kontan.co.id
banner langganan top
| : WIB | INDIKATOR |
  • EMAS 2.640.000   15.000   0,57%
  • USD/IDR 18.018   55,00   0,31%
  • IDX 5.764   68,86   1,21%
  • KOMPAS100 747   11,89   1,62%
  • LQ45 568   11,29   2,03%
  • ISSI 199   0,82   0,41%
  • IDX30 323   6,94   2,20%
  • IDXHIDIV20 397   8,35   2,15%
  • IDX80 85   1,53   1,83%
  • IDXV30 108   1,46   1,37%
  • IDXQ30 104   1,89   1,85%

Nikel bangkit setelah tenggelam 5% dalam sepekan


Senin, 24 Oktober 2016 / 19:10 WIB


Reporter: Wuwun Nafsiah | Editor: Yudho Winarto

JAKARTA. Nikel kembali bangkit setelah tenggelam sepanjang pekan lalu. Kebijakan lingkungan di Filipina masih menjaga laju harga nikel.

Mengutip Bloomberg, Senin (24/10) pukul 15.04 waktu Shanghai, harga nikel kontrak pengiriman tiga bulan di London Metal Exchange menguat 1,3% ke level US$ 10.090 per metrik ton dibanding sehari sebelumnya. Dalam sepekan terakhir, nikel terkikis 1,9%.

Nikel kembali menguat di awal pekan setelah tergerus 5% pekan lalu dan berakhir di US$ 9.960 per metrik ton pada Jumat (21/10). Sinyal turunnya permintaan sempat menekan nikel pada pekan lalu.

Produsen stainless - steel terbesar di China, Tsingshan Holding Group Co. menyatakan rencana untuk mengurangi output sebanyak 200.000 metrik ton pada bulan November. Pernyataan tersebut melukai harga nikel yang menjadi bahan baku stainless - steel.

"Tetapi kondisi Filipina masih mendorong harga untuk kembali menguat," kata Andri Hardianto, Analis PT Asia Tradepoint Futures.

Harga nikel berhasil menanjak hingga 14,4% sepanjang tahun ini dengan dukungan kebijakan lingkungan di Filipina. Produsen bijih nikel terbesar di dunia itu menutup sejumlah tambang yang tidak memenuhi standar lingkungan.

Sentimen positif lain datang dari data manufaktur Eropa bulan September yang naik ke level 51,3 dari sebelumnya kontraksi di level 49,7. Angka pertumbuhan ekonomi China kuartal III-2016 juga masih sesuai prediksi di angka 6,7%. "Di samping itu, laporan BHP Billiton Ltd menunjukkan ada peningkatan permintaan nikel dari sektor industri kendaraan listrik," lanjut Andri.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News




TERBARU

[X]
×