Reporter: Rashif Usman | Editor: Handoyo
KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Kinerja industri otomotif nasional menunjukkan tren yang semakin membaik sepanjang semester I-2026. Peningkatan penjualan kendaraan diperkirakan menjadi sentimen positif bagi emiten sektor otomotif maupun industri komponen.
Berdasarkan data Gabungan Industri Kendaraan Bermotor Indonesia (Gaikindo), penjualan mobil secara wholesales pada periode Januari hingga Juni 2026 mencapai 436.564 unit. Capaian tersebut meningkat 15,9% dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya yang tercatat sebanyak 376.707 unit.
Seiring perbaikan kinerja tersebut, Gaikindo menargetkan penjualan mobil nasional sepanjang 2026 dapat mencapai 850.000 unit.
Analis sekaligus Branch Manager Panin Sekuritas Pondok Indah, Elandry Pratama, menilai pertumbuhan penjualan mobil nasional pada semester I-2026 menjadi katalis positif bagi emiten otomotif dan komponen otomotif.
"Peningkatan volume penjualan akan mendorong permintaan kendaraan baru, komponen OEM, hingga bisnis aftermarket. Meski demikian, prospek semester II masih akan dipengaruhi oleh kondisi suku bunga, daya beli masyarakat, dan ketersediaan pembiayaan kendaraan," kata Elandry kepada Kontan, Rabu (15/7/2026).
Baca Juga: S&P Pertahankan Rating Indonesia, Sebut Danantara Reformasi Sektor BUMN
Menurut Elandry, peningkatan penjualan kendaraan berpotensi mendongkrak permintaan komponen original equipment manufacturer (OEM) sekaligus memperkuat bisnis suku cadang dan layanan purnajual.
Dari sisi pilihan saham, Elandry mencermati saham PT Astra International Tbk (ASII), PT Astra Otoparts Tbk (AUTO), dan PT Dharma Polimetal Tbk (DRMA). Secara fundamental, ASII dinilai menarik karena memiliki diversifikasi bisnis yang kuat sehingga lebih defensif terhadap gejolak pasar.
Sementara itu, AUTO ditopang oleh fundamental yang solid dan kontribusi bisnis aftermarket yang stabil. Adapun DRMA dinilai memiliki prospek pertumbuhan lebih tinggi seiring ekspansi bisnis komponen kendaraan listrik dan peningkatan produksi dari pelanggan OEM.
Secara terpisah, Senior Market Analyst Mirae Asset Sekuritas, Nafan Aji Gusta, menilai kenaikan penjualan mobil nasional pada semester I-2026 menjadi sinyal pemulihan permintaan domestik.
"Kondisi ini tentu menjadi katalis positif bagi emiten otomotif maupun industri komponen," ujar Nafan.
Menurut Nafan, membaiknya daya beli masyarakat, stabilnya suku bunga, serta meningkatnya aktivitas ekonomi menjadi faktor utama yang mendorong pertumbuhan penjualan kendaraan sepanjang paruh pertama tahun ini.
Ia menambahkan, prospek emiten otomotif masih cukup menarik karena kenaikan volume penjualan akan mendorong pertumbuhan pendapatan, meningkatkan utilisasi kapasitas produksi, serta memperbaiki efisiensi operasional perusahaan. Kondisi tersebut pada akhirnya berpotensi menopang perbaikan margin laba.
Di sisi lain, emiten komponen otomotif juga diperkirakan menikmati efek berganda (multiplier effect). Peningkatan produksi kendaraan akan mendorong permintaan komponen OEM, sementara bertambahnya populasi kendaraan akan memperkuat bisnis aftermarket melalui kebutuhan suku cadang dan perawatan berkala.
Baca Juga: OJK Bakal Punya Komisioner Baru untuk Awasi Bursa Mineral, Target Beroperasi 2027
Meski demikian, investor tetap perlu mencermati sejumlah risiko yang berpotensi memengaruhi kinerja sektor otomotif. Beberapa di antaranya adalah pelemahan nilai tukar rupiah yang dapat meningkatkan biaya impor bahan baku, potensi kenaikan harga komoditas logam, serta persaingan yang semakin ketat akibat masuknya merek kendaraan listrik asal China.
Nafan menilai ASII masih menjadi pilihan utama di sektor otomotif karena memiliki model bisnis yang terintegrasi, mulai dari distribusi kendaraan, pembiayaan, bisnis komponen otomotif melalui Astra Otoparts, hingga lini usaha pendukung lainnya.
Diversifikasi bisnis tersebut membuat kinerja ASII dinilai relatif lebih stabil dibandingkan emiten otomotif lainnya.
Rekomendasi saham otomotif
Untuk strategi investasi, Elandry merekomendasikan buy saham ASII dan AUTO dengan target harga jangka panjang masing-masing sebesar Rp 6.000 dan Rp 3.300 per saham. Sementara itu, saham DRMA direkomendasikan speculative buy dengan target harga Rp 1.650 per saham.
"Secara keseluruhan, sektor otomotif masih memiliki prospek positif hingga akhir tahun selama tren penjualan kendaraan tetap terjaga. Namun, investor tetap perlu mencermati perkembangan BI Rate, daya beli masyarakat, dan potensi perlambatan ekonomi yang dapat memengaruhi permintaan kendaraan pada semester II," tambah Elandry.
Adapun Nafan merekomendasikan investor untuk melakukan add pada saham ASII dengan target harga Rp 5.225 per saham.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News













![[Intensive Workshop] Business Dashboard, From Excel to Power BI](https://fs-media.kontan.co.id/kstore/upload/brand_images/brand_images_24062609492500.jpg)
