kontan.co.id
banner langganan top
| : WIB | INDIKATOR |
  • EMAS 2.655.000   -15.000   -0,56%
  • USD/IDR 17.985   -35,00   -0,19%
  • IDX 5.986   70,43   1,19%
  • KOMPAS100 782   11,35   1,47%
  • LQ45 595   10,44   1,79%
  • ISSI 206   0,99   0,48%
  • IDX30 337   5,69   1,72%
  • IDXHIDIV20 416   7,36   1,80%
  • IDX80 89   1,44   1,65%
  • IDXV30 113   2,29   2,08%
  • IDXQ30 108   1,76   1,65%

Pelemahan Harga Ayam Tekan Kinerja Japfa (JPFA), Ini Katalis Penopang Kinerjanya


Selasa, 07 Juli 2026 / 18:38 WIB
Pelemahan Harga Ayam Tekan Kinerja Japfa (JPFA), Ini Katalis Penopang Kinerjanya
ILUSTRASI. Harga ayam dan DOC anjlok, menekan kinerja Japfa (JPFA) di kuartal II-2026. Kelebihan pasokan dan pola musiman jadi penyebab. Cek rekomendasinya (JAPFA/ADV)


Reporter: Vatrischa Putri Nur | Editor: Anna Suci Perwitasari

KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Prospek kinerja PT Japfa Comfeed Indonesia Tbk (JPFA) diperkirakan menghadapi tekanan pada kuartal II-2026 seiring pelemahan harga ayam broiler dan day-old chick (DOC). Meski demikian, sejumlah analis memprediksi emiten unggas ini masih positif pada semester II-2026. 

Analis CGS International Sekuritas Indonesia Jason Chandra mengatakan, pelemahan harga ayam dan DOC diperkirakan akan menekan kinerja emiten unggas pada kuartal II-2026. 

Rata-rata harga ayam broiler hingga Juni 2026 turun menjadi sekitar Rp 20.000 per kilogram atau turun 6% dibandingkan Mei 2026. Sementara itu, harga DOC melemah menjadi sekitar Rp 5.900 per ekor atau turun 16% secara bulanan. 

Menurut Jason, pelemahan tersebut merupakan pola musiman yang lazim terjadi selama bulan Suro. Apabila tren tersebut berlanjut, rata-rata harga ayam broiler pada kuartal II-2026 diperkirakan berada di level Rp 20.900 per kilogram, turun 15% secara kuartalan (QoQ), namun masih naik 4% secara tahunan (YoY). 

Baca Juga: Sentimen Domestik Masih Membayangi Rupiah di Kuartal III 2026, Ini Kata Analis

Adapun harga DOC diproyeksikan mencapai rata-rata Rp 6.600 per ekor, turun 10% QoQ tetapi meningkat 38% YoY. Berdasarkan pola historis lima tahun terakhir, harga ayam broiler biasanya turun sekitar 5% secara bulanan (MoM) selama periode Suro, sebelum kembali pulih sekitar 2% pada bulan berikutnya. 

“Analis memperkirakan pola serupa akan kembali terjadi pada Juli 2026 setelah periode Suro berakhir, didukung oleh kebijakan pemerintah, yaitu pengurangan (culling) pasokan DOC sebesar 5%–7% pada Juni 2026,” ujar Jason dalam riset 26 Juni 2026.

Selain itu, penerapan harga jual ayam livebird Rp 19.500 per kilogram di tingkat peternak yang berlaku efektif sejak awal Juni 2026, juga turut memengaruhi.

Hal lain dicermati oleh Analis NH Korindo Sekuritas Indonesia Steven Willie. Steven bilang, dari sisi pasokan, Direktorat Jenderal Peternakan dan Kesehatan Hewan (Ditjen PKH) mengindikasikan adanya kondisi kelebihan pasokan (oversupply) pada periode setelah Lebaran, sekitar 5%–10% di atas permintaan mingguan normal, terutama di wilayah Jawa.

Kelebihan pasokan tersebut dipicu oleh dua faktor utama, yakni permintaan konsumen kembali normal setelah tingginya konsumsi selama periode Lebaran dan juga karena siklus produksi ayam berlangsung bersamaan, di mana peningkatan penempatan DOC menjelang Lebaran menyebabkan pasokan ayam memuncak setelah musim libur berakhir.

Kondisi ini diperparah oleh keberadaan peternak musiman yang masuk ke bisnis pembesaran ayam menjelang Lebaran untuk memanfaatkan tingginya permintaan.

“Diperkirakan fase normalisasi permintaan ini masih akan berlanjut hingga kuartal III-2026, sesuai pola musiman yang umumnya terjadi pada pertengahan tahun,” jelas Steven.

Kendati demikian, Jason menyebut prospek JPFA masih akan positif pasa semester II-2026, didasarkan pada harga ayam broiler yang diperkirakan tetap tinggi, didukung oleh keberlanjutan program Makan Bergizi Gratis (MBG) pada 2026. 

Baca Juga: Rupiah Diproyeksi Volatil di Kuartal III-2026, Terbebani Sentimen Fiskal & Suku Bunga

Meskipun pemerintah memangkas anggaran serta jumlah penerima program menjadi sekitar 50 juta orang, tambahan konsumsi ayam broiler diperkirakan masih dapat mencapai sekitar 1,2 juta ton. Kondisi ini diproyeksikan mampu menurunkan tingkat kelebihan pasokan (oversupply) ayam broiler dari sekitar 58% pada 2025 menjadi 30% pada 2026. 

Head of Research KISI Sekuritas, Muhammad Wafi, menjelaskan, prospek JPFA dalam tiga tahun ke depan masih menjanjikan. Hal ini ditopang oleh berlanjutnya penurunan utang, potensi kenaikan dividen, serta meningkatnya kontribusi bisnis makanan olahan. 

Menurut Wafi, dari sisi struktur permodalan, rasio net debt to equity JPFA diproyeksikan terus membaik, dari sekitar 40% pada tahun buku 2025 menjadi sekitar 23% pada tahun buku 2028. Penurunan rasio utang tersebut dinilai akan memberikan ruang yang lebih besar bagi perseroan untuk meningkatkan pembagian dividen maupun melakukan buyback

Selain itu, Wafi melihat segmen processed food akan menjadi salah satu motor pertumbuhan baru bagi JPFA. Pendapatan dari segmen tersebut diproyeksikan meningkat sekitar 62% dalam tiga tahun, dari Rp 10,6 triliun menjadi Rp 17,2 triliun. 

Sejalan dengan itu, Wafi memperkirakan pendapatan JPFA diproyeksikan mencapai Rp 64,66 triliun pada tahun 2026, meningkat sekitar 6,5% dibandingkan realisasi 2025 sebesar Rp 60,72 triliun.

Laba bersih diperkirakan naik sekitar 4,1% secara tahunan menjadi Rp 4,17 triliun, dari realisasi Rp 4 triliun pada 2025.

 

Berdasarkan faktor di atas, Jason memberikan rekomendasi kepada investor untuk add saham JPFA dengan target harga Rp 3.300 per saham. Steven memberikan rekomendasi buy saham JPFA dengan target Rp 3.300 per saham.

Sementara itu, Equity Research Analyst Ajaib Sekuritas Asia Alvin Timothy Murthi memberikan rekomendasi untuk buy saham JPFA dengan target 3.200 per saham.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News




TERBARU

[X]
×