kontan.co.id
banner langganan top
| : WIB | INDIKATOR |
  • EMAS 1.836.000   17.000   0,93%
  • USD/IDR 16.565   0,00   0,00%
  • IDX 6.511   38,26   0,59%
  • KOMPAS100 929   5,57   0,60%
  • LQ45 735   3,38   0,46%
  • ISSI 201   1,06   0,53%
  • IDX30 387   1,61   0,42%
  • IDXHIDIV20 468   2,62   0,56%
  • IDX80 105   0,58   0,56%
  • IDXV30 111   0,69   0,62%
  • IDXQ30 127   0,73   0,58%

Manajer investasi kesulitan mencari aset dasar reksadana terproteksi


Rabu, 13 Maret 2019 / 23:05 WIB
Manajer investasi kesulitan mencari aset dasar reksadana terproteksi


Reporter: Danielisa Putriadita | Editor: Wahyu T.Rahmawati

KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Para manajer investasi melihat minat investor untuk berinvestasi di reksadana terproteksi masih tinggi. Namun, mereka mengaku sulit mendapatkan surat utang yang bisa dijadikan aset dasar atau underlying asset reksadana terproteksi dengan imbal hasil menarik.

Hal tersebut menerangkan penyebab terkoreksinya dana kelolaan reksadana terproteksi. Berdasarkan data Infovesta Utama, per Februari 2019, dana kelolaan reksadana terproteksi turun Rp 570 miliar secara bulanan menjadi Rp 132,46 triliun.

Head of Fixed Income Fund Manager Prospera Asset Management Eric Sutedja mengatakan, minat investor terhadap reksadana terproteksi masih tinggi. Tetapi para manajer investasi terganjal sulitnya mencari underlying asset setelah medium term notes (MTN) sudah tidak bisa dijadikan aset oleh Otoritas Jasa Keuangan (OJK).

Senada, Direktur Bahana TCW Investment Management Soni Wibowo menambahkan, minat terhadap rekasana terproteksi masih ada, tetapi untuk mencari obligasi korporasi untuk dijadikan underlying agak sulit. "Belum banyak perusahaan yang memiliki rating bagus mau mengeluarkan surat utang saat ini, kebanyakan mereka menunggu pemilu usai," kata Soni, Selasa (12/3).

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News


Survei KG Media

TERBARU
Kontan Academy
Supply Chain Management on Procurement Economies of Scale (SCMPES) Brush and Beyond

[X]
×