Reporter: Pulina Nityakanti | Editor: Tri Sulistiowati
KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Pasar saham Tanah Air masih belum volatil merespons mundurnya Perry Warjiyo dari jabatan Gubernur Bank Indonesia (BI) pagi tadi.
Asal tahu saja, Menteri Sekretaris Negara Prasetyo Hadi pada Senin (27/7/2026) mengumumkan Perry Warjiyo mengundurkan diri dari jabatannya. Deputi Gubernur Senior BI Destry Damayanti ditunjuk sebagai pelaksana tugas (Plt.) Gubernur BI, sementara Destry menyatakan pengunduran diri Perry dilakukan karena alasan pribadi.
Hari ini, Indeks Harga Saham Gabungan turun 0,17% ke level 6.185 pada akhir perdagangan di Bursa Efek Indonesia (BEI).
Pengamat pasar modal sekaligus Direktur Avere Investama, Teguh Hidayat melihat, mundurnya Perry adalah kabar mengejutkan. Sebab, hal serupa dilakukan terakhir kali oleh Boediono hampir 20 tahun lalu lantaran maju sebagai calon wakil presiden pada Pemilu 2009.
Baca Juga: Rupiah Tertekan Imbas Pengunduran Diri Gubernur BI, Simak Proyeksinya Selasa (28/7)
Ketidakjelasan alasan mundurnya Perry dari jabatan itu pun disayangkan oleh Teguh. Hal ini juga bisa memicu turunnya penilaian lembaga pemeringkatan global, seperti S&P dan MSCI ke pasar Indonesia. Artinya, dana asing akan kembali mengalir keluar dalam beberapa waktu ke depan.
“Apalagi kalau (Perry) sampai mundur karena ada tekanan, artinya ada campur tangan pemerintah,” ujarnya kepada Kontan, Senin (27/72026).
Meskipun begitu, Teguh melihat pasar saham Indonesia masih prospektif hingga akhir tahun 2026. Hal ini lantaran pasar saham berlanjut menunjukkan perbaikan di tengah situasi campur tangan pemerintah dan sentimen negatif lainnya sejak awal tahun ini.
Sepanjang hari ini, dana asing mengalir keluar sebesar Rp 491,89 miliar di pasar reguler dan Rp 820,67 miliar di seluruh pasar. Aliran dana asing juga sudah keluar Rp 93,60 triliun sejak awal tahun 2026.
Namun, penurunan IHSG hari ini tak terlalu dalam. Bahkan, ada peningkatan sebesar 6,27% dalam sebulan terakhir di tengah keluarnya dana asing.
Alasannya, pasar lebih memperhatikan bagaimana BI mengeluarkan kebijakan yang tepat. Termasuk salah satunya adalah keputusan ditahannya suku bunga acuan di level 5,75% di bulan Juli 2026.
Tapi, menjadi hal lain lagi jika Deputi Gubernur BI Thomas Djiwandono yang kelak ditunjuk menjadi pengganti Perry. Respons pasar mungkin bisa berbeda.
”Bukan terkait kapabilitas Beliau, tetapi sentimen pasar terkait hubungan Beliau sebagai ‘keponakan’,” paparnya.
Alhasil, Teguh juga masih optimistis IHSG masih bisa menyentuh level 7.500 di akhir 2026. Sektor perbankan juga masih bisa diperhatikan oleh investor hingga akhir tahun.
Head of Research Kiwoom Sekuritas Indonesia Liza Camelia Suryanata mengatakan, apabila Thomas benar-benar ditunjuk sebagai gubernur BI yang baru, burden of proof berada pada pemerintah.
Pemerintah harus bisa buktikan bahwa BI tidak sedang diubah jadi perpanjangan tangan kabinet ekonomi. Tanpa komunikasi dan pembuktian yang kuat, pasar bisa merespons negatif melalui pelemahan rupiah, kenaikan imbal hasil surat berharga negara (SBN), dan meningkatnya risk premium.
“Serta, munculnya kekhawatiran bahwa keputusan suku bunga atau aksi stabilisasi rupiah ke depan lebih banyak didorong oleh tekanan politik daripada pertimbangan moneter,” ujarnya dalam riset Kiwoom Sekuritas Indonesia, Senin (27/7).
Liza menegaskan, pengunduran diri Perry memang belum menjadi bukti bahwa independensi BI sudah hilang.
Namun, apabila setelah pagar kelembagaan BI diperlemah oleh Undang-Undang Pengembangan dan Penguatan Sektor Keuangan (UUP2SK) dan kemudian nantinya posisi Gubernur BI diberikan kepada kerabat Presiden RI yang baru berapa bulan berada di bank sentral, maka wajar apabila pasar bertanya-tanya.
“Wajar jika pasar bertanya apakah independensi BI masih benar-benar hidup secara de facto, atau hanya tersisa secara de jure di dalam undang-undang?” Tuturnya.
Ekonom Panin Sekuritas, Muhammad Zaidan melihat, sejumlah narasi di pasar saat ini dan ke depannya memang memberikan persepsi negatif terhadap mundurnya Perry.
“Namun, saat ini pasar masih relatif wait-and-see. Ini terlihat dari Rupiah yang dibuka melemah wajar, CDS yang flat, dan yield SBN tercatat mixed antartenor,” ujarnya kepada Kontan, Senin (27/7).
Di tengah situasi saat ini, pergerakan IHSG juga diprediksi masih akan berada di tren sideways. Zaidan mengatakan, Panin Sekuritas masih mempertahankan target IHSG pada kisaran 6.521 - 7.982 hingga akhir 2026.
“Sentimen utamanya mengacu pada progress reformasi Bursa Efek Indonesia (BEI) yang menanggapi MSCI serta rilis laporan keuangan emiten,” tuturnya.
Baca Juga: Puradelta Lestari (DMAS) Kantongi Marketing Sales Rp 1,15 Triliun per Semester I 2026
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News













