kontan.co.id
banner langganan top
| : WIB | INDIKATOR |
  • EMAS 2.640.000   15.000   0,57%
  • USD/IDR 18.013   50,00   0,28%
  • IDX 5.745   49,44   0,87%
  • KOMPAS100 744   8,79   1,19%
  • LQ45 565   8,75   1,57%
  • ISSI 199   0,85   0,43%
  • IDX30 321   4,92   1,56%
  • IDXHIDIV20 395   5,89   1,52%
  • IDX80 85   1,16   1,39%
  • IDXV30 107   1,21   1,14%
  • IDXQ30 103   1,26   1,24%

Pemangkasan lanjutan diragukan, harga minyak WTI terkoreksi ke US$ 36,59 per barel


Kamis, 04 Juni 2020 / 15:48 WIB
ILUSTRASI. Harga minyak mentah WTI turun


Reporter: Hikma Dirgantara | Editor: Anna Suci Perwitasari

Jika kondisi ini terus berlarut-larut, Faisyal menilai Arab dan Rusia berpotensi untuk membatalkan niatnya untuk kembali memangkas produksi sebanyak 9,7 juta bph pada Juli. 

“Hal ini tentu akan membuat kondisi oversupply kembali terjadi, ditambah lagi pemulihan global juga sejauh ini belum menunjukkan kembalinya permintaan secara signifikan. Sehingga ini akan berpeluang membuat harga minyak WTI kembali jatuh,” tambah dia.

Harga minyak WTI juga mendapat tekanan setelah cadangan bensin di Amerika Serikat (AS) berlimpah. Selain itu, bayang-bayang ketegangan antara AS dan China juga masih menghantui pergerakan minyak.

Baca Juga: Harga batubara mulai atraktif, simak saham pilihan untuk pekan ini

Dengan kondisi saat ini, Faisyal memproyeksikan secara jangka pendek, minyak WTI akan mungkin masih betah berada di level US$ 30-an per barel. Terlebih naiknya harga minyak WTI belakangan juga dinilai sudah terlalu tinggi.

“Untuk sepekan ke depan, harga minyak WTI akan volatil dan rantangnya cukup lebar, berkisar US$ 25 - US$ 45 per barel. Kuncinya tentu ada di pertemuan OPEC+, jika kesepakatan berhasil harga minyak WTI akan naik, namun jika tidak ada kunjung kesepakatan maka yang terjadi sebaliknya,” pungkas Faisyal

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News




TERBARU
KONTAN DIGITAL PREMIUM ACCESS
Kontan Academy
Inventory Management: From Chaos to Control Sales Coaching: Lead Better, Sell More!

[X]
×