kontan.co.id
banner langganan top
| : WIB | INDIKATOR |
  • EMAS 2.663.000   -6.000   -0,22%
  • USD/IDR 16.917   7,00   0,04%
  • IDX 9.075   42,82   0,47%
  • KOMPAS100 1.256   8,05   0,64%
  • LQ45 889   7,35   0,83%
  • ISSI 330   0,23   0,07%
  • IDX30 452   3,62   0,81%
  • IDXHIDIV20 533   4,12   0,78%
  • IDX80 140   0,85   0,61%
  • IDXV30 147   0,15   0,10%
  • IDXQ30 145   1,19   0,83%

Outlook Emiten Rokok 2026 Lebih Cerah, Saham Ini Mulai Bangkit Bertahap


Minggu, 18 Januari 2026 / 12:00 WIB
Outlook Emiten Rokok 2026 Lebih Cerah, Saham Ini Mulai Bangkit Bertahap
ILUSTRASI. Outlook kinerja emiten rokok pada tahun 2026 diproyeksikan lebih positif dibandingkan dengan tahun 2025 (KONTAN/Cheppy A. Muchlis)


Reporter: Rashif Usman | Editor: Handoyo

KONTAN.CO.ID – JAKARTA. Outlook kinerja emiten rokok pada tahun 2026 diproyeksikan lebih positif dibandingkan tahun 2025, meskipun pemulihan yang terjadi belum sepenuhnya bersifat ekspansif.

Sejumlah faktor struktural dan kebijakan dinilai mulai menciptakan fondasi industri yang lebih sehat, baik dari sisi operasional maupun pasar modal.

Junior Research Analyst Sinarmas Sekuritas, Dipta Daniswara, menilai bahwa dari sisi keuangan, margin emiten rokok masih berpotensi mengalami tekanan. Namun demikian, risiko penurunan volume penjualan akibat maraknya peredaran rokok ilegal serta fenomena downtrading diperkirakan akan lebih terkendali dibandingkan tahun sebelumnya.

Dari perspektif harga saham, peluang pemulihan emiten rokok dinilai berlangsung secara bertahap. Perbaikan ini ditopang oleh kondisi industri yang semakin kondusif, struktur persaingan yang lebih jelas, serta konsumen yang kini memiliki lebih banyak pilihan produk rokok legal yang sesuai dengan daya beli.

Baca Juga: Menanti Data Inflasi AS dan BI Rate, IHSG Bergerak Konsolidasi Senin (19/1)

Dipta menjelaskan, selama beberapa tahun terakhir kinerja emiten rokok tertekan oleh kenaikan tarif cukai yang dilakukan secara berulang. Kondisi tersebut semakin diperparah oleh peralihan konsumsi ke rokok ilegal yang menggerus volume penjualan produk resmi.

Namun, dengan diterapkannya kebijakan penambahan lapisan (layer) tarif cukai yang melegalkan produsen kecil, persaingan di industri rokok dinilai akan menjadi lebih sehat karena seluruh pelaku usaha berada dalam kerangka regulasi yang sama.

“Sentimen ini kami nilai cukup positif bagi industri rokok,” ujar Dipta kepada Kontan, Kamis (15/1/2026).

Lebih lanjut, Dipta menambahkan bahwa menyempitnya selisih harga antarproduk akibat skema layer cukai yang baru membuat harga rokok kembali lebih kompetitif.

Kondisi ini membuka peluang bagi konsumen untuk kembali mempertimbangkan produk yang sebelumnya ditinggalkan. Dengan demikian, potensi peralihan konsumsi ke merek-merek mapan dinilai semakin besar.

Dalam hal ini, emiten yang berpotensi memperoleh manfaat paling signifikan adalah perusahaan dengan eksposur kuat di segmen menengah ke bawah. Salah satunya adalah PT Wismilak Inti Makmur Tbk (WIIM).

Baca Juga: IHSG Berpeluang Terkoreksi Terbatas pada Senin (19/1), Simak Proyeksi sahamnya

Potensi perbaikan kinerja tersebut juga mulai tercermin pada pergerakan harga saham WIIM yang telah memasuki tren bullish.

Secara keseluruhan, Dipta menilai kebijakan cukai terbaru memberikan dampak positif bagi industri rokok nasional.

Oleh karena itu, investor dapat mulai mencermati pergerakan saham emiten rokok utama seperti PT HM Sampoerna Tbk (HMSP), PT Gudang Garam Tbk (GGRM), serta WIIM sebagai bagian dari strategi investasi jangka menengah hingga panjang.

Sejalan dengan sentimen tersebut, pergerakan harga saham emiten rokok tercatat sudah menguat sejak awal tahun. GGRM menjadi emiten dengan penguatan harga saham tertinggi dibandingkan emiten rokok lainnya, yakni naik 7,68% secara year to date (ytd). Selanjutnya, HMSP menguat 6,21% ytd, ITIC naik 3,33% ytd, dan WIIM meningkat 3,64% ytd.

Selanjutnya: Kebijakan Makroekonomi Jadi Katalis, Simak Rekomendasi Saham Perbankan Tahun 2026

Menarik Dibaca: 10 Manfaat Konsumsi Tape Singkong untuk Kesehatan Tubuh yang Jarang Diketahui

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News


Video Terkait



TERBARU

[X]
×