kontan.co.id
banner langganan top
| : WIB | INDIKATOR |
  • EMAS 2.640.000   15.000   0,57%
  • USD/IDR 18.013   50,00   0,28%
  • IDX 5.745   49,44   0,87%
  • KOMPAS100 744   8,79   1,19%
  • LQ45 565   8,75   1,57%
  • ISSI 199   0,85   0,43%
  • IDX30 321   4,92   1,56%
  • IDXHIDIV20 395   5,89   1,52%
  • IDX80 85   1,16   1,39%
  • IDXV30 107   1,21   1,14%
  • IDXQ30 103   1,26   1,24%

Moody’s beri rating Ba1 untuk Adaro Indonesia, anak usaha Adaro Energy (ADRO)


Selasa, 15 Oktober 2019 / 19:51 WIB
ILUSTRASI. Lembaga pemeringkat utang global Moody’s menyematkan peringkat Ba1 kepada PT Adaro Indonesia.


Reporter: Akhmad Suryahadi | Editor: Khomarul Hidayat

KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Lembaga pemeringkat utang global Moody’s menyematkan peringkat Ba1 kepada PT Adaro Indonesia. Dalam rilisnya, Moody’s menyebut peringkat Ba1 mencerminkan kualitas kredit induknya, yakni PT Adaro Energy Tbk (ADRO). Sebab, hubungan operasional antara Adaro Indonesia dengan ADRO dinilai cukup kuat.

Pertama, ADRO memegang mayoritas saham Adaro Indonesia yakni sebesar 88,5%. Adaro Indonesia juga mendapat manfaat dari operasi terintegrasi secara vertikal dengan induk perusahaan. Selain itu, ADRO juga menjamin semua utang Adaro Indonesia.

Dalam rilisnya, Asisten Wakil Presiden dan Analis Moody's Maisam Hasnain menyebut, kualitas kredit ADRO didukung oleh Adaro Indonesia yang merupakan anak usaha utama. Adaro Indonesia disebut sebagai salah satu produsen batubara dengan lokasi tunggal terbesar di Indonesia bahkan di belahan bumi bagian selatan.

Baca Juga: Simak Rekomendasi Analis untuk Saham Adaro Energy (ADRO)

Bisnis batubara termal ADRO memiliki rekam jejak yang stabil dengan produksi tahunan sekitar 50 juta ton sejak 2013, menjadikannya penghasil batubara terbesar kedua di Indonesia berdasarkan volume.

Namun, pada saat yang sama kualitas kredit ADRO terkendala oleh diversifikasi operasional dan keadaan geografis yang terbatas. Hal ini membuat ADRO bergantung pada penjualan batubara termal untuk mendorong pendapatan selama beberapa tahun ke depan.

Meski demikian, Moody’s menilai Adaro Energy telah mengambil langkah-langkah yang tepat untuk mendiversifikasi pendapatannya. Salah satunya seperti investasi ADRO di dua proyek pembangkit listrik di Indonesia yang dijadwalkan mulai beroperasi pada akhir 2019 dan 2020.

Baca Juga: Simak prospek saham Adaro Energy (ADRO) sambil menunggu kepastian aksi korporasi

Selain itu, pada 2018 ADRO juga telah membeli 35% saham efektif di Tambang Batubara Kestrel, yang merupakan produsen batubara metalurgi yang berbasis di Australia.

Moody’s memperkirakan, dividen dari entitas perusahaan kemungkinan besar akan minimal dalam 2 tahun-3 tahun ke depan. Sehingga, diperkirakan ADRO masih bergantung pada tambang batubara termal di Kalimantan Selatan.

Peringkat Ba1 juga mencerminkan ekspektasi Moody’s bahwa izin usaha pertambangan (IUP) Adaro Indonesia yang berakhir pada Oktober 2022 akan dapat diperpanjang.

Rating ini juga mempertimbangkan risiko ADRO dari negara-negara yang mulai memperhatikan energi hijau dengan mengurangi penggunaan batubara.

Baca Juga: Topang Ekspansi, Adaro Menjajaki Penerbitan Surat Utang

Moody’s juga memberi prospek (outlook) yang stabil kepada ADRO. Status ini mencerminkan ekspektasi Moody’s bahwa ADRO akan menjalankan strategi pertumbuhannya sambil terus mematuhikebijakan keuangan konservatif.

Moody's dapat meningkatkan peringkat utang ADRO jika perusahaan tersebut berhasil meningkatkan profil bisnisnya melalui diversifikasi produk dan geografis sembari berpegang pada kebijakan keuangan yang konservatif.

Di sisi lain, Moody’s juga dapat menurunkan peringkat utang ADRO jika mengalami gangguan operasional atau fundamental sehingga mengurangi pendapatan dan penurunan arus kas. Selain itu, kegagalan ADRO dalam memperpanjang izin usaha pertambangan juga dapat membuat Moody’s menurunkan profil utang ADRO.

Baca Juga: Duh! Ekspor Emiten Batubara Menurun

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News




TERBARU

[X]
×