Reporter: Yuliana Hema | Editor: Noverius Laoli
KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Keputusan Standard & Poor's (S&P) Global Ratings mempertahankan Sovereign Credit Rating Indonesia di level BBB dengan outlook stabil menjadi angin segar bagi pasar saham Indonesia.
Keputusan ini meredakan salah satu risiko terbesar yang membayangi bursa saham Indonesia beberapa bulan terakhir, meski belum cukup menghapus kekhawatiran investor soal arah kebijakan ekonomi pemerintah.
Sentimen positif tersebut turut menopang Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) yang ditutup menguat sejak awal pekan.
S&P menilai pelemahan fiskal Indonesia hanya bersifat sementara. Tekanan fiskal ini dipicu kenaikan harga energi, tingginya suku bunga global, serta akumulasi utang pascapandemi, sementara prospek pertumbuhan ekonomi Indonesia dinilai tetap solid.
Baca Juga: IHSG Diproyeksi Fluktuatif di Awal Pekan, Simak Saham Rekomendasi Analis
Head of Equity Research BRI Danareksa Sekuritas Erindra Krisnawan menilai, setelah S&P mempertahankan outlook stabil dan MSCI tetap menempatkan Indonesia di emerging market, dua risiko besar yang selama ini membebani pergerakan IHSG kini mulai mereda.
Erindra menilai, valuasi pasar masih mencerminkan skenario yang terlalu pesimistis.
Saat ini IHSG diperdagangkan pada forward price to earnings (P/E) sebesar 9,1 kali, atau sekitar -2,6 standar deviasi di bawah rata-rata historis 10 tahun sebesar 14,8 kali.
Menurut perhitungan BRI Danareksa, valuasi tersebut bahkan mengindikasikan pasar memperkirakan laba emiten pada 2027 akan turun sekitar -7%, jauh di bawah proyeksi internal BRI Danareksa yang memperkirakan pertumbuhan laba 14%.
Karena itu, BRI Danareksa mempertahankan target IHSG akhir 2026 di level 7.200. Target tersebut menggunakan asumsi yang relatif konservatif, yakni pertumbuhan laba per saham (EPS) sebesar 8% dan valuasi forward P/E 10 kali.
Baca Juga: Indeks Keyakinan Konsumen Turun ke 117,8 Cermati Saham Rekomendasi Analis
Bahkan jika valuasi IHSG tidak berubah dari level saat ini di 9,1 kali, Erindra memperkirakan indeks masih berpotensi naik menuju sekitar 6.520, atau sekitar 8% di atas posisi sekarang, selama pertumbuhan laba 8% dapat terealisasi.
Selain valuasi yang murah, BRI Danareksa juga melihat tekanan makro mulai mereda. Koreksi harga minyak diperkirakan mengurangi tekanan terhadap neraca perdagangan, inflasi, dan rupiah, sementara aliran dana asing ke pasar obligasi mulai kembali positif.
"Pada Juni 2026, investor asing membukukan net buy Rp 22,4 triliun di pasar surat utang negara, menjadi yang terbesar sejak Mei 2025," ujarnya dalam riset Selasa (14/7).
Kendati demikian, Chief Economist & Head of Research Mirae Asset Sekuritas Rully Arya Wisnubroto menilai, pandangan S&P mengenai prospek pertumbuhan ekonomi Indonesia terlalu optimistis. S&P memproyeksikan ekonomi Indonesia mampu tumbuh 5,2% pada 2026 dan 6,3% pada 2029.
Baca Juga: Rekomendasi Saham ADRO, CMRY, dan CPIN untuk Perdagangan Rabu (15/7)
Menurut Rully, proyeksi tersebut sulit dicapai di tengah kombinasi suku bunga yang tinggi, pelemahan rupiah, inflasi yang masih meningkat, serta tanda-tanda melambatnya permintaan domestik.
Ruang pemerintah memberikan stimulus fiskal juga terbatas karena tetap harus menjaga defisit APBN di bawah 3% terhadap produk domestik bruto.
Karena itu, Mirae lebih sejalan dengan pandangan Fitch dan Moody's yang menyoroti meningkatnya ketidakpastian bauran kebijakan serta menurunnya kualitas tata kelola.
Sebagai informasi, Fitch Ratings dan Moody's sama-sama mempertahankan peringkat investment grade Indonesia namun memberikan outlook negatif.
"Risiko utama bukanlah hilangnya status investment grade dalam waktu dekat, tetapi pertumbuhan ekonomi yang berpotensi lebih lemah dalam jangka panjang serta meningkatnya premi risiko apabila arah kebijakan tetap tidak jelas," tulis Rully.
Ia juga menilai, kenaikan suku bunga Bank Indonesia belum mampu menstabilkan rupiah secara meyakinkan. Menurutnya, pasar masih menunggu konsistensi kebijakan pemerintah sebelum kembali meningkatkan eksposur ke aset Indonesia.
Baca Juga: IHSG Diproyeksi Bergerak Sideways pada Jumat (10/7), Ini Rekomendasi Analis
Senada, Head of Research Kiwoom Sekuritas Liza Camelia Suryanata mengatakan, keputusan S&P memang membantu menurunkan sovereign risk premium sehingga membuka peluang re-rating terhadap pasar saham Indonesia.
"Namun, investor asing masih membutuhkan konfirmasi tambahan berupa stabilitas nilai tukar rupiah, perbaikan arus dana asing, serta kepastian arah kebijakan ekonomi," ujar Lizxa.
Di sisi lain, Liza menilai valuasi saham Indonesia sudah berada pada level yang sangat murah setelah koreksi tajam pada semester I-2026. Liza menilai, afirmasi S&P memperkuat peluang IHSG menuju target 7.0007.200 hingga akhir tahun.
Dia merekomendasikan saham BBRI, BBNI, ANTM, INCO, JPFA, KLBF, JSMR, MTEL, dan PANI. Namun Liza menegaskan pemilihan saham tetap harus selektif karena saham murah belum tentu langsung menguat.
Baca Juga: Tekanan Eksternal Masih Kuat, IHSG Bergerak Terbatas
Sedangkan Erindra tetap mempertahankan rekomendasi overweight pada sektor perbankan, telekomunikasi, logam, dan batubara. BRI Danareksa Sekuritas menjagokan saham BBCA, BBNI, ISAT, EXCL, ANTM, TINS, dan AADI.
Sementara itu, Mirae Asset Sekuritas memilih mempertahankan strategi investasi defensif dengan saham pilihan BBCA, EXCL, dan JPFA.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News














