Reporter: Vivit Dewi | Editor: Herlina Kartika Dewi
KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Harga paladium masih mencatat koreksi secara mingguan dan bulanan, meski sempat menguat pada perdagangan terakhir pekan lalu. Di tengah pergerakan tersebut, prospek paladium menghadapi tantangan dari perubahan industri otomotif menuju kendaraan listrik.
Berdasarkan data Trading Economics, harga paladium ditutup di US$ 1.324 per ons troi pada Jumat (11/9/2026). Harga tersebut menguat 2,24% secara harian, tetapi masih turun 5,70% dalam sepekan dan 3,64% dalam sebulan.
Analis Komoditas sekaligus Founder Traderindo.com, Wahyu Laksono mengatakan, prospek paladium masih sangat bergantung pada perkembangan industri otomotif. Peralihan dari kendaraan bermesin pembakaran internal menuju kendaraan listrik menjadi salah satu tantangan utama bagi permintaan paladium dalam jangka panjang.
Baca Juga: Chandra Asri (TPIA) Kejar Penyelesaian Akuisisi Cycle & Carriage
“Paladium menghadapi tantangan struktural dari penetrasi kendaraan listrik baterai (BEV), karena kendaraan listrik tidak membutuhkan catalytic converter yang selama ini menjadi salah satu penggunaan utama paladium,” ujar Wahyu kepada Kontan, Jumat (11/9/2026).
Menurut dia, perubahan tersebut berpotensi menekan permintaan paladium dari sektor otomotif secara bertahap. Kondisi ini membuat prospek paladium berbeda dengan platinum yang masih memiliki peluang mendapat tambahan permintaan.
“Platinum justru berpotensi diuntungkan dari substitusi paladium, selain perkembangan teknologi hydrogen fuel cell,” jelas Wahyu.
Baca Juga: Agenda FOMC Jadi Sorotan, Cermati Arah Pergerakan IHSG ke Depan
Wahyu memperkirakan harga paladium berada dalam rentang US$ 1.100-US$ 1.800 per ons troi hingga akhir 2026. Adapun level support berada di US$ 1.200-US$ 1.150, sedangkan resistance di US$ 1.500-US$ 1.600.
Peralihan menuju kendaraan listrik pun menjadi faktor yang perlu diperhatikan investor dalam melihat prospek paladium, terutama karena sektor otomotif masih menjadi penopang utama permintaannya.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News














