Reporter: Alya Fathinah | Editor: Avanty Nurdiana
KONTAN.CO.ID – JAKARTA. Mayoritas mata uang Asia masih berada di bawah tekanan dolar Amerika Serikat (AS) pada perdagangan pekan ini. Kondisi tersebut dipicu oleh ekspektasi suku bunga tinggi Federal Reserve (The Fed) yang bertahan lebih lama serta meningkatnya ketidakpastian geopolitik global.
Mengacu data Trading Economics pada Senin (29/6) pukul 15.22 WIB, pasangan USD/JPY menguat 0,16% secara mingguan ke level 161. Dolar AS juga menguat terhadap yuan China dengan pasangan USD/CNY naik 0,26% menjadi 6,79.
Sementara itu, pasangan USD/KRW menguat 0,40% ke level 1.544 dan USD/SGD naik tipis 0,03% menjadi 1,29.
Baca Juga: Rupiah Menguat 0,40% Senin (29/6), Jisdor BI Ikut Menghijau ke Rp 17.856 per Dolar AS
Research and Development ICDX, Muhammad Amru Syifa mengatakan, pelemahan mata uang Asia saat ini lebih banyak dipengaruhi sentimen global dibandingkan faktor domestik masing-masing negara.
"Ekspektasi bahwa Federal Reserve masih akan mempertahankan suku bunga pada level tinggi, ditambah meningkatnya ketidakpastian geopolitik, membuat dolar AS tetap diminati sebagai aset safe haven sehingga memberi tekanan pada mata uang Asia," ujar Amru kepada Kontan, Senin (29/6).
Menurut Amru, selama ekspektasi suku bunga tinggi di AS masih bertahan dan ketidakpastian global belum mereda, mata uang Asia berpotensi tetap bergerak volatil.
Namun demikian, negara yang memiliki fundamental ekonomi kuat, seperti inflasi yang terkendali, cadangan devisa yang memadai serta pertumbuhan ekonomi yang solid, dinilai akan lebih mampu meredam tekanan terhadap nilai tukarnya dibandingkan negara dengan kondisi fundamental yang lebih rentan.
Amru menambahkan, apabila dolar AS terus menguat dalam beberapa pekan mendatang, tekanan terhadap mata uang Asia, termasuk rupiah, masih berpotensi berlanjut.
Namun, pelemahannya diperkirakan tidak akan terlalu dalam selama bank sentral di kawasan tetap aktif menjaga stabilitas nilai tukar melalui kebijakan moneter maupun intervensi di pasar valuta asing.
Memasuki semester II-2026, Amru menilai prospek mata uang Asia masih akan sangat ditentukan oleh arah kebijakan Federal Reserve. Jika ekspektasi penurunan suku bunga AS mulai menguat dan tensi geopolitik berangsur mereda, tekanan terhadap mata uang Asia diperkirakan akan berkurang.
Baca Juga: Rupiah Ditutup Menguat ke Rp 17.852 per Dolar Senin (29/6), Reli Berlanjut Tiga Hari
Adapun untuk rupiah, Amru menilai fundamental ekonomi Indonesia yang relatif terjaga serta komitmen Bank Indonesia dalam menjaga stabilitas nilai tukar diharapkan dapat membantu meredam volatilitas di tengah dinamika pasar global.
Dalam jangka pendek, pelaku pasar akan mencermati sejumlah indikator ekonomi AS, seperti keputusan dan pernyataan Federal Reserve, data ketenagakerjaan atau Nonfarm Payrolls (NFP), inflasi AS melalui CPI dan PCE, serta pertumbuhan ekonomi Negeri Paman Sam.
Selain itu, pergerakan Indeks Dolar AS (DXY), imbal hasil US Treasury, dan perkembangan geopolitik global juga diperkirakan akan menjadi penentu utama arah pergerakan mata uang Asia.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News














