Reporter: Dimas Andi | Editor: Avanty Nurdiana
KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Perlambatan volume ekspor batubara kemungkinan tidak akan menghalangi emiten-emiten jasa pertambangan untuk meraih kinerja positif sampai akhir tahun nanti.
Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat bahwa nilai ekspor batubara nasional pada periode Januari--Juni 2026 sebesar US$ 12,04 miliar atau naik tipis 0,63% year on year (yoy) dibandingkan capaian periode yang sama tahun lalu yakni US$ 11,96 miliar.
Sebaliknya, volume ekspor batubara nasional mengalami penurunan 6,37% yoy dari 172,45 juta ton pada semester I-2025 menjadi 184,20 juta ton pada semester I-2026.
Baca Juga: Prospek AKR Corporindo (AKRA) Solid Ditopang Bisnis JIIPE dan LNG, Intip Analisisnya
Equity Analyst PT Indo Premier Sekuritas (IPOT) Imam Gunadi mengatakan, penurunan volume ekspor batubara yang terjadi pada paruh pertama lalu belum menjadi sinyal negatif secara langsung bagi emiten jasa pertambangan.
Sebab, hal yang lebih penting bagi kontraktor tambang bukan hanya soal volume ekspor nasional, melainkan juga volume produksi tambang milik klien, stripping ratio, pengupasan lapisan tanah atau overburden removal, serta utilisasi alat berat. Lagi pula, harga atau nilai per ton batubara masih memberikan kompensasi terhadap penurunan volume yang dialami emiten jasa pertambangan.
Margin emiten jasa pertambangan pun dinilai masih relatif terjaga selama harga batubara tetap tinggi dan aktivitas produksi klien tidak mengalami penurunan signifikan.
Namun, perlu diingat bahwa margin tidak hanya ditentukan oleh harga batubara. Kenaikan biaya operasional, terutama bahan bakar, maintenance, suku cadang dan depresiasi alat berat, tetap menjadi komponen yang krusial bagi emiten jasa pertambangan.
"BPS sendiri mencatat harga produsen sektor pertambangan dan penggalian naik 8,03% quarter on quarter (qoq) pada kuartal II-2026, dengan subsektor batubara dan lignit naik 8,35%," ungkap dia, Rabu (12/8/2026).
Imam memperkirakan prospek kinerja emiten jasa pertambangan cukup positif pada semester II-2026, namun bakal lebih selektif. Salah satu faktor penopangnya adalah permintaan batubara dari China yang relatif tetap kuat dalam jangka pendek.
Tingginya permintaan batubara dari China dapat menopang harga dan menjaga keekonomian produksi tambang, sehingga pada akhirnya mendukung aktivitas pekerjaan kontraktor tambang. "Namun, kenaikan impor batubara dari China tidak seluruhnya mencerminkan pertumbuhan permintaan struktural," katanya.
Investment Analyst Infovesta Utama Ekky Topan mengatakan, prospek sektor jasa pertambangan masih cukup positif pada paruh kedua tahun ini, namun lebih selektif. Risiko terbesar bagi emiten justru berasal dari volume pekerjaan, terutama jika pemerintah mempertahankan kebijakan pengetatan produksi melalui RKAB.
Baca Juga: Rugi XLSMART (EXCL) Susut Jadi Rp 994 Miliar, Analis: Ada Sinyal Positif Usai Merger
Dampak kebijakan ini sudah terlihat pada PT Pamapersada Nusantara (PAMA), anak usaha PT United Tractors Tbk (UNTR), yang mana volume overburden mereka turun 10% pada semester I-2026. Bersamaan dengan itu, produksi batubara klien juga turun 3% mengikuti penyesuaian RKAB.
"Pemerintah sendiri memang menggunakan penyesuaian RKAB untuk mengendalikan oversupply dan menjaga harga komoditas," terang dia, Rabu (12/8).
Ekky melanjutkan, upaya diversifikasi ke komoditas mineral lain tetap penting bagi emiten jasa pertambangan, terutama emas, tembaga, dan nikel. Emiten juga bisa menjajal bisnis engineering, procurement, & construction (EPC) dan infrastruktur pertambangan.
Tujuan diversifikasi ini bukan hanya mengejar pertumbuhan, melainkan juga mengurangi ketergantungan terhadap siklus batubara. Meski begitu, ekspansi tetap perlu dilakukan selektif, mengingat komoditas seperti nikel juga menghadapi ketidakpastian kuota RKAB.
Di luar harga komoditas, sentimen yang perlu diperhatikan oleh emiten jasa pertambangan antara lain realisasi RKAB, dinamika cuaca, harga bahan bakar, pergerakan kurs, stripping ratio, perolehan kontrak baru, dan utilisasi alat berat.
Menurut Ekky, emiten yang berpotensi unggul kinerjanya hingga akhir tahun nanti adalah mereka yang memiliki kontrak jangka panjang dengan visibilitas volume yang baik, basis pelanggan dan komoditas yang terdiversifikasi, utilitas alat berat tinggi, dan neraca yang sehat.
"Kemampuan melakukan efisiensi biaya dan memperoleh kontrak dengan mekanisme penyesuaian tarif terhadap kenaikan biaya bahan bakar menjadi penting," tutur dia.
Pilihan utama Ekky adalah saham UNTR dengan rekomendasi beli dan target harga sekitar Rp 27.700 per saham sampai Rp 30.000 per saham. Di samping itu, saham PT Darma Henwa Tbk (DEWA) juga menarik namun lebih agresif dengan target harga sekitar Rp 670--Rp 700 per saham.
Baca Juga: Kinerja Prodia (PRDA) & Proline (PRDL) Berbeda, Ini Prospeknya pada Semester II-2026
PT Samindo Resources Tbk (MYOH) juga menarik untuk dicermati dari sisi valuasi dan dividen, meski pertumbuhannya relatif lebih terbatas. Sebaliknya, saham PT BUMA Internasional Grup Tbk (DOID) masih wait and see.
Imam turut merekomendasikan hold saham UNTR dengan target harga di level Rp 28.500 per saham. Target tersebut terutama didukung oleh prospek pemulihan bisnis kontraktor tambang PAMA yang menjadi salah satu penopang utama kinerja UNTR.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News













![[Intensive Workshop] Business Dashboard, From Excel to Power BI](https://fs-media.kontan.co.id/kstore/upload/brand_images/brand_images_22072614202900.jpg)
