Reporter: Vatrischa Putri Nur | Editor: Herlina Kartika Dewi
KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Pergerakan mata uang Asia masih menunjukkan kinerja yang beragam meski indeks dolar AS (DXY) masih bertengger di bawah level 100.
Melansir Trading Economics pada Rabu (12/8/2026) pukul 17.40 WIB, yen Jepang berada di level 158,1 per dolar AS melemah 0,91% dalam sepekan. Valas yen China tercatat berada di level 6,7 per dolar AS atau menguat 0,05% dalam sepekan, serta won Korea juga tercatat menguat 0,34% dalam tujuh hari terakhir menjadi 1.416,46 per dolar AS.
Sementara nilai tukar rupiah di pasar spot terus tertekan hingga akhir perdagangan hari ini. Rabu (12/8), rupiah spot ditutup di level Rp 17.877 per dolar Amerika Serikat (AS). Ini membuat rupiah melemah 0,09% dibandingkan dengan penutupan hari sebelumnya yang berada di Rp 17.861 per dolar AS.
Baca Juga: Ekspor Batubara Melambat, Saham Jasa Tambang Ini Tetap Berpotensi Cuan
Chief Analyst Doo Financial Futures, Lukman Leong menjelaskan, sepanjang Agustus 2026, sejumlah mata uang Asia seperti rupiah, yuan China (CNY), won Korea Selatan (KRW), dolar Taiwan (TWD), dolar Singapura (SGD), dan baht Thailand (THB) tercatat menguat dengan tingkat yang berbeda-beda.
Ada pun, ringgit Malaysia (MYR) dan peso Filipina (PHP) cenderung bergerak datar.
“Selain faktor global, investor memperhatikan faktor domestik masing-masing negara, terutama perbedaan suku bunga, kebijakan bank sentral, arus modal, kondisi neraca berjalan, serta kebutuhan impor energi,” jelas Lukman kepada Kontan, Rabu (12/8/2026).
Karena itu, Lukman menekankan performa mata uang Asia sekarang lebih bersifat selektif.
Lukman menjelaskan, pelemahan yen Jepang terutama masih dipengaruhi oleh selisih suku bunga antara Amerika Serikat (AS) dan Jepang. Kondisi tersebut membuat strategi carry trade masih menarik bagi investor.
Sementara itu, won Korea Selatan juga masih menghadapi tekanan. Namun, fundamental KRW mulai menunjukkan perbaikan seiring dengan kuatnya kinerja ekspor Korea Selatan dan potensi kembali masuknya arus modal asing.
Adapun rupiah dinilai lebih sensitif terhadap pergerakan arus modal, perbedaan tingkat suku bunga, serta premi risiko Indonesia.
Berbeda dengan mata uang tersebut, yuan China relatif lebih kuat. Lukman menilai China memiliki ruang yang lebih besar untuk menjaga stabilitas mata uangnya, ditambah dengan kondisi surplus transaksi berjalan yang cukup besar.
Lebih lanjut dari sisi valuasi, Lukman berpandangan yen dan rupiah saat ini sudah berada di level yang relatif murah. Kendati demikian, Lukman menyebut belum serta-merta menjadi katalis bagi kedua mata uang untuk segera berbalik menguat.
Baca Juga: Prospek AKR Corporindo (AKRA) Solid Ditopang Bisnis JIIPE dan LNG, Intip Analisisnya
“Keduanya masih membutuhkan katalis seperti penyempitan yield differential untuk yen dan perbaikan capital flows untuk rupiah,” ujar Lukman.
Ke depan, investor valas Asia perlu mencermati sejumlah indikator utama. Di antaranya inflasi dan kebijakan The Federal Reserve (The Fed), imbal hasil obligasi pemerintah AS, harga minyak, kebijakan bank sentral Asia, serta perkembangan arus modal dan kondisi transaksi berjalan.
Untuk akhir 2026, Lukman memproyeksikan nilai tukar dolar AS terhadap sejumlah mata uang Asia sebagai berikut: USD/JPY di level 155-165, USD/IDR bakal bertengger di Rp 17.500-Rp 18.000, USD/CNY bisa bergerak di kisaran 6,68-6,90, dan USD/KRW diproyeksi berada di level 1.350-1.450.
Terakhir Lukman bilang, apabila dolar AS melemah secara bertahap dan risiko geopolitik global mereda, yuan China dan won Korea Selatan berpeluang outperform dibandingkan mata uang Asia lainnya.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News













![[Intensive Workshop] Business Dashboard, From Excel to Power BI](https://fs-media.kontan.co.id/kstore/upload/brand_images/brand_images_22072614202900.jpg)
