Reporter: Vatrischa Putri Nur | Editor: Herlina Kartika Dewi
KONTAN.CO.ID – JAKARTA. Surat Berharga Negara (SBN) berpotensi mendapatkan sentimen positif apabila bank sentral Amerika Serikat (The Fed) dan Bank Indonesia (BI) sama-sama mempertahankan suku bunga acuannya dalam rapat pekan ini.
Untuk diketahui, dua peristiwa penting yakni pertemuan FOMC bulan Juni 2026 dijadwalkan berlangsung pada 16–17 Juni 2026. Pengumuman keputusan suku bunga The Fed akan dirilis pada 18 Juni 2026 pukul 01.00 WIB dini hari. Ada pun, RDG (Rapat Dewan Gubernur) bulanan BI dilakukan 17-18 Juni.
Pelaku pasar memperkirakan dua bank sentral tersebut akan menahan suku bunga acuannya dalam rapat bulan Juni ini. Fed Funds Rate saat ini berada di kisaran 3,50% hingga 3,75%. Ada pun BI-Rate kini di level 5,50%.
Baca Juga: Rupiah Melemah ke Rp 17.762 per dolar AS Jelang Dua Agenda Bank Sentral
Kendati demikian Ekonom Center of Reform on Economics (CORE) Indonesia, Yusuf Rendy Manilet, menyebut fokus pasar saat ini bukan lagi pada kemungkinan kenaikan suku bunga BI, melainkan konfirmasi bahwa BI-Rate akan tetap berada di level 5,50% setelah kenaikan yang dilakukan di luar jadwal rapat bulanan.
Sebelumnya dalam RDG mingguan 9 Juni 2026, BI telah menaikkan BI-Rate sebesar 25 basis poin menjadi 5,50%, setelah sebelumnya menaikkan suku bunga 50 basis poin pada RDG Mei dari 4,75% menjadi 5,25%.
Menurut Yusuf, langkah tersebut diambil sebagai respons pre-emptive untuk menjaga stabilitas nilai tukar rupiah di tengah meningkatnya tekanan global. Dengan kerangka tersebut, skenario paling mungkin menurut Yusuf saat ini adalah The Fed dan BI sama-sama mempertahankan suku bunga.
Bagi pasar SBN, skenario tersebut dinilai berdampak positif hingga netral. Pasalnya, ekspektasi bahwa The Fed akan menahan suku bunga sebagian besar telah tercermin dalam harga aset.
Yusuf menjelaskan, faktor yang lebih menentukan arah pasar ke depan adalah panduan kebijakan moneter The Fed, terutama melalui proyeksi suku bunga (dot plot) serta komunikasi Ketua The Fed, Kevin Warsh.
Sementara dari dalam negeri, keputusan BI mempertahankan suku bunga setelah kenaikan mendadak pada awal Juni akan dipandang sebagai sinyal bahwa siklus pengetatan moneter mulai mendekati puncaknya.
Baca Juga: Kawan Lama Solution Perkuat Operasional Terintegrasi untuk Industri
"Kepastian arah kebijakan seperti ini biasanya membantu menurunkan premi risiko dan mendukung penurunan yield obligasi tenor panjang secara bertahap," ujar Yusuf kepada Kontan, Rabu (17/6/2026).
Meski demikian, ia mengingatkan pasar tetap perlu mewaspadai potensi kejutan dari bank sentral. Jika BI maupun The Fed kembali menaikkan suku bunga, dampaknya terhadap pasar obligasi domestik akan berbeda.
Kenaikan suku bunga tambahan dari BI memang berpotensi menekan harga obligasi dalam jangka pendek sehingga yield meningkat. Namun, langkah tersebut juga dapat memperkuat rupiah karena aset berdenominasi rupiah menjadi lebih menarik bagi investor.
"Situasi seperti ini cenderung menciptakan tekanan sementara yang masih bisa diimbangi oleh masuknya dana investor," katanya.
Di sisi lain, Yusuf mengatakan risiko yang lebih besar bagi pasar SBN justru berasal dari The Fed. Jika bank sentral AS kembali menaikkan suku bunga, yield obligasi pemerintah AS atau US Treasury berpotensi naik, dolar AS menguat, dan daya tarik aset negara berkembang menurun.
Dalam kondisi tersebut, investor global cenderung mengalihkan dana ke aset dolar yang dianggap lebih aman. Akibatnya, yield SBN Indonesia berpotensi meningkat seiring tekanan jual yang muncul di pasar obligasi domestik.
Yusuf menilai skenario terburuk bagi pasar obligasi terjadi apabila penguatan dolar AS memaksa BI kembali menaikkan suku bunga untuk menjaga stabilitas nilai tukar rupiah.
"Dalam situasi tersebut, pasar obligasi domestik akan menghadapi tekanan dari faktor global dan domestik sekaligus," pungkasnya.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News













