kontan.co.id
banner langganan top
| : WIB | INDIKATOR |
  • EMAS 2.839.000   0   0,00%
  • USD/IDR 17.553   53,00   0,30%
  • IDX 6.723   -135,58   -1,98%
  • KOMPAS100 893   -22,45   -2,45%
  • LQ45 658   -11,96   -1,79%
  • ISSI 243   -4,93   -1,99%
  • IDX30 371   -5,63   -1,49%
  • IDXHIDIV20 455   -6,14   -1,33%
  • IDX80 102   -2,10   -2,02%
  • IDXV30 130   -2,00   -1,52%
  • IDXQ30 119   -1,28   -1,07%

Meski katalis negatif menyelimuti, CPO mampu naik


Kamis, 14 Juli 2016 / 15:45 WIB


Reporter: Namira Daufina | Editor: Yudho Winarto

JAKARTA. Setelah sempat terpuruk, harga minyak sawit mentah atau crude palm oil (CPO) perlahan berhasil mendapatkan tenaganya kembali.

Mengutip Bloomberg, Kamis (14/7) pukul 14.15 WIB harga CPO kontrak pengiriman September 2016 di Malaysia Derivative Exchange melambung 0,95% ke level RM 2.245 per metrik ton dibanding hari sebelumnya.

Keuntungan diambil oleh CPO karena kenaikan harga minyak kedelai. Hanya saja menurut Donny Khor, Deputy Director of Futures & Commodities RHB Investment Bank seperti dikutip dari Bloomberg tekanan harga turun masih datang dari menguatnya nilai tukar Ringgit Malaysia dan penurunan permintaan yang diprediksi masih berlangsung.

Pasca bulan Ramadan dan Hari Raya Idul Fitri memang terjadi pengempisan permintaan. Nilai tukar RM saja sudah menguat 1,9% dalam sepekan terakhir. Saat ini menurut Donny, pasar sedang mencari level keseimbangan barunya setelah penurunan tajam beberapa waktu lalu.

Ditambah lagi produksi masih terus meningkat, sehingga sulit memprediksi kapan harga CPO pulih dan kembali unggul. Produksi di Malaysia dan Indonesia perlahan membaik dengan cuaca yang sudah tidak lagi se-ekstrem beberapa bulan terakhir.

Belum lagi, impor CPO India Juni 2016 kembali mengalami penurunan. Ini merupakan penurunan dalam dua bulan beruntun dari India. Per Juni 2016 impornya hanya 600.000 ton atau turun 18% dibanding bulan sebelumnya.

Namun selama harga minyak kedelai masih prima, ada alasan bagi harga CPO untuk pertahankan keunggulan dan memperbaiki level harganya.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News




TERBARU

[X]
×