Reporter: Alya Fathinah | Editor: Noverius Laoli
KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Mayoritas mata uang Asia menguat terhadap dolar Amerika Serikat (AS) sepanjang pekan ini.
Berdasarkan data Bloomberg, won Korea Selatan (KRW) mencatat penguatan terbesar 2,4%, disusul peso Filipina (PHP) yang naik 0,6%, dolar Singapura (SGD) menguat 0,4%, dan rupiah terapresiasi 0,5%.
Di saat yang sama, indeks dolar AS (DXY) melemah tipis dari level 100 pada awal pekan menjadi 99,83 pada akhir pekan.
Research and Development ICDX, Muhammad Amru Syifa, mengatakan, penguatan mayoritas mata uang Asia didorong kombinasi sentimen global dan faktor domestik masing-masing negara.
Baca Juga: Saat Dolar AS Perkasa, Cermati Valas Rekomendasi Analis
"Dari sisi global, dolar AS cenderung melemah karena pasar mulai melihat peluang kenaikan suku bunga The Fed tidak seagresif yang sebelumnya diperkirakan," ujar Amru kepada Kontan, Jumat (12/6/2026).
Selain itu, meningkatnya harapan kesepakatan antara AS dan Iran turut memperbaiki sentimen pasar global. Kondisi tersebut mendorong investor kembali memburu aset berisiko, termasuk mata uang negara-negara berkembang di Asia.
Amru menjelaskan, sejumlah mata uang Asia juga memperoleh dukungan dari faktor domestik. Won Korea Selatan menguat seiring meningkatnya ekspektasi pengetatan kebijakan moneter setelah inflasi menunjukkan tren kenaikan.
Sementara itu, peso Filipina mendapat sentimen positif dari inflasi yang mulai melandai sehingga meningkatkan optimisme terhadap prospek ekonomi negara tersebut.
Adapun rupiah ditopang oleh keputusan Bank Indonesia (BI) yang menaikkan suku bunga acuan menjadi 5,50%. Menurut Amru, langkah tersebut mendapat respons positif dari investor dan meningkatkan daya tarik aset keuangan domestik.
Baca Juga: Kebijakan Moneter Mendukung, Euro dan NZD Diprediksi Jadi Jawara Pasar Valas
"Secara keseluruhan, pelemahan dolar AS, membaiknya sentimen pasar global, serta faktor fundamental masing-masing negara menjadi pendorong utama penguatan mata uang Asia sepanjang pekan ini," kata Amru.
Ke depan, Amru menilai prospek mata uang Asia pada semester II-2026 masih akan sangat dipengaruhi oleh arah kebijakan The Fed dan perkembangan ekonomi AS.
Jika inflasi AS terus melandai dan peluang kenaikan suku bunga tambahan semakin kecil, mata uang Asia berpeluang melanjutkan tren penguatan secara bertahap.
Namun, volatilitas diperkirakan masih akan tinggi karena pasar tetap sensitif terhadap berbagai rilis data ekonomi AS dan perkembangan geopolitik global.
Selain itu, harga minyak juga akan menjadi faktor penting. Menurut Amru, stabilitas harga energi dan meredanya ketegangan geopolitik dapat mengurangi tekanan terhadap negara-negara pengimpor energi di Asia sehingga membantu menjaga stabilitas mata uang kawasan.
Khusus untuk rupiah, Amru menilai penguatan yang hanya berlangsung beberapa hari setelah kenaikan suku bunga BI tidak dapat diartikan sebagai kegagalan kebijakan moneter.
Baca Juga: Dolar AS dan Valas Safe Haven Menguat, Jadi Sinyal Tingginya Kecemasan Pasar
"Tujuan utama kenaikan suku bunga adalah menjaga stabilitas nilai tukar dan meningkatkan kepercayaan investor terhadap aset domestik, bukan semata-mata mendorong rupiah menguat dalam waktu singkat," ujar Amru.
Pada semester II-2026, rupiah diperkirakan bergerak lebih stabil dengan dukungan kebijakan BI, meningkatnya minat investor terhadap aset domestik serta potensi masuknya kembali aliran modal asing.
Meski demikian, pergerakan rupiah masih akan sangat dipengaruhi oleh arah dolar AS, kebijakan The Fed, serta perkembangan geopolitik global.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News













