kontan.co.id
banner langganan top
| : WIB | INDIKATOR |
  • EMAS 3.045.000   -77.000   -2,47%
  • USD/IDR 16.919   17,00   0,10%
  • IDX 7.577   -362,70   -4,57%
  • KOMPAS100 1.058   -52,77   -4,75%
  • LQ45 772   -33,15   -4,11%
  • ISSI 268   -15,46   -5,46%
  • IDX30 410   -16,83   -3,94%
  • IDXHIDIV20 502   -16,39   -3,16%
  • IDX80 119   -5,62   -4,51%
  • IDXV30 136   -4,86   -3,45%
  • IDXQ30 132   -4,99   -3,63%

Pencairan THR 2026 Jadi Katalis Emiten Konsumer dan Ritel, Cek Rekomendasi Sahamnya


Rabu, 04 Maret 2026 / 20:19 WIB
Diperbarui Rabu, 04 Maret 2026 / 20:21 WIB
Pencairan THR 2026 Jadi Katalis Emiten Konsumer dan Ritel, Cek Rekomendasi Sahamnya


Reporter: Rashif Usman | Editor: Handoyo

KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Menjelang Lebaran, pemerintah mulai mencairkan Tunjangan Hari Raya (THR) bagi Aparatur Sipil Negara (ASN) dengan total anggaran mencapai Rp 55 triliun. Selain itu, Bonus Hari Raya (BHR) untuk pengemudi ojek online diperkirakan menembus Rp 220 miliar. Adapun, pencairan THR di sektor swasta diproyeksikan mencapai Rp 124 triliun.

Nah, besarnya dana yang beredar di masyarakat tersebut diyakini akan mendongkrak konsumsi dan memperkuat daya beli, yang pada gilirannya berpotensi memberikan dampak positif bagi perusahaan tercatat di Bursa Efek Indonesia (BEI).

Co-Founder AP Trading Insight Singapore, Kiswoyo Adi Joe, menilai penyaluran THR dan BHR akan mendorong belanja rumah tangga pada periode musiman ini. Peningkatan konsumsi tersebut pada akhirnya berpeluang menopang kinerja emiten produsen barang konsumsi, seiring lonjakan permintaan menjelang perayaan Lebaran.

Menurutnya, momentum Lebaran merupakan puncak konsumsi di Indonesia. Pertumbuhan ekonomi nasional yang ditopang konsumsi domestik biasanya mencapai titik tertinggi saat Lebaran, disusul periode Natal dan Tahun Baru.

Baca Juga: Pencairan THR 2026 Jadi Katalis Emiten Konsumer dan Ritel, Cek Rekomendasi Sahamnya

Kondisi ini secara historis membawa dampak positif bagi emiten produsen konsumer, seperti PT Indofood Sukses Makmur Tbk (INDF), PT Indofood CBP Sukses Makmur Tbk (ICBP), PT Mayora Indah Tbk (MYOR), PT Ultrajaya Milk Industry & Trading Company Tbk (ULTJ), dan PT Cisarua Mountain Dairy Tbk (CMRY), termasuk produsen unggas.

Ia menekankan, kenaikan penjualan hampir pasti terjadi pada periode ini. Namun, pertumbuhan laba bersih belum tentu sejalan karena tetap dipengaruhi faktor biaya bahan baku.

"Secara historis, dari rata-rata penjualan bulanan, kinerja emiten saat momentum Lebaran dapat terdongkrak sekitar 3%–5%," kata Kiswoyo kepada Kontan, Rabu (4/3/2026).

Untuk sektor ritel, Kiswoyo melihat tantangan berbeda. Perubahan pola bisnis, di mana produsen kini bisa menjual langsung ke konsumen melalui kanal e-commerce, membuat prospek peritel perlu dicermati lebih selektif, terutama dari sisi segmen pasar dan lokasi gerai.

Meski demikian, peritel modern yang menyasar segmen menengah atas dinilai masih memiliki peluang peningkatan kinerja, seperti PT Mitra Adiperkasa Tbk (MAPI).

Secara terpisah, Kepala Riset Korea Investment & Sekuritas (KISI) Muhammad Wafi mengamini pencairan THR dan BHR yang masif menjadi katalis positif utama yang langsung dorong daya beli masyarakat, khususnya kelas menengah ke bawah.

Baca Juga: Saham Emiten Perkapalan Masih Tertekan, Begini Penjelasan Analis

"Suntikan likuiditas ini akan dorong volume penjualan dan margin emiten FMCG serta peritel di semester I-2026," ucap Wafi kepada Kontan, Rabu (4/3/2026).

Wafi memilih AMRT dan MYOR untuk dicermati bagi para investor. Pasalnya, AMRT diuntungkan oleh luasnya jaringan gerai yang menangkap langsung kenaikan belanja kebutuhan pokok harian masyarakat. Sementara MYOR mendapat keuntungan ganda dari kenaikan permintaan musiman produk biskuit dan makanan ringan khas perayaan Lebaran.

Tambahan untuk segmen menengah atas, MAPI juga akan terdorong oleh peningkatan belanja pakaian dan gaya hidup.

Alokasi Aset

Wafi menuturkan dana THR tidak melulu harus diarahkan ke pasar saham, karena terdapat berbagai instrumen investasi lain yang dapat menjadi pilihan. Ia juga menekankan, sebaiknya THR tidak dihabiskan sepenuhnya untuk konsumsi.

Menurut Wafi, instrumen yang relatif aman dan likuid antara lain Reksa Dana Pasar Uang (RDPU), Surat Berharga Negara (SBN) Ritel, maupun emas.

"Alokasi ideal yang disarankan adalah 10%-20% dari total THR untuk diinvestasikan di awal, sebelum sisa dananya digunakan untuk kebutuhan hari raya dan pelunasan utang jangka pendek," tambah Wafi.

Baca Juga: Melihat Prospek Pasar Saham pasca Penurunan Rating Fitch

Di sisi lain, Kiswoyo menyarankan strategi alokasi aset yang lebih agresif, yakni 50% ditempatkan pada saham, 30% pada emas batangan, dan 20% sisanya disimpan dalam bentuk kas.

Rekomendasi Saham

Dari sisi pergerakan harga saham, Kiswoyo mengingatkan investor untuk tetap mengacu pada tren Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG). Jika IHSG berada dalam tren naik, saham-saham konsumer umumnya ikut bergerak positif.

Untuk horizon satu tahun ke depan, ia merekomendasikan saham INDF dengan target harga Rp 7.000–Rp 7.500 per saham, ICBP di kisaran Rp 9.000–Rp 10.000, MYOR pada Rp 2.300–Rp 2.500, ULTJ di level Rp 1.700, serta CMRY di sekitar Rp 6.000 per saham.

Adapun Wafi menyarankan untuk mencermati saham AMRT, MYOR, dan MAPI dengan target harga masing-masing Rp 2.400, Rp 3.000, dan Rp 2.100.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News




TERBARU
Kontan Academy
AI untuk Digital Marketing: Tools, Workflow, dan Strategi di 2026 Mastering Strategic Management for Sustainability

[X]
×