Reporter: Alya Fathinah | Editor: Noverius Laoli
Namun, volatilitas diperkirakan masih akan tinggi karena pasar tetap sensitif terhadap berbagai rilis data ekonomi AS dan perkembangan geopolitik global.
Selain itu, harga minyak juga akan menjadi faktor penting. Menurut Amru, stabilitas harga energi dan meredanya ketegangan geopolitik dapat mengurangi tekanan terhadap negara-negara pengimpor energi di Asia sehingga membantu menjaga stabilitas mata uang kawasan.
Khusus untuk rupiah, Amru menilai penguatan yang hanya berlangsung beberapa hari setelah kenaikan suku bunga BI tidak dapat diartikan sebagai kegagalan kebijakan moneter.
Baca Juga: Dolar AS dan Valas Safe Haven Menguat, Jadi Sinyal Tingginya Kecemasan Pasar
"Tujuan utama kenaikan suku bunga adalah menjaga stabilitas nilai tukar dan meningkatkan kepercayaan investor terhadap aset domestik, bukan semata-mata mendorong rupiah menguat dalam waktu singkat," ujar Amru.
Pada semester II-2026, rupiah diperkirakan bergerak lebih stabil dengan dukungan kebijakan BI, meningkatnya minat investor terhadap aset domestik serta potensi masuknya kembali aliran modal asing.
Meski demikian, pergerakan rupiah masih akan sangat dipengaruhi oleh arah dolar AS, kebijakan The Fed, serta perkembangan geopolitik global.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News













