Reporter: Vatrischa Putri Nur | Editor: Ignatia Maria Sri Sayekti
KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Prospek saham PT Japfa Comfeed Indonesia Tbk (JPFA) masih mendapat pandangan positif dari sejumlah analis. Pemulihan harga livebird dan day-old chick (DOC) menjadi katalis kinerjanya.
Namun, kenaikan harga bahan baku, terutama soybean meal (SBM), menjadi salah satu tantangan yang perlu dicermati investor.
Analis Binaartha Sekuritas, Eka Rahmah, berpandangan bahwa pertumbuhan solid di sejumlah segmen bisnis bisa menjadi pertimbangan. Eka mencermati, kinerja JPFA masih ditopang oleh peningkatan volume penjualan dan kenaikan harga jual rata-rata (ASP) di sebagian besar segmen bisnis.
Salah satu segmen yang menopang kinerja ialah Poultry Processing & Consumer Products. Pendapatan segmen ini tumbuh 31,8% YoY menjadi Rp 3,2 triliun pada kuartal II-2026. Kinerja lebih kuat terlihat pada segmen Day Old Chick (DOC). Pendapatan segmen DOC melonjak 140% YoY dan 60% QoQ menjadi Rp 1,7 triliun.
Sementara itu, segmen pakan mencatat pertumbuhan pendapatan 56,3% YoY dan 7,8% QoQ menjadi Rp 5,25 triliun. Namun, margin segmen pakan turun menjadi 20,5% dari 22,7%. Kata Eka, Harga bahan baku masih menjadi faktor utama yang memengaruhi profitabilitas segmen pakan.
“Harga jagung bergerak dalam kisaran Rp 4.000-Rp 6.573 per kilogram dan mencapai Rp 6.573 per kilogram pada Agustus 2026. Sementara itu, harga kedelai relatif stabil di sekitar Rp 10.600 per kilogram,” jelas Rahma dalam riset, 22 September 2026.
Baca Juga: Kinerja JPFA Melonjak di Semester I-2026, Berikut Rekomendasi Sahamnya
Di sisi lain, segmen Commercial Farming mencatat pertumbuhan penjualan 19,8% YoY menjadi Rp 6,29 triliun pada kuartal II-2026. Adapun segmen Aquaculture membukukan pertumbuhan pendapatan 39% YoY menjadi Rp 1,62 triliun.
Ke depan, Eka melihat kinerja JPFA pada semester II-2026 masih terbuka seiring perbaikan harga DOC dan livebird pada Juli dan mencapai level tertinggi tahun ini pada Agustus.
Kendati demikian, Equity Analyst Ajaib Sekuritas, Alvin Timothy Murthi, justru memandang sebaliknya. Ia menyebut terdapat tantangan baru yang membayangi JPFA pada semester II-2026, yakni kenaikan harga soybean meal (SBM).
Alvin mencatat, harga SBM telah mencapai US$ 355,2 per ton pada September, naik signifikan dari sekitar US$ 301,4 per ton pada Juni.
Menurut Alvin, kenaikan tajam tersebut berpotensi memberikan tekanan tambahan terhadap segmen commercial farm.
Tak sampai situ saja, ia pun memperkirakan apabila harga ayam broiler (livebird) tidak kembali menembus Rp 21.000 per kilogram dalam waktu dekat, JPFA akan menghadapi tantangan yang semakin besar dalam mempertahankan profitabilitas segmen commercial farm.
Meski demikian, Alvin masih melihat tren positif pada harga livebird dalam dua bulan terakhir. “Jika tren pemulihan tersebut berlanjut, kondisi ini berpotensi memberikan sedikit ruang bagi perbaikan margin JPFA,” terang Alvin.
Nah, sejalan dengan pendapat itu, Analis CGS International Sekuritas Indonesia, Jason Chandra, pun bilang bahwa harga livebird mulai menunjukkan pemulihan sejak pertengahan Juli 2026.
Harga ayam broiler kini bertahan di sekitar Rp 25.000 per kilogram, dibandingkan dengan biaya produksi sekitar Rp 21.000 per kg. Kondisi tersebut dinilai mulai menunjukkan perbaikan profitabilitas pada kuartal III-2026.
Baca Juga: Laba Japfa (JPFA) Naik Dua Kali Lipat, Prospek Kinerja Diproyeksi Positif
Menurut Jason, pemulihan harga broiler tidak hanya didorong oleh pulihnya konsumsi pasca Suro, tetapi juga keberhasilan program culling yang didorong pemerintah pada Juni-Juli 2026. Tambahan permintaan juga dapat berasal dari implementasi program pemerintah Makan Bergizi Gratis (MBG).
"Pemulihan harga ayam broiler dan permintaan tersebut menjadi sinyal positif bagi profitabilitas perusahaan unggas pada kuartal III-2026," ujar Jason.
Di sisi lain, harga DOC juga mulai pulih sejak awal Agustus 2026 dan telah berada di atas Rp 7.000. Jason menyebut kondisi tersebut mencerminkan optimisme pelaku usaha pembibitan terhadap prospek permintaan broiler ke depan.
Tetapi, Jason juga memperhitungkan kenaikan potensi biaya bahan baku. Risiko gangguan panen jagung akibat fenomena El Nino pada kuartal I-2027 turut mendorong adanya tekanan. Dengan mempertimbangkan faktor tersebut, Jason memperkirakan biaya bahan baku bakal meningkat 23% pada 2026 dan kembali naik 15% pada 2027.
Meskipun demikian, Alvin memproyeksi kinerja keuangan JPFA masih tetap tumbuh pada full year 2026. Berdasarkan proyeksi dalam riset Ajaib Sekuritas, pendapatan JPFA pada 2026 diperkirakan mencapai sekitar Rp 65,41 triliun, tumbuh 7,73% dibandingkan realisasi 2025 sebesar Rp 60,72 triliun.
Sejalan dengan itu, laba bersih JPFA diproyeksikan mencapai sekitar Rp 4,11 triliun pada 2026. Angka tersebut hanya meningkat sekitar 2,7% YoY dibandingkan realisasi laba bersih 2025 sebesar Rp 4,00 triliun.
Dari sisi strategi berinvestasi, Alvin memberikan rekomendasi untuk buy JPFA dengan target harga Rp 3.200 per saham. Pun Eka juga merekomendasikan untuk buy JPFA dengan target harga Rp 3.350 per saham.
Kemudian Jason memberikan rekomendasi kepada investor untuk add JPFA dengan target harga Rp 3.700 per saham.
Baca Juga: Harga Ayam Turun, Indo Premier Yakin Kinerja Japfa (JPFA) Pulih di Semester II
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News














