Penulis: Muhammad Alief Andri | Editor: Tri Sulistiowati
KONTAN.CO.ID - JAKARTA. PT Kimia Farma Tbk (KAEF) masih menghadapi tantangan untuk memulihkan profitabilitas secara berkelanjutan meski berhasil memangkas rugi bersih sebesar 94,5% secara tahunan menjadi Rp 12,91 miliar hingga September 2026. Beban keuangan yang masih tinggi menjadi salah satu faktor yang membayangi perbaikan kinerja perusahaan.
Analis Fundamental BRI Danareksa Sekuritas Abida Massi Armand menilai, peluang Kimia Farma untuk kembali membukukan laba bersih sepanjang 2026 masih cukup menantang. Pasalnya, perbaikan kinerja perusahaan belum konsisten sepanjang tahun ini.
Kimia Farma sempat mencatatkan laba sekitar Rp 123,6 miliar pada kuartal I-2026. Namun, perusahaan kembali membukukan kerugian pada kuartal II dan III-2026.
Baca Juga: IHSG Anjlok 3,78% ke Bawah 5.000, Analis Ungkap Level Kritis Berikutnya
"Pola ini menunjukkan pemulihan belum stabil. Peluang kembali mencetak laba bersih setahun penuh di 2026 cukup menantang, sementara 2027 lebih realistis jika efisiensi berlanjut dan beban keuangan bisa ditekan," ujar Abida kepada Kontan, Selasa (3/11/2026).
Dari sisi operasional, langkah efisiensi Kimia Farma mulai menunjukkan hasil melalui perbaikan laba usaha. Upaya tersebut dilakukan antara lain dengan merasionalisasi jaringan apotek, klinik, dan pabrik yang tidak produktif, serta mengendalikan beban operasional.
Namun, Abida mengingatkan bahwa perusahaan perlu memastikan efisiensi tersebut berlangsung secara berkelanjutan dan diikuti pertumbuhan penjualan. "Tantangannya adalah memastikan efisiensi ini berkelanjutan dan diikuti pertumbuhan penjualan, karena penghematan biaya memiliki batas," jelasnya.
Selain efisiensi, pengelolaan modal kerja juga menjadi faktor penting dalam menjaga arus kas. Abida menilai, penagihan piutang dan pengelolaan persediaan perlu diperkuat agar kebutuhan modal kerja dapat dikendalikan.
"Dari sisi arus kas, perbaikan modal kerja, terutama penagihan piutang dan pengelolaan persediaan, menjadi kunci," kata Abida.
Di sisi lain, beban keuangan masih menjadi titik lemah utama KAEF. Beban bunga menggerus perbaikan laba operasional, sementara utang bank jangka panjang meningkat di tengah ekuitas yang relatif stagnan.
Abida menilai, kondisi tersebut membuat perusahaan perlu memperbaiki struktur pendanaan, terlebih ketika suku bunga masih tinggi. "Dengan suku bunga yang masih tinggi, penurunan beban keuangan membutuhkan restrukturisasi utang, monetisasi aset non-inti, atau dukungan permodalan dari induk dalam ekosistem holding BUMN farmasi," ungkapnya.
Langkah tersebut diperlukan agar perbaikan operasional dapat lebih optimal tercermin pada kinerja laba bersih. Prospek pemulihan KAEF pada 2027 akan bergantung pada keberlanjutan efisiensi, pertumbuhan penjualan, serta kemampuan perusahaan memperbaiki struktur pendanaan.
Baca Juga: Deretan Saham Ini Masih Jadi Buruan Investor Asing, Cek Prospeknya
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News














