kontan.co.id
banner langganan top
| : WIB | INDIKATOR |
  • EMAS 2.504.000   16.000   0,64%
  • USD/IDR 16.743   36,00   0,22%
  • IDX 8.725   77,96   0,90%
  • KOMPAS100 1.201   7,76   0,65%
  • LQ45 849   2,62   0,31%
  • ISSI 314   5,12   1,66%
  • IDX30 437   0,17   0,04%
  • IDXHIDIV20 510   -0,25   -0,05%
  • IDX80 133   0,91   0,68%
  • IDXV30 140   0,61   0,44%
  • IDXQ30 140   -0,01   -0,01%

Memasuki 2026, Reksadana Saham Masih Prospektif Meski Berisiko Tinggi


Jumat, 02 Januari 2026 / 07:47 WIB
Memasuki 2026, Reksadana Saham Masih Prospektif Meski Berisiko Tinggi
ILUSTRASI. Ilustrasi pasar modal (KONTAN/Cheppy A. Muchlis). Sepanjang 2025, reksadana saham memimpin kinerja dengan return 20,62% YTD, meskipun di bawah IHSG, sementara reksadana pasar uang mencatat return terendah 4,43%.


Reporter: Vatrischa Putri Nur | Editor: Noverius Laoli

Selain karena ditopang oleh derasnya likuiditas dari investor ritel, tren positif RDS juga didorong upaya sejumlah emiten untuk masuk ke indeks internasional seperti MSCI, FTSE, hingga Market Vector, turut menjadi katalis bagi saham-saham growth yang kerap dijuluki sebagai saham “konglomerasi baru” atau saham konglo.

“Sentimen tersebut membuat saham-saham berkapitalisasi menengah hingga besar dengan prospek pertumbuhan tinggi menjadi motor utama penggerak return reksadana saham tahun ini,” jelas Rudiyanto.

Memasuki 2026, prospek industri reksadana dinilai masih cukup terbuka. Penurunan suku bunga, baik di tingkat global maupun domestik, diperkirakan akan memberikan dampak positif terhadap kinerja instrumen investasi secara keseluruhan.

Tetapi Rudiyanto mencermati, semua jenis reksadana masih akan berpeluang positif pada 2026 kecuali RDPU, sebab bunga deposito mengalami tren penurunan.

Baca Juga: Reksadana Syariah Diprediksi Solid pada2026, Prospek Saham dan Obligasi Cerah

Sementara Reza memproyeksikan return RDS pada tahun depan berpeluang mencetak 7%-12% per tahun, meski dengan volatilitas tinggi, terutama jika pertumbuhan ekonomi nasional tetap solid dan kinerja emiten membaik.

Dengan suku bunga acuan Bank Indonesia yang cenderung stabil serta volatilitas pasar yang lebih rendah, potensi return RDPU pada 2026 diproyeksikan Reza berada di kisaran 4%-6% per tahun, dan RDPT diperkirakan berada di rentang 5%-8% per tahun.

Untuk RDC, dengan asumsi kondisi ekonomi domestik membaik dan valuasi saham lebih atraktif, Reza memprediksi RDC di 2026 berpotensi mencetak return 6%-9% per tahun. Pada semester pertama 2025, RDC tercatat membukukan return sekitar 3,19%, sejalan dengan volatilitas pasar saham dan obligasi.

“Investor disarankan tetap mencermati faktor makroekonomi, arah suku bunga, serta dinamika pasar agar strategi investasi tetap optimal ke depan,” pungkas Reza.

Selanjutnya: Penjelasan Lengkap Pra-Kontrak dan Bosman Rule di Sepak Bola

Menarik Dibaca: Promo Bakmi GM Spesial Awal Tahun, Paket Bakmi Ayam & Minum Cuma Rp 26.000

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News




TERBARU
Kontan Academy
Mitigasi, Tips, dan Kertas Kerja SPT Tahunan PPh Coretax Orang Pribadi dan Badan Supply Chain Management on Practical Inventory Management (SCMPIM)

[X]
×