Reporter: Yuliana Hema | Editor: Ignatia Maria Sri Sayekti
KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Mayoritas saham pendatangan baru di Bursa Efek Indonesia (BEI) pada 2025 menunjukkan performa yang ciamik. Sembilan dari 24 saham berhasil menguat di atas harga Initial Public Offering (IPO).
Penguatan paling signifikan ada di saham PT Indokripto Koin Semesta Tbk (COIN) yang melesat 3.470% dari harga IPO di Rp 100 menjadi Rp 3.570 per saham hingga akhir perdagangan Jumat (28/11/2025).
Berikutnya ada saham PT Raharja Energi Cepu Tbk (RATU), PT Chandra Daya Investasi Tbk (CDIA) dan PT Fore Kopi Indonesia Tbk (FORE) yang masing-masing melonjak 954,35%, 915,79% dan 171,28%.
Sebaliknya, saham PT Jantra Grupo Indonesia Tbk (KAQI) menjadi saham dengan pendatang baru dengan pergerakan yang paling buruk. Sejak IPO, saham KAQI sudah terkoreksi 40,68%.
Koreksi juga terjadi pada saham PT Cipta Sarana Media Tbk (DKHH), PT Raja Roti Cemerlang Tbk (BRRC) dan PT Yupi Indo Jelly Gum Tbk (YUPI) yang masing-masing turun 36,36%, 33,33% dan 29,92%.
Di sisi lain, total dana yang berhasil terhimpun dari gelaran hajatan IPO 24 perusahaan ini mencapai Rp 15,57 triliun. Setidaknya, ada empat perusahaan yang berhasil meraup dana dengan nilai triliunan.
Baca Juga: Prospek IPO Asia Tenggara Cerah Hingga 2026: Indonesia Unggul?
Di mana, PT Merdeka Gold Resources Tbk (EMAS) menjadi IPO terbesar di sepanjang tahun. Anak usaha PT Merdeka Copper Gold Tbk (MDKA) ini berhasil meraup sebesar Rp 4,65 triliun.
Lalu ada CDIA yang mampu mengantongi dana segar sebanyak Rp 2,37 triliun. Kemudian PT Bangun Kosambi Sukses Tbk (CBDK) senilai Rp 2,30 triliun dan YUPI sebesar Rp 2,04 triliun.
Proses IPO Tahun Depan
Di penghujung tahun ini, penawaran umum saham juga masih sepi. Pasalnya, baru ada dua perusahaan yang sedang berproses untuk menawarkan saham perdananya di bursa saham.
Mereka ialah PT Abadi Lestari Indonesia Tbk (RCLO) dan PT Super Bank Indonesia Tbk (SUPA). Di mana, RCLO telah melangsungkan masa penawaran awal alias bookbuilding pada 24–26 November 2025.
Pada masa penawaran awal, RCLO mematok harga di kisaran Rp 150–Rp 168. Dengan menawarkan saham sebanyak 6,25 miliar, maka emiten pengolah sarang burung walet ini berpotensi meraup Rp 105 miliar.
Sementara SUPA akan menawarkan maksimal 4,4 miliar saham dengan rentang harga sebesar Rp 525–Rp 695. Dus, entitas Grup Emtek ini berpotensi meraup dana segar Rp 3,06 triliun.
Baca Juga: Segera IPO, Abadi Lestari Indonesia (RLCO) Tawarkan 625 Juta Saham
Jika tidak ada aral melintang dan menggunakan harga atas, maka Superbank menjadi perusahaan dengan penghimpunan dana terbesar nomor kedua tepat di bawah EMAS.
Direktur Penilaian Perusahaan Bursa Efek Indonesia I Gede Nyoman Yetna menyampaikan sampai dengan 28 November 2025, masih ada 13 perusahaan dalam pipeline IPO Saham.
Rinciannya dari 13 perusahaan itu, terdapat dua perusahaan dengan aset skala kecil, empat perusahaan dengan aset skala menengah dan tujuh perusahaan dengan aset skala besar.
Nyoman menjelaskan berdasarkan komposisi pipeline IPO saham, 7 dari 13 perusahaan menggunakan laporan keuangan per Juni 2025 sebagai dasar untuk melakukan penawaran umum.
“Sehingga apabila tidak terdapat concern terkait penawaran umum dan pencatatan oleh Otoritas Jasa Keuangan dan BEI, kami berharap perusahaan tersebut dapat mencatatkan sahamnya pada sisa 2025,” jelas Nyoman, akhir pekan lalu.
Senior Market Analyst Mirae Asset Sekuritas Nafan Aji Gusta menjelaskan wajar memang akhir tahun gelaran IPO sepi karena adanya periode libur Natal dan Tahun Baru (Nataru) yang memangkas jumlah hari bursa.
“Untuk tahun depan masih prospektif karena ada pemulihan ekonomi global dan lokal, yang diharapkan bisa meningkatkan minat korporat untuk masuk ke pasar saham,” katanya kepada Kontan, Minggu (30/11/2025).
Baca Juga: Prospek IPO Indonesia Makin Cerah pada 2026, Ini Sentimen Pendorongnya
Nafan menilai saat ini BEI dan OJK tengah fokus untuk meningkatkan kualitas calon perusahaan tercatat sehingga wajar kalau target IPO untuk tahun 2026 hanya 50 perusahaan. Ini diharapkan dapat meningkatkan kepercayaan investor terhadap emiten baru.
Thomas Nugroho, Direktur Utama RHB Sekuritas Indonesia menilai gelaran IPO mungkin tidak akan melonjak secara signifikan untuk sisa tahun ini. Menurutnya, IPO akan lebih semarak di tahun depan.
“Mayoritas emiten yang listing akan berpotensi lebih signifikan pada 2026, ketika kondisi eksternal seperti suku bunga global, sentimen investor dan regulasi mulai lebih stabil,” kata Thomas.
Harapan datang jika suku bunga global mulai turun, likuiditas keluar dari obligasi dan masuk ke saham bisa mendukung jumlah IPO. Menurutnya, ada sinyal positif bahwa ekspektasi ini muncul di Indonesia tahun depan.
Baca Juga: Riset Delloite: Malaysia dan Indonesia Pimpin Volume IPO di Asia Tenggara
Selanjutnya: Bank Mandiri Hadir untuk Sumatera, Ribuan Bantuan Darurat Diterjunkan bagi Penyintas
Menarik Dibaca: Hasil Syed Modi India International 2025, Indonesia Bawa Pulang Juara Ganda Campuran
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News













