Reporter: Pulina Nityakanti | Editor: Avanty Nurdiana
KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Di tengah sektor konstruksi yang tampak kurang bergairah beberapa tahun belakangan, PT Nusa Konstruksi Enjiniring Tbk (DGIK) menyusun sejumlah strategi dalam mempertahankan pertumbuhan kinerja perseroan di tahun 2026 hingga 2027.
Sektor konstruksi saat ini tengah menghadapi tantangan yang cukup berat. Termasuk dari suku bunga tinggi dan volatilitas rupiah.
Direktur Utama DGIK, Djoko Prabowo mengatakan, pertumbuhan rata-rata industri konstruksi pada periode 2025-2030 sebenarnya masih ada di kisaran 5,5%-7%. Meskipun kondisi pasar sempat volatil sejak awal 2026, tetapi nilai tukar rupiah dan arah suku bunga sampai akhir tahun hingga 2027 sudah mulai stabil.
Baca Juga: Ondo Finance dan FLOQ Menjajaki Tokenisasi Saham AS di Indonesia
“Secara umum, industri konstruksi masih sangat menarik dengan peluang cukup besar. Kebutuhan pembangunan di Indonesia masih belum tuntas,” ujarnya kepada Kontan beberapa waktu lalu.
Saat ini, DGIK menjalankan empat pilar bisnis utama, yaitu konstruksi, infrastruktur pertambangan, energi, dan properti. Secara keseluruhan, perseroan sudah mengerjakan lebih dari 175 proyek gedung, 200 proyek infrastruktur, dan memiliki sejumlah proyek Energi Baru Terbarukan (EBT) dengan total kapasitas lebih dari 30 MW.
Per 30 Juni 2026, pendapatan DGIK tercatat sebesar Rp 479,60 miliar, naik 13,69% secara tahunan dari Rp 421,82 miliar di Juni 2025. Sementara, laba bersih tercatat Rp 24,39 miliar per semester I 2026, naik 7,82% secara year on year (yoy).
DGIK sendiri telah menargetkan pendapatan bisa mencapai Rp 1,2 triliun - Rp 1,3 triliun di tahun 2026.
Djoko menjelaskan, peningkatan pendapatan per semester I didorong oleh proyek infrastruktur pertambangan khususnya dalam hal pengelolaan limbah, yang diperoleh di akhir 2025 senilai sekitar Rp 1,5 triliun.
Saat ini, proyek on going DGIK terdiri dari jalan tol, Pembangkit Listrik Tenaga Minihidro (PLTMH) Cikamunding Banten, apartemen, ruko komersial, pengelolaan limbah sektor tambang di wilayah Rokan, serta Gedung Kantor Pemerintahan Timor Leste.
Baca Juga: Strategi Kalbe Farma (KLBF) Hadapi Tekanan Margin
Total nilai kontrak on going DGIK saat ini sekitar lebih dari Rp 3 triliun per September 2026, dengan mayoritas disumbang dari proyek infrastruktur dan infrastruktur pertambangan.
Menurut Djoko, komposisi portofolio tersebut menunjukkan bahwa DGIK tidak hanya mengandalkan satu jenis pekerjaan, tetapi terus mengembangkan kapasitas dan peluang bisnis di berbagai segmen konstruksi.
“Dengan portofolio yang lebih terdiversifikasi, perusahaan memiliki basis pekerjaan yang lebih beragam untuk mendukung kinerja operasional dan pertumbuhan pendapatan secara berkelanjutan,” ungkapnya.
Sayangnya, sejumlah kontrak baru di semester I 2026 masih dikaji ulang lantaran kondisi makroekonomi global dan domestik, sehingga belum dapat disampaikan nilainya.
Namun, sebagai gambaran target nilai kontrak baru DGIK di tahun 2026 sebesar Rp 1,5 triliun. Ini sebenarnya bergeser dari target awal di kisaran Rp 2,5 triliun - Rp 3 triliun.
Perseroan meyakini target baru tersebut bisa tercapai dengan akselerasi teken kontrak di akhir tahun nanti dan ditargetkan kembali tumbuh di tahun 2027.
“Puncak volatilitas pasar ada di periode April-Juni, sehingga banyak kontrak baru di awal tahun yang di-review ulang,” ungkapnya.
Daya saing yang ketat di dalam negeri juga menjadi salah satu tantangan bagi DGIK saat ini, terutama dengan masuknya sejumlah kontraktor asing, seperti dari China, ke pasar Tanah Air.
Baca Juga: Penjualan Mobil Astra (ASII) Naik 20,5% di Agustus 2026, Tapi Pangsa Pasar Turun
Permintaan untuk pembangunan gedung dan kantor di Tanah Air juga sudah cukup jenuh saat ini. Namun, potensi kebutuhan proyek pembangunan infrastruktur di Indonesia masih tinggi.
Dengan kondisi yang menantang, DGIK pun menerapkan strategi dengan melakukan diversifikasi portofolio pengerjaan proyek, khususnya konstruksi di bidang pertambangan, energi, dan data center.
Sebagai gambaran untuk infrastruktur tambang, DGIK telah membangun proyek konstruksi di area pertambangan milik PT Vale Indonesia Tbk (INCO), PT Amman Mineral Nusa Tenggara (AMNT), dan PT Agincourt Resources, beberapa tahun lalu.
DGIK juga sudah punya portofolio mengerjakan gedung Cyber 1 dan Cyber 2 Tower di Jakarta sebagai portofolio bangunan data center.
Djoko bilang, prospek pembangunan proyek data center masih sangat masif setidaknya hingga lima tahun mendatang. Sehingga, riset dan pengembangan untuk tipe bangunan data center yang lebih luas akan dilakukan oleh perseroan.
“Kami juga optimistis dengan proyek konstruksi energi, termasuk untuk PLTM. Sebab, belum banyak perusahaan konstruksi swasta yang punya portofolio pembangunan PLTM,” katanya.
Pergeseran fokus anggaran pemerintah Indonesia dari bidang infrastruktur juga membuat DGIK tak lagi menjadikan rancangan anggaran negara tahun 2027 menjadi acuan dalam menetapkan arah bisnis perseroan di tahun mendatang.
Selain memperkuat portofolio di pasar swasta, DGIK juga mulai meningkatkan eksposur pada proyek luar negeri sebagai bagian dari strategi pertumbuhan perusahaan.
Timor Leste menjadi salah satu pasar yang memberikan peluang bagi DGIK, khususnya di tengah pengembangan infrastruktur yang tengah dilakukan negara tersebut. Proyek pembangunan gedung pemerintahan di Timor Leste ini disebut senilai sekitar Rp 115 miliar.
“Saat ini perseroan telah mendapatkan satu proyek pembangunan gedung pemerintahan, dan kami melihat adanya peluang untuk turut mengambil bagian dalam pengembangan infrastruktur di Timor Leste,” katanya.
Ke depan, DGIK masih akan mengincar sejumlah proyek pembangunan di luar negeri, utamanya di Asia Tenggara. Bahkan, sejumlah proyek di luar negeri tengah dalam proses tender, meskipun belum sampai tahap finalisasi.
“Kerja sama dalam bentuk joint operation dengan perusahaan asing juga masih akan terus kami lakukan,” paparnya.
Lebih lanjut, DGIK menerapkan prinsip kehati-hatian dalam memilih proyek baru. Setiap proyek dipilih secara selektif dengan mempertimbangkan risiko dan kemampuan perusahaan, terutama untuk menjaga kesehatan arus kas.
“Strategi ini juga sesuai dengan sinergi dari Grup Holding pemegang saham DGIK,” paparnya.
Persoalan tata kelola perusahaan juga menjadi unsur penting yang dilakukan DGIK dalam mewujudkan pertumbuhan kinerja yang berkelanjutan.
Djoko menegaskan, di internal perseroan sudah ada sistem monitoring untuk penagihan piutang untuk menjaga agar arus kas.
Penyusunan manajemen proyek yang menyeluruh, sistem pelaporan yang seluruhnya sudah terdigitalisasi, dan tahapan koordinasi yang terintegrasi juga terus dilakukan demi menjaga margin.
Apalagi, ketidakpastian nilai tukar rupiah dan suku bunga masih rentan menggerus beban operasional dan margin perusahaan konstruksi, termasuk DGIK.
“Kualitas proyek juga kami utamakan, bukan hanya kuantitas. Saat ini kami sudah melakukan sortir agar profit dan cashflow terjaga,” ungkapnya.
Melansir RTI, saham DGIK naik 11,48% dalam sebulan terakhir. Sejak awal tahun, sahamnya masih terkoreksi 25,27% year to date (YTD).
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News














