kontan.co.id
banner langganan top
| : WIB | INDIKATOR |
  • EMAS 2.631.000   29.000   1,11%
  • USD/IDR 16.854   8,00   0,05%
  • IDX 8.865   -71,77   -0,80%
  • KOMPAS100 1.224   -5,29   -0,43%
  • LQ45 865   -2,62   -0,30%
  • ISSI 323   -1,01   -0,31%
  • IDX30 440   0,14   0,03%
  • IDXHIDIV20 519   2,21   0,43%
  • IDX80 136   -0,57   -0,42%
  • IDXV30 144   -0,32   -0,22%
  • IDXQ30 141   0,81   0,57%

Modal Asing Seret, Rupiah Diprediksi Tembus Level Rp 17.000 per Dolar AS


Senin, 12 Januari 2026 / 13:11 WIB
Modal Asing Seret, Rupiah Diprediksi Tembus Level Rp 17.000 per Dolar AS
ILUSTRASI. -Petugas menghitung uang rupiah dan dolar Amerika (KONTAN/Cheppy A. Muchlis)


Reporter: Vatrischa Putri Nur | Editor: Yudho Winarto

KONTAN.CO.ID – JAKARTA. Tekanan terhadap nilai tukar rupiah diperkirakan masih berlanjut di tengah tingginya volatilitas geopolitik global, meskipun kinerja perdagangan Indonesia dinilai masih solid.

Chief Indonesia and India Economist HSBC Global Research Pranjul Bhandari menilai, pelemahan rupiah ke depan lebih banyak dipengaruhi oleh lemahnya arus masuk modal, bukan dari faktor perdagangan.

Baca Juga: Rupiah Makin Melemah ke Rp 16.860 per Dolar AS di Tengah Hari Ini (12/1)

Pranjul menjelaskan, ketahanan eksternal suatu negara umumnya ditopang oleh dua komponen utama, yakni sektor perdagangan dan arus keuangan. Dari sisi perdagangan, Indonesia dinilai berada dalam kondisi yang relatif baik.

“Surplus perdagangan Indonesia tercatat cukup kuat sepanjang 2025, dan neraca transaksi berjalan juga berada di posisi positif,” ujar Pranjul dalam agenda HSBC Indonesia Economy & Investment Outlook 2026, Senin (12/1/2026).

Namun, tantangan utama Indonesia justru berasal dari sisi arus modal.

Menurutnya, arus masuk modal portofolio ke pasar saham dan obligasi, maupun investasi langsung asing (foreign direct investment/FDI) jangka panjang, masih belum menunjukkan penguatan yang berarti.

Baca Juga: IHSG Menguat ke 8.947.9 di Akhir Sesi Pertama, Top Gainers LQ45: ADMR, MDKA, INKP

Dengan kondisi tersebut, Pranjul memperkirakan tekanan depresiasi terhadap rupiah masih akan berlanjut seiring dinamika neraca pembayaran.

Lemahnya arus modal dinilai berpotensi menahan penguatan rupiah, meskipun kinerja ekspor tetap solid.

“Kami memperkirakan hingga akhir 2026, nilai tukar rupiah berpotensi berada di kisaran Rp 17.000 per dolar AS,” pungkas Pranjul.

Selanjutnya: Pengusaha Wanti-wanti Dampak Penyesuaian RKAB terhadap Margin Penambang Nikel

Menarik Dibaca: Promo Paket Gokana Hebat Mulai Rp 99 Ribu, Makan Bertiga Jadi Lebih Hemat

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News




TERBARU
Kontan Academy
Mastering Management and Strategic Leadership (MiniMBA 2026) Global Finance 2026

[X]
×