebesar 10,3 ton per hektar, turun 11,8% YoY. Lalu, hasil panen plasma sebesar 8,9 ton per hektar, turun 5% YoY, sesuai dengan pola musiman.
Total TBS yang diproses menjadi 810.034 ton pada semester I 2026, turun 18,7% dibandingkan tahun sebelumnya. Hal ini mencerminkan volume panen in ternal dan eksternal yang lebih rendah.
Sehingga, produksi minyak kelapa sawit alias crude palm oil (CPO) menurun 16,8% YoY menjadi 176.344 ton.
“Sementara, produksi palm kernel (PK) menurun 19,1% YoY menjadi 38.962 ton, sejalan dengan penurunan input TBS,” paparnya.
Menurut manajemen STAA, proporsi CPO yang digunakan secara internal sebagai bahan baku untuk operasi kilang perusahaan lebih tinggi selama periode tersebut.
Baca Juga: Rekomendasi Teknikal Saham AADI, BBRI, DEWA dan TINS untuk Hari Ini (31/7)
Di saat bersamaan, produksi yang lebih rendah akibat tren musiman dan kondisi cuaca juga berkontribusi pada volume penjualan CPO pihak ketiga yang lebih rendah sebesar 70.843 ton.
“Volume penjualan produk olahan mencapai 214.247 ton selama semester pertama tahun 2026, mencerminkan peningkatan berkelanjutan dari operasi kilang perusahaan,” katanya.
Lalu, volume penjualan PK mencapai total 16.011 ton, turun 1,7% YoY, sedangkan volume penjualan minyak inti sawit (CPKO) mencapai 22.642 ton, turun 19,9% YoY.
Harga jual rata-rata STAA setelah dikurangi pajak dan bea ekspor sepanjang semester I 2026 untuk CPO senilai Rp 14.890 per kilogram, PK Rp 13.482 per kg, dan CPKO Rp 29.462 per kg.
Pada paruh pertama tahun 2026, lingkungan operasional lebih seimbang untuk industri minyak sawit. Sebab, harga CPO kembali normal dari level tinggi yang tercatat pada tahun sebelumnya sementara fundamental permintaan tetap tangguh.
Dengan latar belakang ini, STAA terus memperkuat operasi hilirnya, meningkatkan standar operasional, dan mencapai beberapa tonggak penting perusahaan.
“Didukung oleh eksekusi yang disiplin dan kontribusi penuh dari bisnis hilirnya, Perusahaan mencatatkan pertumbuhan pendapatan yang kuat sambil mempertahankan profitabilitas yang sehat dan posisi keuangan yang solid,” paparnya.
Pendapatan STAA per 30 Juni 2026 meningkat 69,1% YoY menjadi Rp 6,070 miliar, dari Rp 3,590 miliar pada semester pertama tahun 2025.
“Ini terutama didorong oleh kontribusi penuh dari operasi kilang yang mulai beroperasi pada semester kedua tahun lalu,” ungkapnya.
Baca Juga: Laba Bersih Barito Renewables Energy (BREN) Naik 29% pada Semester I-2026
Laba bersih STAA meningkat 12,3% YoY menjadi Rp 854 miliar, dengan margin laba bersih sebesar 14,1%, dibandingkan dengan 21,2% pada semester pertama tahun 2025.
Kemudian, laba yang dapat diatribusikan kepada pemilik meningkat 15,3% YoY menjadi Rp 757 miliar.
“EBITDA meningkat 13,5% YoY menjadi Rp 1,294 miliar, dengan margin EBITDA sebesar 21,3%, dibandingkan dengan 31,7% pada semester pertama tahun 2025,” katanya.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News














