kontan.co.id
banner langganan top
| : WIB | INDIKATOR |
  • LQ45697,73   -32,02   -4.39%
  • EMAS946.000 -1,77%
  • RD.SAHAM -0.69%
  • RD.CAMPURAN -0.34%
  • RD.PENDAPATAN TETAP -0.01%

Melemah, Wall Street masih mencerna efek stimulus The Fed


Senin, 23 Maret 2020 / 21:30 WIB
Melemah, Wall Street masih mencerna efek stimulus The Fed
ILUSTRASI. Wall Street turun tipis di awal perdagangan pekan ini.

Reporter: Wahyu Tri Rahmawati | Editor: Wahyu T.Rahmawati

KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Wall Street turun tipis di awal perdagangan pekan ini. Senin (23/3) pukul 21.11 WIB, Dow Jones Industrial Average turun 1,32% ke 18.924.

Indeks S&P 500 turun 1,50% ke 2.268. Sedangkan Nasdaq Composite turun tipis 0,09% ke 6.874.

Pasar saham masih mencerna efek sokongan stimulus Federal Reserve. The Fed mengatakan akan menyokong berbagai kredit seperti kredit rumah tangga, UKM dan kredit korporasi besar, yang belum pernah terjadi sebelumnya. Ini adalah upaya bank sentral Amerika Serikat (AS) untuk mengimbangi gangguan parah akibat virus corona.

Baca Juga: Level psikologis rupiah jangka pendek Rp 16.000-Rp 17.000 per dolar AS

The Fed pun mengatakan bahwa pembelian US Treasury dan efek beragun KPR akan diperluas sebanyak yang diperlukan.

"Ini adalah momen besar mereka. Ini momen bank sentral mengatakan, kami akan melakukan apa yang diperlukan,"  kata Russell Price, Kepala Ekonom Ameriprise Financial Service kepada Reuters.

Price menambahkan bahwa saat ini pasar saham masih dalam mode menunggu hingga virus mereda. "Pasar menunggu hingga ada perawatan yang bisa memperbaiki kondisi," ujar dia.

Baca Juga: Kapitalisasi pasar hangus Rp 2.649 triliun, akuisisi emiten bisa lebih murah

Investor masih memilih US Treasury dan mata uang yen sebagai aset aman di tengah penyebaran virus corona. "Penurunan lebih lanjut kondisi akibat wabah corona akan mengguncang ekonomi global," ungkap analis Morgan Stanley dalam catatan yang dikutip Reuters.

Morgan Stanley memperkirakan pertumbuhan ekonomi global akan mendekati level ketika krisis finansial global dan AS tahun ini bisa mencapai pertumbuhan terendah dalam 74 tahun terakhir.

Goldman Sachs juga memperingatkan kemungkinan penurunan pertumbuhan ekonomi global sebesar 1% pada tahun ini.




TERBARU

Close [X]
×