Reporter: Rashif Usman | Editor: Tri Sulistiowati
KONTAN.CO.ID - JAKARTA. PT Mayora Indah Tbk (MYOR) mencatatkan pertumbuhan penjualan bersih sepanjang tahun 2025. Namun, di tengah kenaikan pendapatan tersebut, laba bersih perusahaan justru mengalami penurunan dibandingkan tahun sebelumnya.
Berdasarkan laporan keuangan perusahaan, penjualan bersih MYOR naik 7,23% secara tahunan (year on year/yoy) menjadi Rp 38,68 triliun pada 2025, dari sebelumnya Rp 36,07 triliun pada 2024.
Secara rinci, penjualan dari segmen makanan olahan dalam kemasan mencapai Rp 24,14 triliun, minuman olahan dalam kemasan Rp 18,25 triliun. Serta eliminasi penjualan bersih tercatat Rp 3,71 triliun.
Kenaikan penjualan ini diikuti oleh peningkatan beban pokok penjualan sebesar 8,71% yoy menjadi Rp 30,19 triliun, dari Rp 27,77 triliun pada tahun sebelumnya.
Baca Juga: Sido Muncul (SIDO) Bakal Rombak Susunan Direksi, Ini Strategi Tingkatkan Kinerja 2026
Alhasil, laba kotor MYOR masih tumbuh, tetapi relatif terbatas, yakni 2,29% yoy menjadi Rp 8,49 triliun pada 2025, dibandingkan Rp 8,30 triliun pada 2024.
Di level operasional, MYOR juga mencatatkan kenaikan beban usaha menjadi Rp 4,77 triliun, atau tumbuh 8,70% yoy dari Rp 4,39 triliun pada 2024.
Kenaikan beban usaha terutama berasal dari beban penjualan yang naik menjadi Rp 3,88 triliun dari Rp 3,53 triliun, dan beban umum dan administrasi yang meningkat menjadi Rp 885,63 miliar dari Rp 857,91 miliar.
Tekanan dari kenaikan beban tersebut membuat laba usaha MYOR turun 4,89% yoy menjadi Rp 3,72 triliun pada 2025, dari Rp 3,92 triliun pada 2024.
Dari pos non-operasional, MYOR masih mencatatkan beberapa penopang, seperti keuntungan selisih kurs mata uang asing bersih sebesar Rp 230,89 miliar, naik dari Rp 148,59 miliar, serta penghasilan bunga sebesar Rp 125,50 miliar.
Namun, perusahaan juga menghadapi kenaikan beban bunga yang cukup signifikan menjadi Rp 593,10 miliar, dari Rp 425,20 miliar pada tahun sebelumnya.
Dengan kondisi tersebut, laba sebelum pajak MYOR turun 6,82% yoy menjadi Rp 3,62 triliun, dari Rp 3,88 triliun pada 2024. Pada akhirnya, laba tahun berjalan MYOR tercatat sebesar Rp 2,91 triliun, turun 5,14% yoy dibandingkan Rp 3,07 triliun pada 2024.
Sementara itu, laba tahun berjalan yang dapat diatribusikan kepada pemilik entitas induk atau laba bersih yang menjadi porsi pemegang saham MYOR turun 4,5% yoy menjadi Rp 2,87 triliun, dari Rp 3,00 triliun pada tahun sebelumnya.
Sejalan dengan itu, laba per saham dasar (basic earnings per share/EPS) juga turun menjadi Rp 128,42, dari Rp 134,19 pada 2024.
Emiten konsumer ini melaporkan total aset sebesar Rp 31,37 triliun per akhir 2025, naik dari periode yang sama tahun sebelumnya sebesar Rp 29,72 triliun.
Jumlah liabilitas perusahaan tercatat Rp 13,01 triliun, meningkat dari sebelumnya Rp 12,62 triliun. Lalu, jumlah ekuitas perusahaan mencapai Rp 18,36 triliun, naik dari posisi Rp 17,1 triliun.
MYOR juga melaporkan saldo kas dan setara kas akhir tahun sebesar Rp 5,84 triliun per akhir tahun 2025, meningkat dari periode sebelumnya sebesar Rp 4,6 triliun.
Baca Juga: Harga Minyak Melonjak, Emas Justru Melemah di Tengah Gejolak Global
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News













