Reporter: Yuliana Hema | Editor: Noverius Laoli
Sebagai informasi, Fitch Ratings dan Moody's sama-sama mempertahankan peringkat investment grade Indonesia namun memberikan outlook negatif.
"Risiko utama bukanlah hilangnya status investment grade dalam waktu dekat, tetapi pertumbuhan ekonomi yang berpotensi lebih lemah dalam jangka panjang serta meningkatnya premi risiko apabila arah kebijakan tetap tidak jelas," tulis Rully.
Ia juga menilai, kenaikan suku bunga Bank Indonesia belum mampu menstabilkan rupiah secara meyakinkan. Menurutnya, pasar masih menunggu konsistensi kebijakan pemerintah sebelum kembali meningkatkan eksposur ke aset Indonesia.
Baca Juga: IHSG Diproyeksi Bergerak Sideways pada Jumat (10/7), Ini Rekomendasi Analis
Senada, Head of Research Kiwoom Sekuritas Liza Camelia Suryanata mengatakan, keputusan S&P memang membantu menurunkan sovereign risk premium sehingga membuka peluang re-rating terhadap pasar saham Indonesia.
"Namun, investor asing masih membutuhkan konfirmasi tambahan berupa stabilitas nilai tukar rupiah, perbaikan arus dana asing, serta kepastian arah kebijakan ekonomi," ujar Lizxa.
Di sisi lain, Liza menilai valuasi saham Indonesia sudah berada pada level yang sangat murah setelah koreksi tajam pada semester I-2026. Liza menilai, afirmasi S&P memperkuat peluang IHSG menuju target 7.0007.200 hingga akhir tahun.
Dia merekomendasikan saham BBRI, BBNI, ANTM, INCO, JPFA, KLBF, JSMR, MTEL, dan PANI. Namun Liza menegaskan pemilihan saham tetap harus selektif karena saham murah belum tentu langsung menguat.
Baca Juga: Tekanan Eksternal Masih Kuat, IHSG Bergerak Terbatas
Sedangkan Erindra tetap mempertahankan rekomendasi overweight pada sektor perbankan, telekomunikasi, logam, dan batubara. BRI Danareksa Sekuritas menjagokan saham BBCA, BBNI, ISAT, EXCL, ANTM, TINS, dan AADI.
Sementara itu, Mirae Asset Sekuritas memilih mempertahankan strategi investasi defensif dengan saham pilihan BBCA, EXCL, dan JPFA.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News














