Reporter: Dimas Andi | Editor: Avanty Nurdiana
KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Emiten pengembang energi terbarukan panas bumi, PT Pertamina Geothermal Energy Tbk (PGEO) membukukan kinerja keuangan yang positif hingga akhir semester I-2026.
Dalam laporan keuangan di Bursa Efek Indonesia (BEI), PGEO mencatat pertumbuhan pendapatan sebesar 14,73% year on year (yoy) menjadi US$ 235,03 juta pada semester I-2026.
Mayoritas pendapatan PGEO pada semester I-2026 berasal dari penjualan uap dan listrik sebanyak US$ 225,72 juta. Selain itu, PGEO juga mencatat pendapatan berupa production allowance ke pihak ketiga sebesar US$ 9,31 juta.
Baca Juga: Rupiah Spot Jebol Rp 18.100 per Dolar AS Kamis (30/7), JISDOR BI Justru Menguat
Bersamaan dengan itu, beban pokok pendapatan dan beban langsung lainnya PGEO meningkat 24,26% yoy menjadi US$ 104,59 juta pada semester I-2026, dari sebelumnya yakni US$ 84,20 juta.
Hingga akhir semester I-2026, PGEO mengantongi laba bersih tahun berjalan yang dapat diatribusikan kepada pemilik entitas induk sebesar US$ 79,62 juta atau meningkat 15,46% yoy.
Kepala Riset Korea Investment & Sekuritas Indonesia (KISI) Muhammad Wafi mengatakan, pertumbuhan kinerja PGEO pada paruh pertama 2026 didorong oleh dua faktor utama, yaitu kenaikan produksi seiring beroperasinya proyek panas bumi secara penuh dan kontrak Power Purchasing Agreement (PPA) dengan PLN berbasis dolar Amerika Serikat (AS) yang memberi natural hedging bagi perusahaan.
"Pendapatan dalam dolar AS terjaga, sedangkan sebagian biaya operasional dalam rupiah justru relatif lebih murah. Ini keuntungan struktural PGEO yang sering luput dari apresiasi," ungkap dia Rabu (28/7).
Wafi melanjutkan, prospek PGEO pada semester II-2026 tergolong konstruktif. Sentimen positif bagi PGEO berasal dari kontrak PPA jangka panjang dengan PT PLN yang memberi visibilitas arus kas independen dari volatilitas harga minyak atau kenaikan suku bunga acuan Bank Indonesia (BI).
Selain itu, dukungan dari Grup Pertamina juga memberikan akses pendanaan yang lebih terjangkau bagi PGEO. Emiten ini juga diuntungkan oleh permintaan energi panas bumi dari sektor data center yang mulai muncul.
Sebaliknya, sentimen negatif yang dapat memengaruhi kinerja PGEO pada sisa tahun ini salah satunya adalah kenaikan suku bunga BI yang dapat meningkatkan cost of fund di tengah tingginya kebutuhan capital expenditure (capex). Risiko penundaan proses konstruksi proyek pembangkit panas bumi juga patut diwaspadai oleh PGEO.
Baca Juga: Penjualan Logam Timah TINS Dorong Siklus Super Laba, Cek Rekomendasi Sahamnya
Oleh karena itu, strategi utama yang perlu diperkuat oleh PGEO adalah disiplin eksekusi capex mengingat industri panas bumi termasuk sektor yang padat modal dan proses drilling memiliki tingkat risiko kegagalan yang tinggi. PGEO juga perlu mengoptimalkan momentum menguat permintaan energi panas bumi dari operator-operator data center.
"PGEO perlu pertahankan rasio hedging yang optimal antara pendapatan dolar AS dan struktur biaya rupiah," imbuh dia.
Wafi menyebut saham PGEO layak dipertimbangkan investor mengingat statusnya sebagai salah satu emiten energi terbarukan paling defensif di Indonesia. Dia masih meninjau target harga untuk saham PGEO.
Sementara itu, Research Analyst MNC Sekuritas Christian Sitorus mempertahankan rekomendasi beli untuk saham PGEO dengan target harga di level Rp 1.540 per saham seiring dengan proyeksi enterprise value (EV)/EBITDA di level 7,6 kali pada 2026.
"Sikap positif kami didukung oleh pendapatan berulang yang tangguh, faktor kapasitas yang konsisten tinggi, dan visibilitas pertumbuhan jangka panjang yang meningkat yang didukung oleh basis sumber daya PGEO sebesar 3 gigawatt (GW)," pungkas dia dalam riset tertanggal 26 Mei 2026.
Baca Juga: Danantara Siapkan 200.000 Unit Rumah di Housing Expo 2026, Uang Muka Mulai 1%
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News














