Reporter: Yuliana Hema | Editor: Tri Sulistiowati
KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Wacana merger PT Dayamitra Telekomunikasi Tbk (MTEL) dan PT Tower Bersama Infrastructure Tbk (TBIG) kembali mencuat. Jika terealisasi, konsolidasi tersebut berpotensi mengubah struktur persaingan industri menara telekomunikasi nasional.
Pembicaraan merger MTEL dan TBIG kembali menghidupkan wacana konsolidasi yang sebenarnya telah muncul sejak 2014, ketika TBIG pernah berupaya mengakuisisi MTEL dari Telkom melalui skema pertukaran saham.
Lebih dari satu dekade kemudian, isu tersebut kembali mencuat setelah Bloomberg melaporkan adanya pembicaraan merger aktif pada Juli 2025, dengan spekulasi kembali mengemuka pada Agustus 2026.
Baca Juga: Ekonom: Penguatan Rupiah Masih Rapuh, Fundamental Belum Berubah
Jika terealisasi, merger diperkirakan menciptakan entitas dengan sekitar 65.800 menara dan 106.100 tenant. Skala tersebut berpotensi menjadikan entitas gabungan sebagai pemain terbesar dalam industri menara Indonesia.
Research Analyst Mirae Asset Sekuritas Indonesia Daniel Aditya Widjaja menyebut struktur transaksi akan menjadi salah satu faktor penting dalam menentukan posisi Telkom pada entitas hasil merger tersebut.
Menurut Daniel, MTEL berpeluang menjadi entitas yang bertahan atau surviving entity mengingat statusnya sebagai perusahaan pelat merah serta keterkaitannya dengan Danantara. Telkom pun berpotensi tetap mempertahankan kendali mayoritas.
“Dengan posisi MTEL sebagai perusahaan BUMN dan keterkaitannya dengan Danantara, kami memperkirakan MTEL menjadi entitas bertahan sehingga Telkom tetap mempertahankan kendali mayoritas,” tulisnya dalam riset yang dirilis, Kamis (27/8).
Saat ini, Telkom memiliki sekitar 71,8% saham MTEL. Berdasarkan perhitungan Mirae Asset, mempertahankan kepemilikan mayoritas melalui skema transaksi berbasis saham membutuhkan harga MTEL minimal Rp 964 per saham.
Baca Juga: Rupiah Berpeluang Lanjut Menguat, Didorong Pelemahan Indeks Dolar AS
Selain skema tersebut, Daniel melihat terdapat alternatif berupa suntikan dana tunai melalui placement saham dari Telkom atau Danantara. Dalam skenario ini, sekitar 42,3 miliar saham baru berpotensi diterbitkan.
Dana yang dihimpun melalui penerbitan saham tersebut diperkirakan mencapai Rp 18,6 triliun berdasarkan harga saham saat ini. Skema ini dapat menjadi alternatif untuk mempertahankan kendali tanpa sepenuhnya mengandalkan pertukaran saham.
Di sisi lain, dampak merger terhadap industri diperkirakan cukup besar. Head of Research KISI Muhammad Wafi menilai konsolidasi tersebut berpotensi mengubah struktur pasar dan dinamika persaingan secara signifikan.
“Jika terealisasi, entitas gabungan akan mengelola 65.800 menara dan 106.100 tenant, sehingga struktur pasar serta dinamika kompetisi industri menara akan mengalami perubahan yang cukup signifikan,” jelasnya kepada Kontan, Jumat (28/8).
Wafi bilang keberadaan entitas gabungan dengan skala tersebut juga akan meningkatkan tekanan kompetisi terhadap PT Sarana Menara Nusantara Tbk (TOWR) dan pemain menara lainnya.
Meski demikian, Wafi menilai konsolidasi MTEL-TBIG bukan perubahan yang sepenuhnya tiba-tiba. Pasalnya, hubungan bisnis antara kedua ekosistem tersebut telah berkembang secara organik sebelum adanya pembicaraan merger.
Wafi mencatat kontribusi TBIG dari ekosistem Telkom meningkat dari 33% menjadi 63% dalam setahun. Kondisi tersebut menunjukkan adanya hubungan bisnis yang semakin erat sebelum merger formal dilakukan.
Oleh karena itu, Wafi memandang merger MTEL dan TBIG lebih sebagai evolusi natural industri dibandingkan perubahan strategi yang berlangsung secara mendadak atau dramatic pivot.
Peluang merger kali ini juga dinilai lebih terbuka dibandingkan upaya konsolidasi sebelumnya. Namun, Wafi menekankan bahwa pembicaraan masih berada pada tahap penjajakan awal dan belum mendapat konfirmasi resmi dari pihak terkait.
“Peluang merger kali ini terlihat lebih kuat dibandingkan upaya yang gagal pada 2015, tetapi prosesnya masih penjajakan awal dan belum ada konfirmasi resmi,” ucapnya.
Sementara itu, Research Analyst Panin Sekuritas Aqil Triyadi melihat merger MTEL dan TBIG berpotensi memberikan dampak positif terhadap industri melalui persaingan yang lebih moderat ke depan.
Menurutnya, industri menara telah memasuki fase matang sehingga pertumbuhan jumlah menara maupun tenant cenderung lebih moderat dibandingkan periode sebelumnya.
“Kalau MTEL dan TBIG bergabung, entitas hasil merger akan menjadi pemain tower terbesar sehingga persaingan industri berpotensi menjadi lebih soft ke depannya,” tutur Aqil.
Aqil juga melihat peluang merger cukup terbuka mengingat pertumbuhan organik industri menara saat ini cenderung datar. Pertumbuhan anorganik melalui merger dapat membuat perusahaan lebih menarik.
Selain faktor industri, konsolidasi MTEL-TBIG juga dinilai sejalan dengan langkah Telkom melakukan penyederhanaan struktur dan optimalisasi portofolio bisnis melalui strategi Telkom30.
Menurut Aqil, langkah tersebut dapat membantu Telkom semakin fokus terhadap bisnis inti sekaligus mengoptimalkan portofolio aset yang dimilikinya melalui aksi korporasi strategis.
“Rencana merger ini sejalan dengan strategi streamlining Telkom, karena Telkom sedang berupaya lebih fokus pada bisnis inti dan melakukan optimalisasi terhadap portofolio yang dimiliki,” kata Aqil.
Baca Juga: Tarik-Menarik Dolar dan Risiko Domestik, Cek Prospek Rupiah Pekan Depan
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News














