kontan.co.id
banner langganan top
| : WIB | INDIKATOR |
  • LQ45919,51   10,20   1.12%
  • EMAS1.350.000 0,52%
  • RD.SAHAM 0.05%
  • RD.CAMPURAN 0.03%
  • RD.PENDAPATAN TETAP 0.00%

Melemah pada Perdagangan Kamis (21/12), Cermati Proyeksi Rupiah pada Akhir Pekan


Kamis, 21 Desember 2023 / 17:47 WIB
Melemah pada Perdagangan Kamis (21/12), Cermati Proyeksi Rupiah pada Akhir Pekan
ILUSTRASI. Petugas menghitung uang rupiah dan dolar AS di gerai penukaran valas Ayu Masagung, Jakarta, Senin (30/10/2023). Melemah Terbatas Hari Ini, Begini Proyeksi Rupiah di Perdagangan Akhir Pekan, Jumat (22/12).


Reporter: Akmalal Hamdhi | Editor: Noverius Laoli

KONTAN.CO.ID – JAKARTA. Rupiah ditutup melemah terbatas terhadap dolar Amerika Serikat (AS) di perdagangan Kamis (21/12). Investor cenderung wait and see keputusan Bank Indonesia (BI) di pertemuan bulan Desember 2023.

Mengutip Bloomberg, kurs rupiah spot ditutup pada level Rp 15.525 per dolar AS atau melemah 0,09% dari posisi penutupan Rabu (20/12) Rp 15.511 per dolar AS. Senada, kurs rupiah Jakarta Interbank Spot Dollar (Jisdor) melemah sekitar 0,14% ke Rp 15.533 per dolar AS dari posisi kemarin Rp 15.512 per dolar AS.

Pengamat Mata Uang, Lukman Leong, mengamati, rupiah hari ini bergerak datar terhadap dolar AS. Hal ini dipengaruhi oleh Rapat Dewan Gubernur Bank Indonesia (RDG BI) yang masih tetap mempertahankan suku bunga dalam usaha menjaga stabilitas rupiah, namun memberikan pandangan dovish pada perekonomian global tahun depan.

Baca Juga: BI Tahan Suku Bunga, Rupiah Spot Melemah Lagi ke Rp 15.525 Per Dolar AS Kamis (21/12)

“Rupiah melemah tipis terhadap dolar AS dalam perdagangan yang datar,” ungkap Lukman kepada Kontan.co.id, Kamis (21/12).

Direktur Laba Forexindo Berjangka Ibrahim Assuaibi mengatakan, keputusan Bank Indonesia mempertahankan suku bunga acuan pada pertemuan 20 -21 Desember, sejalan dengan langkah The Fed.

Seperti diketahui, BI mempertahankan suku bunga acuan di level 6%, serta suku bunga Deposit Facility tetap bertahan di level 5,25%, dan suku bunga Lending Facility 6,75% hari ini, Kamis (21/12).

Sebelumnya, The Fed dalam rapat FOMC terakhir tahun 2023 tidak mengubah tingkat suku bunga (FFR) di kisaran 5,25% - 5,50% pada Rabu (13/12).

Ibrahim menjelaskan, keputusan BI mempertahankan suku bunga acuan ini tetap konsisten dengan kebijakan moneter yang prostability, guna penguatan stabilisasi nilai tukar rupiah serta langkah pre-emptive dan forward looking untuk memastikan inflasi tetap terkendali dalam sasaran 3,0±1% pada 2023 dan 2,5±1% pada 2024.

Baca Juga: Periksa Panduan Tukar Valas dan Kurs Dollar-Rupiah di Bank Mandiri pada Kamis (21/12)

Dari eksternal, rupiah masih tersengat pernyataan beberapa pejabat Fed yang memperingatkan bahwa taruhan terhadap penurunan suku bunga lebih awal dari bank sentral terlalu optimistis, mengingat tren inflasi masih jauh di atas target tahunan The Fed sebesar 2%.

“Komentar mereka memungkinkan dolar untuk pulih dari posisi terendah dalam lima bulan pada minggu ini,” kata Ibrahim dalam riset harian, Kamis (21/12).

Ibrahim menambahkan, pasar juga menantikan sejumlah data ekonomi yang akan dirilis pekan ini, dengan revisi data PDB kuartal ketiga yang akan dirilis hari ini. Kekuatan ekonomi AS memberi The Fed lebih banyak ruang untuk mempertahankan suku bunga lebih tinggi dalam jangka waktu lebih lama.

Data klaim pengangguran mingguan juga akan dirilis pada hari Kamis (21/12), sementara pembacaan indeks harga PCE sebagai alat pengukur inflasi pilihan The Fed akan dirilis pada hari Jumat (22/12).

“Inflasi dan kekuatan pasar tenaga kerja merupakan poin utama yang menjadi perdebatan bagi The Fed, karena kedua sektor tersebut telah menunjukkan ketahanan yang mengejutkan dalam beberapa bulan terakhir,” imbuh Ibrahim.

Baca Juga: Rupiah Diramal Bergerak Datar Menjelang Hasil RDG BI Hari Ini, Kamis (21/12)

Sentimen dari pasar Asia datang dari Bank Rakyat Tiongkok (PBOC) yang mempertahankan suku bunga pinjaman acuannya pada rekor terendah minggu ini. Hal itu karena bank tersebut kesulitan menjaga keseimbangan antara mendorong pertumbuhan ekonomi dan membendung pelemahan mata uangnya.

Ibrahim menuturkan, situasi ini membuat pasar tetap gelisah mengenai prospek ekonomi Tiongkok yang terus melemah akibat krisis properti yang sampai saat ini masih belum ada titik penyelesaian.

Lukman turut melihat adanya beberapa sentimen dari eksternal yang akan mempengaruhi rupiah di perdagangan besok Jumat (22/12). Rupiah akan ditentukan beberapa data ekonomi AS seperti data PDB final AS dan klaim pengangguran.

“Besok, investor mengantisipasi data inflasi PCE AS yang diperkirakan akan menunjukkan kenaikan pada penghasilan dan pengeluaran yang lebih kuat dari bulan sebelumnya,” jelasnya.

Baca Juga: Investor Menanti RDG BI, Rupiah Diramal Bergerak Datar di Perdagangan Kamis (21/12)

Lukman memperkirakan rupiah akan bergerak melemah terbatas dalam kisaran harga Rp 15.450 per dolar AS – Rp 15.600 per dolar AS di perdagangan Jumat (22/12). Sedangkan, Ibrahim memproyeksi rupiah akan bergerak fluktuatif namun ditutup melemah di rentang  Rp 15.500 per dolar AS – Rp 15.560 per dolar AS.

Selanjutnya: Program Berhadiah Berkah Seru Tingkatkan Animo Bertransaksi Nasabah Bank Muamalat

Menarik Dibaca: 5 Cara Mengatasi Jerawat pada Kulit Kering, Hindari Scrub Wajah!

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News




TERBARU

[X]
×