kontan.co.id
| : WIB | INDIKATOR |

Menghitung prospek NEO


Jumat, 28 Juni 2019 / 17:56 WIB

Menghitung prospek NEO

KONTAN.CO.ID -JAKARTA. Bagi penggemar kripto dunia, pasti tak asing dengan blockchain NEO. Dalam dunia kripto, NEO kerap disebut-sebut sebagai Ethereum China. Maksudnya, NEO berpotensi besar untuk jadi seperti Ethereum, kripto terpopuler kedua setelah Bitcoin.

Itu sebabnya, setahun setelah diluncurkan, pelaku pasar kripto memprediksi blockchain asal China ini memiliki masa depan yang cerah. Dalam beberapa tahun ke depan, NEO diyakini akan menjadi salah satu mata uang kripto teratas. Sejauh ini, NEO memang konsisten berada dalam top 20 kripto dunia dalam segi kapitalisasi pasar.

Data CoinMarketCap menunjukkan, saat ini NEO berada di posisi 17 dari 2.133 mata uang kripto yang masuk dalam radar CoinMarketCap. Padahal, di 2016, NEO belum masuk jajaran 20 besar mata uang kripto. Sayangnya, pamor NEO belakangan kian memudar.

Sejak diluncurkan, pergerakan harga NEO terbilang menjanjikan. Pada 15 Januari 2018 lalu, harga NEO mencapai level tertinggi sepanjang masa, yakni US$ 198,38.

Hanya saja, sejak saat itu, tenaga NEO seakan kelelahan. Akhir 2018, harganya nyungsep menjadi US$ 7,95. Artinya, harga saham NEO sudah tergunting 96% dari rekor. Lantas, apakah NEO mampu mengulang sejarah dan menggeser posisi Ethereum ke depannya?

Didukung China

Seperti yang diketahui, Ethereum merupakan cryptocurrency dengan komunitas terdesentralisasi dan tidak memiliki batas. Hampir semua jenis perdagangan dan bisnis dapat dilakukan melalui teknologi blokchain ini.

NEO pun memiliki tujuan yang sama. Singkatnya, NEO merupakan platform teknologi blockchain yang bisa diakses oleh publik untuk membuat token digital atau aset kripto berbasis smart contract dan pengembangan aplikasi terdesentralisasi atau decentralized application (DApp). Platform NEO terdiri dari dua mata uang, yakni NEO dan GAS.

Ada beberapa alasan mengapa NEO kerap disebut sebagai the next Ethereum. Salah satu alasannya, karena karakteristik pemograman blockchain NEO seperti Ethereum. Pada waktu itu di China belum ada yang membuat teknologi blockchain. Jadi, karena ada kesamaan dengan Ethereum, makanya NEO sering disebut Ethereum-nya China, kata Danny Taniwan, Co-founder dan Business Development Indonesia Blockchain Network.

Seperti yang diketahui, sebelumnya, China mendominasi pasar perdagangan Bitcoin dan masih menjadi penambang utama mata uang digital. Namun, kondisi ini memicu aksi spekulasi. Alhasil, pada akhir 2017, otoritas China melarang penggalangan dana melalui penerbitan koin perdana atau intial coin offering (ICO). China juga melarang perdagangan BitcoinYuan di pasar domestik.

Namun, kata Danny, selama tahun 2018, pemerintah China telah menunjukkan sikap pro teknologi blockchain. Sebagai bukti, pemerintah setempat mengucurkan dana miliaran dollar AS untuk pengembangan teknologi blockchain. Karena itu, keberadaan NEO juga tidak dilarang. Sampai sekarang, NEO masih beroperasi, kata Danny.

Vinsensius Sitepu, pengamat dan praktisi mata uang digital menambahkan, pemerintah China tidak pernah membuat kebijakan yang melarang perdagangan NEO. Yang dilarang pemerintah China adalah pengumpulan dana dari publik melalui skema ICO.

Itu sebabnya, bursa kripto yang aslinya didirikan di China, lantas banyak pindah ke negara lain seperti Singapura, Malta, dan Inggris, di mana peraturan bursa kriptonya tak terlalu ketat, katanya.

Christopher Tahir, analis kripto dari Cryptowatch Asia menambahkan, ada sejumlah keunggulan yang dimiliki NEO sebagai platform blockchain. Salah satunya, biaya transaksi di NEO saat ini masih terbilang murah, bahkan gratis. Di samping itu, kecepatan transaksinya mencapai 1.000 transaksi per detik (TPS). Saat ini NEO memiliki target untuk meningkatkannya menjadi 10.000 TPS, ujar Christoper.

Di sisi lain, NEO juga mempunyai beberapa kelemahan. Satu, ekosistem NEO terlalu tersentralisasi dengan sang founder, Da Hongfei. Dua, titik komputasi (node) juga cenderung terpusat bukan terdistribusi. Tiga, inovasi teknologi NEO dalam beberapa waktu belakangan terbilang minimal.

Respons pasarĀ 

Lalu, bagaimana respons pasar di Indonesia terhadap NEO?

Vinsensius menilai, respons pasar dalam negeri terhadap NEO juga kurang bagus. Di pasar bursa Indonesia, NEO hanya diperjualbelikan di Indodax, bursa jual beli kripto terbesar saat ini. Volume perdagangan mata uang virtual NEO terbilang rendah. Misalnya dalam 24 jam terakhir, volume perdagangan NEO di Indodax hanya Rp 11,3 juta.

Sementara itu, dari sisi laba, dalam tiga bulan pertama di tahun ini, NEO hanya mampu membukukan laba sebesar 30,7%. Angka ini jauh lebih rendah dibandingkan laba yang diperoleh Binance Coin (BNB).

Mengutip data Coinmarketcap, Vinsensius menyebutkan bahwa pertumbuhan nilai BNB dalam tiga bulan pertama di sepanjang tahun ini mencapai lebih dari 303%, yakni dengan harga per unit di kisaran US$ 25. Sedangkan selama setahun penuh, dari April 2018 hingga saat ini, kenaikan BNB mencapai lebih dari 106% dari harga di tahun lalu US$ 12,11 per unit.

Berdasarkan data tersebut, Vinsensius menilai, NEO tak terlalu diminati pasar dalam negeri. Karena itu, ia tidak merekomendasikan investor untuk mengoleksi NEO dalam jangka panjang. Alasannya, DApp yang menggunakan blockchain NEO tidak sebanyak Ethereum, EOS dan TRON. Vinsensius merekomendasikan investor untuk mengoleksi NEO dalam jangka pendek, dengan time horizon di bawah dua tahun atau lima tahun.

Tapi, kata Vinsensius, investasi jangka pendek adalah untuk para spekulator yang punya dana gede sehingga masuk ke pasar untuk membeli NEO lalu menjualnya lagi setelah dapat cuan yang besar. Meskipun kenaikannya kecil ya, sekitar 2%. Kalau jangka pendek, sekadar mendapatkan easy money, silakan saja, katanya.

Christopher pun tidak merekomendasikan investor menginvestasikan dananya di mata uang NEO. Saya kurang merekomendasikan NEO karena melihat tipisnya transaksi NEO di Indonesia. Saya tetap hanya merekomendasikan Bitcoin. Investor kripto wajib koleksi Bitcoin, berapapun jumlahnya, katanya.

Dengan melihat growth dan pengguna yang tidak bertumbuh signifikan, Christopher pesimistis melihat masa depan NEO untuk ke depannya.

Untuk menggeser Ethereum tampaknya agak susah, mengingat ekosistem Ethereum sudah cukup dewasa dan sangat berkembang dengan panjangnya roadmap yang ada dan terus dijalankan, kata Christopher.


Reporter: Dikky Setiawan
Editor: Dikky Setiawan

Tag
TERBARU
Hubungi Kami
Redaksi : Gedung KONTAN,
Jalan Kebayoran Lama No. 1119 Jakarta 12210.
021 5357636/5328134
moderator[at]kontan.co.id
Epaper[at]kontan.co.id
Iklan : Gedung KOMPAS GRAMEDIA Unit 2
Lt 2 Jl. Palmerah selatan 22-28
Jakarta Selatan 10740.
021 53679909/5483008 ext 7304,7306
2019 © Kontan.co.id All rights reserved
Sitemap | Profile | Term of Use | Pedoman Pemberitaan Media Siber | Privacy Policy

diagnostic_api_kiri = 0.0013 || diagnostic_api_kanan = 0.0004 || diagnostic_web = 0.1446

Close [X]
×