Reporter: Vendy Yhulia Susanto | Editor: Handoyo
KONTAN.CO.ID – JAKARTA. PT Indah Kiat Pulp & Paper Tbk (INKP) mencatat kenaikan laba bersih di tengah penurunan pendapatan pada 2025. Peningkatan kapasitas produksi diproyeksikan menjadi katalis pendorong kinerja pada 2026.
Timothy Handerson, Analis UBS Sekuritas Indonesia mengatakan bahwa fasilitas produksi fase pertama di Karawang akan dimulai pada Maret 2026. Manajemen mengindikasikan fasilitas tersebut mampu memproduksi 1,5 juta ton per tahun kertas putih dan 0,9 juta ton per tahun kertas cokelat.
Penggunaan fasilitas ini terbilang tertunda tiga kuartal karena semula ditargetkan mulai beroperasi pada Mei–Agustus 2025. Adapun, investasi yang dialokasikan untuk membangun fasilitas fase 1 mencapai US$ 2,3 miliar.
Perusahaan mengonfirmasi bahwa Karawang akan memenuhi syarat untuk mendapatkan keringanan pajak selama 20 tahun ditambah dua tahun dengan diskon 50% untuk pajak penghasilan perusahaan.
Baca Juga: Indah Kiat (INKP) Tancap Gas Masuk 2026, Ekspansi dan Harga Pulp Jadi Katalis
"Ekspor akan menjadi fokus utama pabrik Karawang yang baru," ujar Timothy dalam risetnya pada 24 Februari 2026.
Manajemen memperkirakan tingkat pemanfaatan yang bisa digunakan pada 2026 baru sekitar 60%. Selanjutnya akan meningkat ke tingkat optimal sekitar 85%–90% pada tahun 2027. Manajemen memperkirakan fasilitas ini didukung implementasi otomatisasi/teknologi baru, serta penggunaan energi biomassa, yang menghasilkan penghematan biaya.
Manajemen juga mengindikasikan volume produksi di Karawang akan diprioritaskan untuk pasar ekspor. AS akan menjadi salah satu pasar target utamanya dengan target sekitar 20%–30% dari volume fase karena sejumlah pertimbangan. Pertama, harga produk yang lebih tinggi 20%–25% dibandingkan Asia dan peluang dari perbedaan tarif. Karena Indonesia memiliki tarif impor ke pasar AS yang lebih rendah daripada China.
“Fasilitas produksi fase kedua dengan kapasitas 1,5 juta ton per tahun untuk kertas putih, masih dalam tahap perencanaan, dengan jadwal pengoperasian bergantung pada kondisi pasar,” kata Timothy.
Andreas Yordan Tarigan, Analis Sucor Sekuritas menilai, ekspansi ini merupakan salah satu investasi fasilitas industri kertas terbesar secara global dalam satu siklus investasi. Ekspansi ini juga bertepatan dengan pasar kertas kemasan Asia yang secara struktural kekurangan pasokan karena pertumbuhan e-commerce yang pesat di seluruh Asia Pasifik (APAC).
Selain ekspansi produksi, Andreas mengatakan keunggulan kompetitif INKP terletak pada rantai pasokan yang terintegrasi penuh. Mulai dari perkebunan hutan akasia dan kayu putih milik sendiri hingga pengolahan pulp, pembuatan kertas, dan penyelesaian akhir.
"Integrasi vertikal ini melindungi perusahaan dari volatilitas harga pulp eksternal," ujar Andreas dalam risetnya pada 13 April 2026.
Andreas mencatat, tiga kompleks produksi perusahaan di Perawang (Riau), Serang, dan Tangerang secara kolektif menampung kapasitas 3,0 juta ton pulp, 1,7 juta ton kertas budaya, dan 2,1 juta ton kertas industri dalam satu platform terintegrasi.
Andreas optimistis INKP mampu menjaga kinerjanya karena tiga alasan utama. Pertama, perusahaan merupakan salah satu produsen pulp dan kertas terintegrasi penuh terbesar, yang didukung oleh keunggulan biaya yang sangat baik.
Kedua, perluasan kapasitas kertas industri merupakan peristiwa yang mampu meningkatkan pendapatan struktural. Ketiga, saham INKP diperdagangkan dengan diskon yang signifikan terhadap nilai wajar, dengan potensi kenaikan sebesar 107%.
Abdul Azis Setyo Wibowo, Equity Research Kiwoom Sekuritas Indonesia memproyeksikan kinerja INKP di kuartal II-2026 cenderung positif namun moderat. Ditopang oleh mulai optimalnya kontribusi ekspansi pabrik (Karawang) serta outlook industri pulp & paper yang mulai membaik.
"Kenaikan utilisasi dan potensi perbaikan harga jual dapat mendukung pertumbuhan laba, sejalan dengan proyeksi peningkatan laba di 2026," ujar Azis kepada Kontan, Kamis (23/4/2026).
Azis melihat tantangan utama INKP berasal dari volatilitas harga pulp global dan tekanan biaya, yang dapat memengaruhi margin. Selain itu, tren digitalisasi masih menekan permintaan kertas tertentu (printing & writing). Serta risiko eksternal seperti fluktuasi nilai tukar dan kondisi ekonomi global juga menjadi faktor penting.
Andreas memproyeksikan pendapatan dan laba bersih INKP tahun 2026 masing-masing mencapai US$ 4,05 miliar dan US$ 490 juta. Adapun pada 2025, INKP membukukan pendapatan US$ 3,17 miliar dan laba bersih US$ 453,3 juta.
Andreas dan Timothy merekomendasikan buy saham INKP dengan target harga masing-masing Rp 20.100 per saham dan Rp 12.050 per saham. Sementara Azis merekomendasikan trading buy dengan target harga Rp 11.700–Rp 12.000 per saham.
Risiko penurunan bagi INKP meliputi penundaan dalam peningkatan produksi proyek di Karawang, harga jual rata-rata (average selling price/ASP) pulp/kertas yang lebih rendah, permintaan/persaingan yang lebih lemah, dan transaksi pihak terkait.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News













