Reporter: Muhammad Alief Andri | Editor: Khomarul Hidayat
KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Pasar saham Indonesia kembali masuk radar investor global pada 2026. Head of Equity Strategy Asia Pacific HSBC Global Research, Herald van der Linde, menilai, pasar saham Indonesia menawarkan kombinasi menarik berupa valuasi rendah, eksposur asing yang masih minim, serta potensi pemulihan kinerja emiten.
Dengan kondisi tersebut, Herald memperkirakan, IHSG bisa tembus level 9.700 di tahun ini, atau naik dari posisi saat ini di sekitar 8.600.
“Valuasi Indonesia sangat rendah. Kalau dikeluarkan satu atau dua saham berkapitalisasi besar, banyak saham bank dan konsumsi yang sebenarnya murah. Levelnya hampir serendah periode 15 tahun hingga 20 tahun terakhir,” ujar Herald dalam paparan HSBC Outlook 2026, Senin (12/1/2026).
Menurut Herald, kepemilikan investor asing di pasar saham Indonesia saat ini juga relatif rendah. Ini membuka ruang masuknya aliran dana global apabila investor mulai mencari alternatif di luar pasar yang sudah “penuh” eksposur AI seperti Taiwan dan Korea.
“Eksposur portofolio investor di Indonesia masih rendah. Kami lihat peluang Indonesia menjadi salah satu pasar yang dilirik kembali ketika investor mulai mencari peluang baru di Asia,” katanya.
Baca Juga: IHSG Menguat ke 8.947.9 di Akhir Sesi Pertama, Top Gainers LQ45: ADMR, MDKA, INKP
Herald menjelaskan, pergerakan sentimen global bakal menentukan arah IHSG, terutama jika tema AI mulai mereda dan investor mengalihkan fokus dari Korea dan Taiwan ke pasar lain dengan valuasi lebih menarik.
Di saat yang sama, pemulihan pertumbuhan laba (earnings recovery) juga menjadi syarat penting untuk menarik minat investor institusional. “Kami butuh bukti pertumbuhan laba melalui musim laporan keuangan. Jika terlihat membaik, itu akan menjadi pemicu untuk Indonesia,” jelasnya.
Herald menyebut, Indonesia menawarkan kombinasi pemulihan siklus pertumbuhan, valuasi rendah, serta potensi revisi naik pada ekspektasi laba. “Indonesia memberikan potensi naik yang cukup baik. Target kami 9.700, tidak jauh dari prediksi 10.000,” ujarnya
Namun, Herald mengingatkan adanya sejumlah risiko yang perlu dicermati. Faktor makro seperti pergerakan mata uang hingga aliran dana global masih berpotensi menekan. Selain itu, perubahan kebijakan fiskal domestik dapat menjadi titik sensitif. “Risikonya adalah jika pemerintah memutuskan melampaui batas defisit fiskal 3%. Itu bakal dilihat sebagai risiko bagi ekuitas,” tegasnya.
Meski begitu, Herald menilai momentum tetap terbuka, terutama karena valuasi saat ini dinilai “well priced” dibanding pasar lain di kawasan. Dengan pemulihan permintaan dan stabilnya pertumbuhan domestik, Indonesia berpeluang menjadi salah satu alternatif investasi pasar berkembang dengan imbal hasil lebih menarik sepanjang 2026.
Baca Juga: Indeks Dolar AS Bergerak Sideways, Begini Dampaknya ke Rupiah di Tahun 2026
Selanjutnya: Infinix Note Edge: LED Helo dan Desain Tipis Siap Tantang iPhone Air
Menarik Dibaca: Infinix Note Edge: LED Helo dan Desain Tipis Siap Tantang iPhone Air
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News













