Reporter: Yuliana Hema | Editor: Avanty Nurdiana
KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Grup Bakrie kembali bermanuver di pasar modal dengan menggelar aksi korporasi. Berbagai langkah ditempuh, salah satunya Penambahan Modal dengan Hak Memesan Efek Terlebih Dahulu (PMHMETD) alias rights issue.
Dalam catatan Kontan, setidaknya ada tiga emiten Grup Bakrie yang akan melakukan rights issue. Yakni, PT Bakrie & Brothers Tbk (BNBR) yang berencana menerbitkan 86,70 miliar saham dengan potensi dilusi 33,33%.
Meski belum menetapkan harga pelaksanaan, tetapi BNBR mengincar minimal Rp 5,75 triliun. Ini tercermin dari rincian penggunaan dana dari rights issue, yang mayoritas digunakan untuk membayar utang.
Baca Juga: Hasil RUPST 2026, Astra (ASII) Angkat Dirut Baru dan Bagi Dividen Final
Sebesar Rp 4,35 triliun akan digunakan oleh BNBR untuk memberikan pinjaman kepada PT Bakrie Toll Indonesia yang selanjutnya bakal dipakai untuk pembayaran sebagian maupun seluruh pinjaman kepada beberapa pihak.
Kemudian sebesar Rp 1,09 triliun akan digunakan oleh BNBR untuk pembayaran seluruh pinjaman kepada PT Bank Mayapada International Tbk dan sebesar Rp 300 miliar digunakan untuk pembangunan rest area Jalan Tol Cimanggis Cibitung.
Aksi korporasi ini telah mendapatkan persetujuan Rapat Umum Pemegang Saham (RUPS) Luar Biasa pada 27 Februari 2026. Namun BNBR masih menunggu tanggal efektif pernyataan pendaftaran dari Otoritas Jasa Keuangan (OJK).
PT VKTR Teknologi Mobilitas Tbk (VKTR) juga rencana menggelar rights issue dengan menerbitkan maksimal 21,87 miliar saham baru. Mayoritas dana hasil rights issue akan dipakai untuk modal kerja dan penyertaan ke perusahaan anak.
Manajemen VKTR masih menunggu restu dari pemegang saham untuk mengeksekusi aksi korporasi ini. Jika tidak ada aral melintang, VKTR bakal menggelar RUPS Luar Biasa pada 29 Mei 2026
Entitas Grup Bakrie lainnya, PT Graha Andrasentra Propertindo Tbk (JGLE) juga berencana menggelar rights issue. Namun aksi ini masih terganjal restu dari Bursa Efek Indonesia (BEI) dan OJK.
Rencananya JGLE menerbitkan 8,20 miliar saham dengan harga pelaksanaan Rp 50 per saham. Harusnya, JGLE meminta persetujuan pemegang saham pada RUPSLB di 31 Maret 2026.
Baca Juga: Rupiah Ditutup Melemah ke Rp 17.286 Per Dolar AS Hari Ini (23/4), Terburuk di Asia
Serupa dengan tiga entitas lainnya, PT Bakrie Sumatera Plantations Tbk (UNSP) akan melakukan Penambahan Modal Tanpa Hak Memesan Efek Terlebih Dahulu (PMHMETD) alias private placement.
Private placement ini dilakukan dalam rangka konversi sebagian utang UNSP kepada krediturnya dengan menerbitkan sebanyak 14,50 miliar saham seri B. Ini setara dengan 580,17% dari modal ditempatkan dan disetor penuh.
Dengan dilakukannya private placement ini, maka setiap pemegang saham lama UNSP akan mengalami penurunan persentase kepemilikan sahamnya alias dilusi sebesar 85,30%.
Head of Investment Information Team Mirae Asset Sekuritas Martha Christina mencermati dengan berbagai macam aksi korporasi, potensi dana yang diraup Grup Bakrie bisa menembus Rp 10 triliun.
“Mayoritas aksi korporasi ini direspon positif dan menarik untuk dicermati jangka pendek, apalagi investor yang trading untuk memanfaatkan momentum rights issue” katanya dalam paparan belum lama ini.
Martha menekankan bagi investor yang tidak ingin melakukan investasi untung jangka panjang, opsi trading bisa menjadi pilihan. Mengingat efek dari rights issue bersifat jangka panjang.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News













