kontan.co.id
banner langganan top
| : WIB | INDIKATOR |
  • LQ45963,73   -4,04   -0.42%
  • EMAS1.310.000 -1,06%
  • RD.SAHAM 0.05%
  • RD.CAMPURAN 0.03%
  • RD.PENDAPATAN TETAP 0.00%

Nilai Penerbitan Obligasi Turun pada Semester I, Ini Penyebabnya


Kamis, 20 Juli 2023 / 15:40 WIB
Nilai Penerbitan Obligasi Turun pada Semester I, Ini Penyebabnya
ILUSTRASI. Obligasi.


Reporter: Nur Qolbi | Editor: Tendi Mahadi

KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Penerbitan surat utang secara nasional pada semester 1 2023 tercatat sebesar Rp 45,99 triliun. Jumlah tersebut lebih rendah 37% dibanding periode sama tahun 2022 yang total nilai penerbitannya mencapai Rp 72,73 triliun.

Kepala Divisi Pemeringkatan Korporasi Pemeringkat Efek Indonesia (Pefindo) Niken Indriasih mengatakan, ada sejumlah faktor yang membuat penerbitan surat utang secara nasional pada paruh pertama tahun ini lebih rendah. 

Dari eksternal, risiko ketidakpastian global masih tinggi karena ketegangan politik antara Rusia-Ukraina dan Amerika Serikat-China. Selain itu, inflasi yang masih tinggi di sejumlah negara maupun kawasan membuat para bank sentral lanjut menaikkan suku bunganya pada tahun 2023 ini.

Dari domestik, keperluan refinancing surat utang pada 2023 tidak sebesar tahun 2022. Turunnya harga komoditas juga membuat kebutuhan modal kerja pada tahun ini tidak setinggi tahun lalu. 

Baca Juga: Bank DBS Indonesia dan Trimegah Hadirkan Produk Reksadana Trimegah Fixed Income Plan

Lebih lanjut, Niken melihat bahwa tahun 2023 merupakan fase penurunan penerbitan surat utang dalam siklus lima tahunan. Fase tertingginya sudah terjadi pada tahun 2022.

Pelaku pasar juga cenderung wait and see juga seiring dengan Indonesia yang kian mendekati tahun pemilu 2024. Pasalnya, program kerja yang akan dijalankan presiden dan wakil presiden terpilih nantinya akan memengaruhi keputusan investasi perusahaan.

“Pasar masih menunggu kepastian pemilu yang tanpa petahana. Pasar akan melihat terlebih dahulu program-program yang akan dijalankan oleh para capres dan cawapres,” tutur Niken, Selasa (18/7).

Chief Economist Pefindo Suhindarto menambahkan, suku bunga acuan Bank Indonesia yang relatif tinggi, yakni mencapai 5,75% pada semester 1 2023 membuat perusahaan menunda penerbitan surat utangnya. 

“Pasalnya, biaya untuk menerbitkan surat utang menjadi lebih mahal dibandingkan dengan semester 1 2022 yang mana tingkat suku bunga acuan hanya di 3,5%,” ucap Suhindarto.

Baca Juga: Penurunan Inflasi Redakan Tekanan Suku Bunga, Harga Emas Menguat

Selain itu, likuiditas perbankan tergolong melimpah sehingga belum membutuhkan pendanaan baru meski menjadi salah

sektor yang punya surat utang jatuh tempo terbanyak di tahun ini. Dari total penerbitan surat utang nasional pada semester 1 2023, sektor perbankan hanya menyumbang Rp 600 miliar atau 1% dari keseluruhan.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News




TERBARU

[X]
×