Reporter: Shabrina Almaira | Editor: Anna Suci Perwitasari
KONTAN.CO.ID - JAKARTA. PT Cisarua Mountain Dairy Tbk (CMRY) mencatatkan pertumbuhan pendapatan sebesar 26,12% menjadi Rp 9,92 triliun di sembilan bulan pertama 2026. Namun, laba bersih CMYR hanya naik 7,28% menjadi Rp 1,71 triliun.
Senior Market Analyst Mirae Asset Sekuritas Nafan Aji Gusta mengatakan, kinerja CMRY menunjukkan adanya ketidakselarasan (decoupling) antara laju pertumbuhan pendapatan (top-line) yang impresif dan laju pertumbuhan laba bersih (bottom-line) yang cenderung melambat. Kondisi tersebut terutama disebabkan oleh tekanan margin profitabilitas atau margin compression.
“Penyebab utama dari ketidakselarasan pertumbuhan tersebut adalah adanya tekanan pada marjin profitabilitas (margin compression). Peningkatan pendapatan sebesar 26,12% YoY menjadi Rp 9,92 triliun tidak diimbangi dengan efisiensi biaya secara proporsional,” ujar Nafan kepada Kontan, Selasa (3/11/2026).
Baca Juga: Midi Utama Indonesia (MIDI) Akan Bagikan Dividen Interim Rp 127,05 Miliar
Menurutnya, CMRY menghadapi lonjakan beban pokok pendapatan (COGS) akibat kenaikan harga bahan baku utama impor, seperti susu segar, skimmed milk powder, dan bahan kemasan yang dipengaruhi oleh volatilitas nilai tukar rupiah.
Selain itu, perusahaan juga sangat agresif mengalokasikan anggaran pemasaran, promosi brand, serta ekspansi saluran distribusi seperti Miss Cimory dan modern trade. Sehingga, beban operasional tersebut tumbuh lebih cepat dibandingkan margin kotor yang dihasilkan.
Meski demikian, Nafan bilang, prospek kinerja CMRY hingga akhir 2026 dan memasuki 2027 tetap positif, meski bergerak moderat.
“Pertumbuhan ini didukung oleh ketahanan konsumsi domestik pada segmen produk FMCG bernilai tambah (value-added), ditambah dorongan musim puncak (peak season) libur akhir tahun serta momentum Ramadan dan Idul Fitri di awal 2027,” jelasnya.
Selain itu, penetrasi jaringan distribusi yang semakin luas ke kota-kota tier-2 dan tier-3 mulai menunjukan kontribusi terhadap efisiensi penjualan secara bertahap.
Pergerakan kinerja dan saham CMRY dipengaruhi oleh sejumlah sentimen. Dari sisi positif, perusahaan didukung oleh kekuatan brand equity yang kokoh pada produk Cimory dan Kanzler, kemampuan inovasi produk baru secara konsisten, serta posisi neraca yang sehat dengan tingkat utang rendah (low leverage).
Adapun sentimen negatif yang perlu dicermati mencakup volatilitas harga komoditas susu dunia, potensi depresiasi rupiah yang meningkatkan biaya impor, serta persaingan dari produsen FMCG sejenis di segmen makanan olahan dan produk susu.
Baca Juga: MNC Tourism (KPIG) Kantongi Pendapatan Rp 1,66 Triliun hingga September 2026
Lebih lanjut, Nafan mengatakan tantangan utama CMRY ke depan adalah mengendalikan margin di tengah inflasi biaya operasional dan logistik rantai dingin (cold chain), sementara menjaga volume penjualan agar tidak tertekan jika terjadi penyesuaian harga jual.
Untuk menghadapi tantangan tersebut, perusahaan perlu memperkuat efisiensi rantai pasok dengan mengoptimalkan penggunaan bahan baku lokal. Perusahaan juga perlu menerapkan pengawasan ketat terhadap efektivitas biaya pemasaran (ROI-driven marketing).
Selain itu, CMRY dapat melakukan penyesuaian harga jual secara terukur pada produk bermargin tinggi, serta memperluas penetrasi pasar ekspor regional sebagai bentuk perlindungan nilai (natural hedging) terhadap mata uang asing.
“Secara keseluruhan, pembenahan efisiensi operasional akan menjadi kunci utama agar laju pertumbuhan laba bersih perseroan dapat kembali seirama dengan ekspansi pendapatannya,” tuturnya.
Adapun untuk rekomendasi saham, Nafan menetapkan target harga saham CMRY sebesar Rp 4.810.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News














