kontan.co.id
banner langganan top
| : WIB | INDIKATOR |
  • EMAS 2.640.000   15.000   0,57%
  • USD/IDR 18.013   50,00   0,28%
  • IDX 5.745   49,44   0,87%
  • KOMPAS100 744   8,79   1,19%
  • LQ45 565   8,75   1,57%
  • ISSI 199   0,85   0,43%
  • IDX30 321   4,92   1,56%
  • IDXHIDIV20 395   5,89   1,52%
  • IDX80 85   1,16   1,39%
  • IDXV30 107   1,21   1,14%
  • IDXQ30 103   1,26   1,24%

Nikel dalam tekanan ancaman ekspor Indonesia


Rabu, 26 Oktober 2016 / 20:50 WIB


Reporter: Wuwun Nafsiah | Editor: Yudho Winarto

JAKARTA. Nikel memimpin pelemahan pada logam industri lantaran Indonesia siap untuk membahas pelonggaran larangan ekspor. Logam industri tergerus kecuali aluminium yang menguat lantaran adanya masalah pengiriman dari China.

Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral hari ini menyatakan akan membahas kebijakan ekspor dengan para penambang nikel dan smelter dalam negeri pekan depan. Pemerintah mempertimbangkan untuk merevisi peraturan untuk mengizinkan pengiriman nikel selama 2017.

Mengutip Bloomberg, Rabu (26/10) harga nikel kontrak pengiriman tiga bulan di London Metal Exchange turun 0,7% menjadi US$ 10.150 pada pukul 10.31 waktu London. Logam ini telah mencatat kenaikan sepanjang tahun di tengah spekulasi pemangkasan output Filipina.

"Pasar nikel telah didominasi oleh resiko geopolitik pada pertengahan tahun 2016, dari Filipina dan Indonesia," ujar Nicholas Snowdon, analis Standard Chartered Plc yang berbasis di London dalam laporan yang dikutip Bloomberg, Rabu (26/10).

"Resiko ini dapat membawa efek penting pada prospek keseimbangan pasar," imbuhnya. Standard Chartered melihat harga rata - rata nikel tahun 2017 di kisaran US$ 11.275 per metrik ton.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News




TERBARU

[X]
×