Sumber: Cointelegraph | Editor: Yudho Winarto
KONTAN.CO.ID - Raksasa jasa keuangan Morgan Stanley berencana meluncurkan dompet aset digital (digital asset wallet) pada 2026, seiring dengan langkah perusahaan memperluas portofolio produk investasi kripto bagi nasabahnya.
Melansir Cointelegraph Jumat (9/1/2026), dompet digital tersebut dirancang untuk mendukung berbagai aset kripto serta real-world assets (RWA) yang ditokenisasi, seperti saham, obligasi, dan properti.
Ke depan, Morgan Stanley juga berencana menambahkan lebih banyak jenis aset ke dalam dompet tersebut, sebagaimana dilaporkan Barron’s.
Baca Juga: Harga Emas Antam Hari Ini Naik Rp 7.000 Jadi Rp 2.577.000 per Gram, Jumat (9/1/2026)
Pada September lalu, Morgan Stanley mengumumkan bahwa pengguna platform pialang E*Trade yang berada di bawah kepemilikan perusahaan akan dapat memperdagangkan aset kripto mulai 2026.
Aset kripto yang akan tersedia antara lain Bitcoin (BTC), Solana (SOL), dan Ether (ETH).
Cointelegraph telah menghubungi Morgan Stanley untuk meminta komentar, namun hingga berita ini dipublikasikan belum ada tanggapan resmi dari perusahaan.
Langkah ini menegaskan semakin luasnya adopsi teknologi blockchain dan aset kripto oleh lembaga keuangan arus utama (traditional finance), yang sebelumnya cenderung berhati-hati terhadap sektor ini.
Baca Juga: Bursa Asia Bergerak Beragam pada Jumat (9/1) Pagi, Investor Tunggu Data NFP AS
Morgan Stanley Perkuat Ekspansi ke Ekosistem Kripto
Selain dompet aset digital, Morgan Stanley juga mengumumkan sejumlah inisiatif kripto lain untuk 2026, termasuk pengajuan produk exchange-traded fund (ETF) berbasis kripto.
Perusahaan tersebut telah mengajukan permohonan ke Komisi Sekuritas dan Bursa Amerika Serikat (SEC) untuk menerbitkan ETF spot Bitcoin dan Solana.
Produk ini bersifat pasif, yakni melacak harga spot aset kripto terkait dengan cara memegang langsung aset dasarnya.
Baca Juga: SOFA Berubah Nama Jadi Solusi Environment Asia, Siap Masuk Bisnis Waste to Energy
Tak hanya itu, Morgan Stanley juga mengajukan ETF Ether berbasis staking. ETF ini akan memegang ETH spot sekaligus melakukan staking atas sebagian aset ETH dalam portofolio untuk memperoleh pendapatan tambahan dari aktivitas staking.
Staking merupakan proses mengunci atau mempertaruhkan aset kripto guna mendukung keamanan jaringan blockchain berbasis proof-of-stake.
Imbalan staking biasanya dibayarkan dalam bentuk token kripto, bukan mata uang fiat atau stablecoin.
Baca Juga: Harga Emas Menguat pada Jumat (9/1) Pagi, Mencapai US$ 4.473,30 per Ons Troi
Akses Kripto Dibuka Lebih Luas
Awalnya, Morgan Stanley hanya menawarkan produk investasi kripto kepada nasabah kaya dengan aset investasi minimal US$1,5 juta.
Namun sejak Oktober lalu, perusahaan mengubah kebijakan dan membuka akses investasi kripto untuk seluruh nasabahnya.
Pada periode yang sama, Morgan Stanley juga mulai merekomendasikan alokasi kripto yang tergolong konservatif.
Analis Morgan Stanley menyarankan alokasi hingga 4% untuk portofolio berisiko tinggi yang berorientasi pada pertumbuhan, serta sekitar 2% untuk portofolio dengan profil risiko seimbang.
Selanjutnya: Harga Emas Antam Hari Ini Naik Rp 7.000 Jadi Rp 2.577.000 per Gram, Jumat (9/1/2026)
Menarik Dibaca: Ubah Botol Plastik Jadi Bernilai, Mesin Daur Ulang Aquviva Kini Ada di Tangerang
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News













