Reporter: Dimas Andi | Editor: Herlina Kartika Dewi
KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Di tengah kondisi pasar yang tak menentu, kinerja indeks IDX Value30 yang berisi saham-saham bervaluasi murah dan likuiditas besar masih cukup tahan banting. Saham-saham ini pun bisa menjadi alternatif bagi investor.
Berdasarkan data Bursa Efek Indonesia (BEI), kinerja IDX Value30 tumbuh 0,43% year to date (ytd) ke level 139,786 hingga Kamis (23/4). Kinerja IDX Value30 unggul jauh dibandingkan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) yang telah terkoreksi 14,67% yoy dan beberapa indeks saham utama lainnya seperti LQ45, IDX30, dan IDX80 yang sama-sama telah melemah belasan persen sejak awal tahun.
Analis Pilarmas Investindo Sekuritas Arinda Izzaty mengatakan, kenaikan tipis yang dicapai IDX Value30 di tengah tekanan pasar pada dasarnya mencerminkan rotasi investor menuju saham berfundamental kuat dengan valuasi relatif murah.
Baca Juga: Rupiah Ambruk Paling Dalam di Kawasan, Alarm Bahaya Pasar Keuangan
Dalam kondisi ketidakpastian global, mulai dari tensi geopolitik hingga arus keluar dana asing, investor cenderung menghindari saham pertumbuhan (growth) berisiko tinggi dan beralih ke saham yang memiliki margin of safety lebih besar, misalnya price to book value (PBV) dan price to earning ratio (PER) rendah, dividen stabil, serta arus kas solid.
"Selain itu, karakteristik likuiditas tinggi pada konstituen IDX Value30 membuat saham-saham ini tetap menjadi pilihan utama institusi, sehingga tekanan jual bisa lebih teredam," ujar dia, Kamis (23/4/2026).
Arinda menambahkan, fenomena seperti ini memang sering terjadi saat pasar bergejolak, di mana sejumlah saham valuasi murah cenderung outperform karena dianggap lebih defensif, memiliki fundamental yang sudah teruji, dan sensitivitasnya terhadap ekspektasi pertumbuhan jangka panjang lebih rendah dibanding saham pertumbuhan.
Senior Market Analyst Mirae Asset Sekuritas Nafan Aji Gusta menimpali, selain didukung oleh sentimen rotasi investor, kinerja IDX Value30 juga didukung oleh pertumbuhan positif kinerja konstituennya yang berasal sektor energi dan pertambangan, bahan baku, perbankan, dan sebagian konsumer.
Baca Juga: Nilai Transaksi Kripto Terus Meningkat, Penguatan Lintas Ekosistem Kian Mendesak
"Sebagian investor mengapresiasi perkembangan kinerja fundamental dan valuasi saham di IDX Value30 sehingga aliran dana masuk ke sana," tutur dia, Kamis (23/4/2026).
Untuk ke depannya, prospek IDX Value30 masih relatif positif namun selektif. Potensi untuk tetap tumbuh positif ada, terutama jika volatilitas global masih tinggi, mengingat kondisi tersebut justru memperkuat daya tarik saham value.
Arinda berpendapat, isu seperti peninjauan indeks global seperti MSCI berpotensi meningkatkan aliran dana ke saham-saham likuid berkapitalisasi besar yang umumnya juga masuk dalam IDX Value30. Selain itu, perubahan metodologi indeks lain, seperti penekanan pada likuiditas dan free float, justru bisa membuat saham-saham value semakin relevan.
Di samping itu, sentimen domestik seperti stabilitas suku bunga, daya beli masyarakat, serta kebijakan fiskal juga akan berpengaruh, terutama untuk sektor perbankan, energi, dan konsumer.
Baca Juga: Tingkatkan Kapasitas Produksi, Simak Rekomendasi Saham Indah Kiat (INKP)
"Namun demikian, upside mungkin tidak agresif, karena karakter saham value umumnya lebih stabil dibanding eksplosif," tutur dia.
Sementara menurut Nafan, perkembangan masing-masing sektor juga cukup menentukan arah pergerakan saham-saham di IDX Value30. Di sektor energi misalnya, selama harga komoditas berada di level yang tinggi, maka emiten sektor energi di IDX Value30 akan menikmati kenaikan harga jual rata-rata atau average selling price (ASP) dan daya tariknya meningkat seiring valuasi murah dan likuiditas besar.
Nafan menyebut, ada beberapa saham penghuni IDX Value30 yang layak dijadikan pilihan trading oleh investor sepanjang kuartal II-2026. Di antaranya adalah ADRO, BBNI, BBTN, BMRI, MEDC, dan UNTR.
Menurutnya, investor perlu jeli dalam menilai saham dengan prospek fundamental murah namun memiliki potensi pertumbuhan.
Sedangkan pandangan Arinda, penopang IDX Value30 sepanjang 2026 kemungkinan berasal dari saham-saham seperti BBNI, ASII, ADRO, PTBA, UNTR, PGAS, INDF, dan INKP yang memang masuk dalam konstituen utama.
Sektor energi terlihat cukup dominan dalam bobot indeks, sehingga kinerja saham seperti ADRO dan PTBA sangat dipengaruhi oleh harga komoditas global. Sementara itu, saham perbankan seperti BBNI dapat menjadi penopang dari sisi pertumbuhan kredit dan profitabilitas, sedangkan ASII serta INDF mewakili eksposur ke konsumsi domestik.
Secara fundamental, saham-saham ini umumnya memiliki laba positif, skala besar, dan valuasi relatif menarik, sehingga pantas menjadi penggerak utama indeks.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News













