Reporter: Dimas Andi | Editor: Handoyo
KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Emiten-emiten produsen petrokimia dapat bernapas lega. Hal ini seiring adanya sentimen positif seperti penurunan harga minyak dunia yang disertai pemberian insentif untuk bahan baku alternatif petrokimia.
Mengutip situs Trading Economics, harga minyak mentah jenis West Texas Intermediate (WTI) bergerak di level US$ 67,06 per barel pada Kamis (2/7/2026) pukul 18.40 WIB. Dalam sebulan terakhir, harga minyak WTI telah terkoreksi 29,29%.
Bersamaan dengan itu, harga nafta selaku bahan baku petrokimia yang terbuat dari minyak bumi mengalami penurunan 19,04% ke level US$ 613,74 per ton.
Tak hanya itu, pada pertengahan Juni 2026 lalu, pemerintah mengumumkan pemberian insentif bea masuk 0% untuk impor Liquefied Petroleum Gas (LPG) bagi industri petrokimia dan bahan baku plastik.
Baca Juga: Prospek Emiten Baja Masih Bersinar di Semester II 2026, Ini Saham Paling Favorit
Kepala Riset Korea Investment & Sekuritas Indonesia (KISI) Muhammad Wafi mengatakan, penurunan harga nafta seiring koreksi harga minyak dunia dan pembebasan bea masuk impor LPG menjadi katalis positif bagi sektor petrokimia.
Dengan adanya LPG impor yang tidak dikenakan bea masuk, hal ini akan menciptakan diversifikasi bahan baku sekaligus mengurangi ketergantungan terhadap nafta yang kebetulan harganya juga sudah turun. Emiten petrokimia pun berpeluang memperbaiki margin laba, terutama jika spread harga LPG dan nafta kompetitif.
"Utilisasi pabrik berpotensi naik, tapi butuh 1–2 kuartal untuk tercermin dampaknya di laporan keuangan," kata dia, Kamis (2/7/2026).
Pengamat Pasar Modal sekaligus Co-Founder AP Trading Insight Singapore Kiswoyo Adi Joe menilai, tren penurunan harga minyak dunia tidak langsung dirasakan dampaknya bagi emiten petrokimia dalam waktu dekat. Sebab, mayoritas pengguna minyak mentah biasanya melakukan pembelian bahan baku melalui kontrak jangka waktu tertentu.
Dengan kata lain, emiten masih dapat menggunakan persediaan yang dibeli ketika harga minyak berada di level lebih tinggi, sehingga penurunan biaya produksi baru akan terasa setelah kontrak lama selesai dan stok bahan baku baru dengan harga lebih murah mulai digunakan.
"Besarnya manfaat juga bergantung pada siklus pembelian bahan baku, frekuensi pengadaan, serta kapasitas penyimpanan masing-masing emiten," kata dia, Kamis (2/7).
Terlepas dari itu, Kiswoyo menyatakan momen pelemahan harga minyak dunia dapat dijadikan kesempatan bagi emiten petrokimia untuk mengamankan kontrak pasokan bahan baku dengan harga murah.
Memasuki semester II-2026, prospek emiten di sektor petrokimia cukup positif. Namun, tetap ada sejumlah tantangan yang mengintai.
Wafi menyebut, tantangan utama bagi sektor ini antara lain ancaman banjir impor produk petrokimia dari China yang menekan harga jual produk lokal, pelemahan kurs rupiah yang menaikkan biaya impor dan beban utang valas, hingga gangguan pasokan gas industri.
Hal ini bisa mereduksi efek dari sentimen positif seperti pelemahan harga minyak dunia dan insentif impor LPG.
Baca Juga: Menakar Valuasi Saham-Saham Blue Chip, Benarkah Sudah Murah?
Untuk itu, emiten-emiten produsen petrokimia tetap perlu aktif melakukan diversifikasi bahan baku yang dibarengi efisiensi biaya operasional. Dukungan pemerintah berupa kebijakan Bea Masuk Anti Dumping (BMAD) juga diperlukan untuk membendung maraknya produk impor dari China.
Kiswoyo menimpali, berkaca pada gejolak geopolitik yang membuat harga minyak dunia melonjak tajam dan pasokan terganggu, upaya peningkatan kapasitas tangki penyimpanan bahan baku sama pentingnya dengan peningkatan kapasitas produksi. Dengan begitu, emiten dapat menampung lebih banyak volume bahan baku yang dibeli ketika harga sedang rendah.
Dari sekian emiten petrokimia, Kiswoyo menyebut PT Chandra Asri Pacific Tbk (TPIA) masih menjadi unggulan sekalipun harga sahamnya tampak terpuruk sepanjang tahun ini. TPIA memiliki keunggulan berupa skala bisnis petrokimia yang sudah matang dan terintegrasi dari hulu hingga hilir.
Alhasil, saham TPIA tetap layak dicermati investor dengan target harga wajar di kisaran Rp 7.000 per saham.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News














