kontan.co.id
banner langganan top
| : WIB | INDIKATOR |
  • EMAS 2.839.000   0   0,00%
  • USD/IDR 17.553   53,00   0,30%
  • IDX 6.723   -135,58   -1,98%
  • KOMPAS100 893   -22,45   -2,45%
  • LQ45 658   -11,96   -1,79%
  • ISSI 243   -4,93   -1,99%
  • IDX30 371   -5,63   -1,49%
  • IDXHIDIV20 455   -6,14   -1,33%
  • IDX80 102   -2,10   -2,02%
  • IDXV30 130   -2,00   -1,52%
  • IDXQ30 119   -1,28   -1,07%

Harga Emas Diproyeksi Tetap Volatil pada 2026, Ketidakpastian Global Jadi Penopang


Kamis, 14 Mei 2026 / 14:48 WIB
Harga Emas Diproyeksi Tetap Volatil pada 2026, Ketidakpastian Global Jadi Penopang
ILUSTRASI. Harga emas melonjak tajam, bahkan diproyeksi capai US$ 6.000! Ketahui pemicu kenaikan dan cara manfaatkan momentum ini. (Guo Shining/VCG via Reuters)


Reporter: Vendy Yhulia Susanto | Editor: Handoyo

KONTAN.CO.ID – JAKARTA. Fluktuasi harga emas diproyeksi masih akan berlanjut sepanjang tahun 2026 seiring meningkatnya ketidakpastian global dan tensi geopolitik dunia. Kondisi tersebut mendorong permintaan aset safe haven, termasuk emas, tetap tinggi di tengah volatilitas pasar keuangan global.

Mengutip Trading Economics pada Kamis (14/5/2026) pukul 13.27 WIB, harga emas berada di level US$ 4.691 per troy ons. Posisi tersebut mencerminkan kenaikan 8,17% secara year to date (ytd) dan melonjak 44,36% secara year on year (yoy).

Head of Asia Pacific (ex-China) sekaligus Global Head of Central Banks World Gold Council (WGC), Shaokai Fan, mengatakan volatilitas harga emas saat ini mencerminkan kondisi global yang juga terjadi di berbagai kelas aset. Menurutnya, meningkatnya ketidakpastian dunia justru mendorong arus masuk investasi ke emas.

“Jadi memang tidak dapat dipungkiri bahwa volatilitas harga emas dan kelas aset meningkat dan mungkin akan terus meningkat. Ini memang menggambarkan kondisi dunia yang dipenuhi dengan ketidakpastian dan juga volatilitas,” ujar Shaokai dalam konferensi pers, Rabu (13/5/2026).

Baca Juga: Tersingkir dari Indeks MSCI, Aneka Tambang (ANTM) Tegaskan Fundamental Tetap Kuat

Shaokai menjelaskan, secara historis emas terbukti menjadi salah satu instrumen lindung nilai krisis (crisis hedge) paling andal bagi masyarakat Indonesia. Pada krisis finansial Asia 1997–1998, emas dinilai mampu menjaga daya beli masyarakat ketika nilai tukar rupiah terdepresiasi tajam.

Menurut WGC, pola tersebut terus berulang setiap kali terjadi pelemahan mata uang dan tekanan di pasar keuangan. Bahkan pada tahun 2025, performa emas tercatat mampu mengungguli mayoritas saham domestik maupun global serta obligasi berbasis rupiah.

Pada kuartal I–2026, harga emas tercatat naik 14% dalam denominasi rupiah, sementara pasar saham domestik terkoreksi hingga 13%.

Di luar periode krisis, emas juga dinilai mampu memberikan imbal hasil jangka panjang yang stabil. Dalam 20 tahun terakhir, rata-rata pertumbuhan emas mencapai sekitar 15% per tahun dalam denominasi rupiah.

“Analisis WGC menyimpulkan bahwa alokasi emas sebesar 2,5% saja dapat meningkatkan kualitas portofolio investor Indonesia dengan mengurangi risiko konsentrasi dan memperkuat diversifikasi,” terang Shaokai.

Sementara itu, Research & Development ICDX, Tiffani Safinia, menilai prospek emas masih cenderung positif dalam jangka pendek. Peningkatan permintaan safe haven dipicu oleh eskalasi konflik geopolitik di Timur Tengah, khususnya terkait ketegangan AS-Iran.

Baca Juga: Investor Masih Memburu SBN Ritel, Penjualan ST016 Tembus 37%

Namun demikian, Tiffani mengingatkan penguatan harga emas berpotensi tetap volatil. Pasalnya, lonjakan harga minyak dunia juga dapat meningkatkan kekhawatiran inflasi dan membuka peluang suku bunga tinggi bertahan lebih lama.

“Faktor utama yang mempengaruhi harga emas ke depan meliputi perkembangan konflik AS-Iran, pergerakan harga minyak, arah suku bunga The Fed, penguatan dolar AS, serta data ekonomi AS. Selain itu, pembelian emas oleh bank sentral global terutama China juga masih menjadi penopang harga,” jelas Tiffani.

Dari sisi strategi investasi, investor jangka pendek dinilai dapat memanfaatkan volatilitas harga dengan tetap disiplin menerapkan manajemen risiko serta mencermati perkembangan konflik geopolitik global.

“Sementara untuk jangka menengah-panjang, strategi akumulasi bertahap dinilai masih relevan karena emas tetap menjadi instrumen lindung nilai terhadap inflasi dan ketidakpastian global,” ucap Tiffani.

Terkait proyeksi harga emas, Shaokai menegaskan WGC tidak memberikan forecast resmi terhadap harga logam mulia tersebut. Meski demikian, ia menilai momentum pasar emas saat ini masih cukup positif.

Ia juga menyebut sejumlah lembaga keuangan global, termasuk Bank of America, memperkirakan harga emas berpotensi mencetak rekor tertinggi baru atau all time high (ATH) hingga mencapai US$ 6.000 per troy ons pada tahun 2026.

Baca Juga: Mata Uang Asia Bergerak Variatif, Yen Masih Tertekan Dolar AS

“Jadi sekali lagi WGC tidak menyiapkan forecast harga emas, tapi kalau ketidakpastian global dan guncangan – guncangan ini terus terjadi, maka tentunya semua ini dapat menjadi katalis terhadap kenaikan harga emas,” kata Shaokai.

Adapun Tiffani memproyeksikan harga emas dunia bergerak di kisaran US$ 4.600–US$ 5.100 per troy ons hingga akhir semester I–2026. Sementara itu, Analis Komoditas dan Mata Uang Ibrahim Assuaibi memperkirakan harga logam mulia dapat mencapai Rp 3 juta per gram pada akhir semester I–2026.

Sebagai informasi, World Gold Council mencatat permintaan emas global meningkat 2% secara year on year (yoy) menjadi 1.231 ton pada kuartal I–2026. Pasokan emas tersebut berasal dari produksi tambang sebesar 885 ton, emas daur ulang sebanyak 366 ton, serta aksi melepas lindung nilai (de-hedging) sebesar 10,4 ton.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News




TERBARU
Kontan Academy
Promo Markom Kepailitan & PKPU, dalam Turbulensi Perekonomian : Ancaman atau Solusi?

[X]
×