Reporter: Rashif Usman | Editor: Avanty Nurdiana
KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Sejumlah perusahaan tercatat di Bursa Efek Indonesia (BEI) mulai menggelar aksi pembelian kembali atau buyback saham dengan nilai jumbo.
Misalnya, PT Astra International Tbk (ASII) mengalokasikan dana sekitar Rp 8 triliun untuk melaksanakan aksi korporasi tersebut. Emiten di sektor otomotif ini akan menggunakan sumber dana internal perusahaan. Langkah ini ditujukan untuk memperkuat disiplin dalam pengelolaan alokasi modal sekaligus meningkatkan imbal hasil bagi para pemegang saham.
Selanjutnya, PT Bank Rakyat Indonesia Tbk (BBRI) mengumumkan rencana pembelian kembali saham dalam kondisi pasar yang berfluktuasi secara signifikan (buyback fluktuatif) dengan nilai sebesar-besarnya Rp 500 miliar.
Baca Juga: Bisnis Kilang Singapura Bakal Jadi Mesin Pertumbuhan Barito Pasific (BRPT) Tahun Ini
Langkah ini merupakan bagian dari strategi BRI untuk meningkatkan nilai pemegang saham sekaligus mencerminkan keyakinan manajemen terhadap kekuatan fundamental kinerja perseroan serta prospek pertumbuhan jangka panjang yang tetap solid.
Beberapa emiten lain juga turut mengalokasikan dana signifikan untuk program buyback. PT Telkom Indonesia Tbk (TLKM) menyiapkan dana sebesar Rp 4 triliun, sementara PT Erajaya Swasembada Tbk (ERAA) menganggarkan sekitar Rp 100 miliar.
Emiten lainnya,PT Steel Pipe Industry of Indonesia Tbk (ISSP), juga ikut dalam daftar dengan dana buyback sebesar Rp 200 miliar. Di sisi lain, PT Trimegah Bangun Persada Tbk (NCKL) menyiapkan sekitar Rp 1 triliun untuk aksi korporasi ini.
Dari sektor teknologi dan digital, PT Trimegah Karya Pratama Tbk (UVCR) mengalokasikan dana relatif lebih kecil, yakni sekitar Rp 1,5 miliar. Sementara itu, PT GoTo Gojek Tokopedia Tbk (GOTO) kembali menjadi sorotan dengan rencana buyback senilai Rp 3,5 triliun.
Analis sekaligus Branch Manager Panin Sekuritas Pondok Indah, Elandry Pratama mengatakan secara umum aksi buyback menjadi sentimen positif bagi pasar karena mencerminkan keyakinan manajemen bahwa harga saham perusahaan saat ini masih diperdagangkan di bawah nilai intrinsiknya atau undervalued. Selain berpotensi meningkatkan kepercayaan investor, langkah tersebut juga dapat menopang stabilitas pergerakan harga saham, terutama ketika kondisi pasar sedang bergejolak.
"Dari sisi fundamental, buyback berpotensi meningkatkan EPS karena jumlah saham beredar berkurang. Namun dampaknya terhadap harga saham tetap bergantung pada ukuran buyback, kondisi pasar, dan prospek bisnis masing-masing emiten," kata Elandry kepada Kontan, Senin (15/6/2026).
Elandry juga berpendapat langkah buyback yang dilakukan emiten saat ini cukup tepat. Di tengah IHSG yang masih terkoreksi secara year-to-date, banyak saham berkualitas yang diperdagangkan pada valuasi lebih menarik dibanding rata-rata historisnya.
Baca Juga: Inaco (JELI) Bakal IPO Rp 392 Miliar di Awal Juli 2026, Begini Prospek Sahamnya
Buyback dapat menjadi instrumen untuk meningkatkan kepercayaan investor sekaligus menunjukkan keyakinan manajemen terhadap prospek perusahaan. Yang menarik, aksi buyback ini juga bertepatan dengan mulai kembalinya net buy asing dalam dua hari perdagangan terakhir. Kombinasi antara dukungan emiten melalui buyback dan membaiknya market sentiment berpotensi menjadi penopang pasar dalam jangka pendek.
Namun investor tetap perlu menjadikan fundamental dan prospek bisnis sebagai pertimbangan utama, karena buyback bukan jaminan harga saham akan naik secara berkelanjutan.
Secara terpisah, Analis BRI Danareksa Sekuritas, Abida Massi Armand menjelaskan aksi buyback memiliki tiga dampak utama terhadap pergerakan saham. Pertama, munculnya permintaan non-diskresioner yang dapat membentuk support teknikal pada harga saham.
Kedua, buyback menjadi sinyal bahwa manajemen memiliki keyakinan harga saham saat ini berada di bawah nilai wajarnya. Ketiga, terdapat efek struktural terhadap valuasi perusahaan, di mana berkurangnya jumlah saham beredar dapat mendorong kenaikan earnings per share (EPS) serta return on equity (ROE) secara alami.
"Efektivitasnya proporsional terhadap ukuran relatif kapitalisasi. Misalnya, ASII Rp8 triliun dan TLKM Rp 4 triliun jauh lebih material dibanding UVCR Rp1,5 miliar," ucap Abida.
Dari daftar emiten yang mengumumkan buyback, Elandry melihat TLKM, ASII, BBRI, dan NCKL menjadi yang paling menarik untuk dicermati.
TLKM dan ASII memiliki fundamental yang kuat, arus kas yang sehat, serta nilai buyback yang relatif besar sehingga dapat memberikan sinyal kepercayaan diri manajemen terhadap prospek bisnis ke depan. BBRI menarik karena tetap agresif menjaga nilai pemegang saham di tengah tantangan perlambatan ekonomi dan dinamika suku bunga.
Sementara NCKL masih didukung prospek jangka panjang sektor hilirisasi nikel yang tetap menjadi salah satu tema strategis pasar.
Baca Juga: Begini Proyeksi Rupiah pada Perdagangan Rabu (17/6), Isu AS-Iran Jadi Fokus Utama
Elandry merekomendasikan sejumlah rekomendasi saham yang masih layak dicermati, antara lain:
BBRI
Target harga: Rp 3.300-Rp 3.500
Analisa: BBRI didukung valuasi yang menarik, potensi pertumbuhan kredit, dan masih menjadi salah satu pilihan utama investor asing.
TLKM
Target harga: Rp 3.300
Analisa: TLKM memiliki karakter defensif, arus kas kuat, dan berpotensi memperoleh sentimen positif dari aksi buyback yang cukup besar.
ASII
Target harga: Rp 5.200-Rp 5.500
Analisa: ASII ditopang diversifikasi bisnis yang luas sehingga relatif resilien terhadap dinamika ekonomi.
NCKL
Target harga: Rp 1.200
Analisa: NCKL menarik untuk investor yang ingin mendapatkan eksposur pada tema hilirisasi nikel dan pertumbuhan industri kendaraan listrik.
Secara umum, Elandry lebih mengunggulkan BBRI, TLKM, dan ASII karena didukung fundamental yang kuat, likuiditas tinggi, serta berpotensi menjadi tujuan utama capital flow ketika sentimen pasar membaik. Sementara NCKL lebih cocok bagi investor yang memiliki horizon investasi jangka panjang dan toleransi risiko yang lebih tinggi.
Adapun Abida menjelaskan aksi buyback besar yang dilakukan ASII sebesar Rp 8 triliun mencerminkan kuatnya arus kas dari salah satu konglomerasi terbesar di Indonesia, dengan portofolio bisnis yang terdiversifikasi dan saling mendukung.
Sementara itu, buyback TLKM senilai Rp4 triliun dipandang sebagai indikasi bahwa harga saham saat ini berada pada level yang relatif terdiskon, terlebih di tengah fase monetisasi infrastruktur digital (InfraCo) yang sedang dijalankan.
Baca Juga: Kesepakatan Damai AS–Iran, Begini Proyeksi Valas Utama
Di sisi lain, langkah BBRI dengan alokasi sekitar Rp500 miliar juga dinilai cukup penting, meskipun nilainya lebih kecil. Aksi tersebut terjadi di tengah tekanan jual asing yang cukup besar pada sektor perbankan.
Abida merekomendasikan buy ASII di target harga Rp 6.850 sebagai top pick dengan dividend yield 8% dan buyback Rp 8 triliun sebagai downside protection terkuat. Lalu, buy TLKM target Rp3.750. Katalis buyback memperkuat thesis monetisasi InfraCo. Strategi terbaik adalah akumulasi bertahap memanfaatkan momentum buyback institusional ini.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News













