kontan.co.id
banner langganan top
| : WIB | INDIKATOR |
  • EMAS 2.675.000   10.000   0,38%
  • USD/IDR 16.910   28,00   0,17%
  • IDX 9.075   42,82   0,47%
  • KOMPAS100 1.256   8,05   0,64%
  • LQ45 889   7,35   0,83%
  • ISSI 330   0,23   0,07%
  • IDX30 452   3,62   0,81%
  • IDXHIDIV20 533   4,12   0,78%
  • IDX80 140   0,85   0,61%
  • IDXV30 147   0,15   0,10%
  • IDXQ30 145   1,19   0,83%

Efek Cukai, Kinerja Emiten Rokok Bisa Ngebul di Tahun 2026


Kamis, 15 Januari 2026 / 18:27 WIB
Efek Cukai, Kinerja Emiten Rokok Bisa Ngebul di Tahun 2026
ILUSTRASI. Ilustrasi rokok HM sampoerna_HMSP. (KONTAN/Panji Indra)


Reporter: Rashif Usman | Editor: Avanty Nurdiana

KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Outlook emiten rokok tahun 2026 dinilai lebih positif dibanding tahun 2025, meski belum sepenuhnya ekspansif. 

Junior Research Analyst Sinarmas Sekuritas Dipta Daniswara mengatakan dari sisi keuangan, margin emiten rokok masih berpotensi tertekan. Namun, risiko penurunan volume penjualan akibat peredaran rokok ilegal dan fenomena downtrading diperkirakan akan lebih terkendali.

Dari perspektif harga saham, potensi pemulihan dinilai berlangsung secara bertahap. Perbaikan tersebut ditopang oleh kondisi industri yang semakin sehat, struktur persaingan yang lebih jelas, serta konsumen yang memiliki lebih banyak pilihan produk legal sesuai dengan daya beli.

Baca Juga: Bitcoin Menguat Usai Inflasi AS Terkendali, Didukung Aksi Borong Institusi

Dipta juga menyoroti, selama ini kinerja emiten rokok tertekan oleh kenaikan tarif cukai yang terjadi berulang, yang diperparah oleh peralihan konsumsi ke rokok ilegal. Namun, dengan dilegalkannya produsen kecil melalui penambahan lapisan (layer) tarif cukai, persaingan di industri rokok dinilai akan menjadi lebih sehat karena seluruh pelaku usaha berada dalam kerangka regulasi yang sama.

“Sentimen ini kami nilai cukup positif bagi industri rokok,” ujar Dipta kepada Kontan, Kamis (15/1/2026).

Ia menambahkan, menyempitnya selisih harga antar produk akibat skema layer cukai baru membuat harga rokok kembali lebih kompetitif. Kondisi ini membuka peluang bagi konsumen untuk kembali mempertimbangkan produk yang sebelumnya ditinggalkan, sehingga potensi peralihan konsumsi ke merek-merek mapan menjadi lebih besar.

Adapun emiten yang berpotensi paling diuntungkan ialah perusahaan dengan eksposur kuat di segmen menengah ke bawah, seperti PT Wismilak Inti Makmur Tbk (WIIM). Potensi perbaikan kinerja tersebut juga mulai tercermin pada pergerakan harga saham WIIM yang telah memasuki tren bullish.

Secara keseluruhan, Dipta menilai kebijakan cukai terbaru memberikan dampak positif bagi industri rokok. Oleh karena itu, investor dapat mulai mencermati pergerakan saham emiten rokok utama seperti PT HM Sampoerna Tbk (HMSP), PT Gudang Garam Tbk (GGRM), dan WIIM.

Pergerakan harga saham rokok sudah menguat sejak awal tahun. GGRM menjadi emiten dengan penguatan harga saham tertinggi dibandingkan emiten rokok lainnya dengan penguatan 7,68% ytd, diikuti HMSP menguat 6,21% ytd, ITIC mendaki 3,33% ytd dan WIIM meningkat 3,64% ytd.

Selanjutnya: Ini Kata PPATK Soal Permintaan Pembukaan Pemblokiran Rekening Dana Syariah Indonesia

Menarik Dibaca: Hasil India Open 2026, 2 Pemain Tunggal Indonesia Tembus Perempat Final

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News




TERBARU
Kontan Academy
[Intensive Workshop] Foreign Exchange & Hedging Strategies Investing From Zero

[X]
×